Beranda » Manajemen Keuangan » PROSEDUR PEMBERIAN KREDIT

PROSEDUR PEMBERIAN KREDIT

Pengelola Blog

Nama: Tatang, S.St.Pi
Bekerja Pada Pusat Penyuluhan KP
Badan Pengembangan SDM KP
Kementerian Kelautan dan Perikanan

Arsip Artikel

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 16 pengikut lainnya.


Oleh: Tatang, S.St.Pi.

  1. A.   Gambaran Umum

Prosedur pemberian kredit dan penilaian kredit oleh dunia perbankan secara umum antar bank yang satu dengan yang lain tidak jauh berbeda. Yang menjadi perbedaan mungkin hanya terletak dari bagaimana tujuan bank tersebut serta persyaratan yang ditetapkannya dengan pertimbangan masing-masing.

  1. B.   Prosedur Pemberian Kredit

Prosedur pemberian dan penilaian kredit oleh perbankan pada umumnya tidak jauh berbeda. Perbedaannya terletak pada persyaratan yang ditetapkan dan pertimbangan masing-masing.

Prosedur pemberian kredit adalah sebagai berikut:

  1. Pengajuan berkas-berkas

Pengajuan proposal kredit hendaklah berisi antara lain: (a) latar belakang perusahaan/kelompok usaha; (b) maksud dan tujuan; (c) besarnya kredit dan jangka waktu; (d) cara pengembalian kredit; dan (e) jaminan kredit.

  1. Pemeriksaan berkas-berkas

Untuk mengetahui apakah berkas pinjaman yang diajukan sudah lengkap sesuai persyaratan dan sudah benar. Jika belum lengkap atau cukup, maka nasabah diminta untuk segera melengkapinya dan apabila sampai batas waktu tertentu nasabah tidak sanggup melengkapi kekurangannya, maka permohonan kreditnya dapat dibatalkan.

  1. Wawancara I

Merupakan penyelidikan kepada calon peminjam dengan langsung berhadapan dengan calon peminjam.

  1. On the Spot

Merupakan kegiatan pemeriksaan ke lapangan dengan meninjau berbagai obyek yang akan dijadikan usaha atau jaminan. Kemudian hasilnya dicocokkan dengan hasil wawancara I.

  1. Wawancara II

Merupakan bagian perbaikan berkas, jika mungkin ada kekurangan pada saat setelah dilakukan on the spot di lapangan.

  1. Penilaian dan analisis kebutuhan modal

Merupakan kegiatan yang dilakukan dalam rangka menilai kebutuhan kredit yang sebenarnya.

  1. Keputusan Kredit

Keputusan kredit dalam hal ini adalah menentukan apakah kredit akan diberikan atau ditolak, jika diterima, maka dipersiapkan administrasinya.

  1. Penandatanganan akad kredit/perjanjian lainnya

Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari diputuskannya kredit, maka sebelum kredit dicairkan terlebih dahulu calon nasabah menandatangani akad kredit.

  1. Realisasi Kredit

Diberikan setelah penandatanganan surat-surat yang diperlukan dengan membuka rekening giro atau tabungan di bank yang bersangkutan.

10. Penyaluran/Penarikan

Adalah pencairan atau pengambilan uang dari rekening sebagai realisasi dari pemberian kredit dan dapat diambil sesuai ketentuan dan tujuan kredit.

11. Penilaian Kredit

Sebelum suatu fasilitas kredit diberikan maka bank harus merasa yakin bahwa kredit yang diberikan benar-benar akan kembali.

  1. C.   Pengertian Studi Kelayakan Usaha

Analisis Kelayakan Usaha atau disebut juga feasibility study adalah kegiatan untuk menilai sejauh mana manfaat yang dapat diperoleh dalam melaksanakan suatu kegiatan usaha. Hasil analisis ini digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan, apakah menerima atau menolak dari suatu gagasan usaha. Pengertian layak dalam penelitan ini adalah kemungkinan dari gagasan suatu usaha yang akan dilaksanakan dapat memberikan manfaat dalam arti finansial maupun sosial benefit. Dengan adanya analisis kelayakan ini diharapkan resiko kegagalan dalam memasarkan produk dapat dihindari.

  1. D.   Tujuan Analisis Kelayakan

Tujuan analisis kelayakan usaha antara lain sebagai berikut :

  • Mengetahui tingkat keuntungan terhadap alternatif investasi.
  • Mengadakan penilaian terhadap alternatif investasi.
  • Menentukan prioritas investasi, sehingga dapat dihindari investasi yang hanya memboroskan sumber daya.
  1. E.    Keperluan Untuk Penyusunan Studi Kelayakan
    1. Untuk setiap permohonan kredit investasi untuk jumlah tertentu, disamping nasabah harus menyampaikan Project proposal, juga harus menyampaikan feasibility study, yang disusun atau dibuat oleh salah satu kantor konsultan yang ditunjuk oleh bank.
    2. FS tidak saja diminta pada saat pengajuan kredit baru, tetapi juga untuk kredit kredit yang sedang berjalan sepanjang bank menilai bahwa atas suatu proyek yang telah mendapat pembiayaan kredit diperlukan FS.
    3. Pada umumnya biaya penyusunan/pembuatan FS ditanggung oleh nasabah.
  2. F.    Tahap-tahap Analisis Kelayakan Usaha

Dalam mengadakan penilaian terhadap suatu proyek yang akan dibiayai, isi kelayakan usaha haruslah selengkap mungkin mencerminkan keadaan proyek yang sebenarnya sehingga bank benar benar meyakini bahwa proyek yang akan dibiayai feasible dan kredit yang diberikan cukup terjamin keadaannya.

Hal tersebut dimaksudkan agar bank dapat lebih mudah/cepat dalam pelaksanaan penilaian data dan pengambilan keputusan . Untuk keperluan tersebut, maka dalam FS perlu dimuat /dicantumkan aspek aspek yang ada hubungannya, baik yang berada didalam perusahaan maupun di luar perusahaan itu sendiri.

Analisis kelayakan usaha mencakup beberapa aspek antara lain: aspek pasar, aspek teknis dan operasional, aspek finansial dan aspek lingkungan serta aspek legal. Analisis kelayakan usaha yang disusun merupakan pedoman kerja, baik dalam penanaman investasi, pengeluaran biaya, cara produksi, cara melakukan pemasaran dan cara memperlakukan lingkungan organisasi. Dalam kenyataannya tidak semua aspek harus diteliti, hanya aspek yang benar-benar dibutuhkan saja yang perlu dianalisis untuk dibahas lebih lanjut. Aspek-aspek tersebut antara lain:

  1. a.    Aspek Hukum / Legalitas

Bentuk Kontribusi :

  1. Memilih Bentuk Usaha yang paling tepat sesuai dengan tujuan organisasi.
  2. Menilai apakah usaha yang akan dijalankan melanggar ketentuan UU atau peraturan yang berlaku.
  3. Menentukan prosedur pendirian.

Manfaat analisa aspek Hukum adalah untuk menilai legalitas usahanya (bentuk badan hukum usahanya, perijinan), legalitas pengajuan kreditnya dan legalitas agunan yang akan digunakan

  1. b.   Aspek Manajemen

Bentuk Kontribusi :

  1. Struktur Organisasi.
  2. Analisis pekerjaan.
  3. Analisis jabatan.
  4. Proses rekrutmen.
  5. Teknik pemberian kompensasi.

Manfaat analisa Aspek Manajemen adalah untuk menilai bentuk organisasi yang paling tepat, menentukan manajemen proyek maupun manajemen bisnis.

  1. c.    Aspek Teknis dan Produksi

Bentuk Kontribusi :

  1. Pemilihan desain produk yang akan diproduksi.
  2. Penghitungan Kapasitas Perusahaan.
  3. Pemilihan mesin dan teknologi serta peralatan yang akan digunakan.
  4. Penentuan lokasi usaha.
  5. Penentuan proses produksi dan layout pabrik yang dipilih, termasuk layout bangunan dan fasilitas lain.
  6. Penghitungan skala produksi yang ekonomis.

Manfaat analisa aspek Teknis & Produksi adalah untuk menilai apakah kegiatan produksi dapat dilakukan secara efisien dan efektif.

  1. d.    Aspek Sosial dan Lingkungan

Bentuk Kontribusi :

  1. Dampak pencemaran lingkungan (AMDAL)
  2. Penyerapan tenaga kerja.
  3. 3.   Dampak social.

Manfaat analisa Aspek Sosial Dan Lingkungan  adalah untuk menilai dampak pencemaran dan pengaruhnya terhadap kondisi sosial masyarakat.

  1. e.    Aspek Pemasaran

Bentuk Kontribusi :

  1. Menganalisis permintaaan dan penawaran.
  2. Mencari & menghitung pasar potensial, permintaan potensial & permintaan efektif, segmen pasar.
  3. Menganalisis persaingan
  4. Memilih strategi pemasaran yang tepat
  5. Menentukan strategi generik.

Manfaat analisa aspek pemasaran adalah untuk menentukan dan menilai apakah produk yang akan dihasilkan dapat diserap/diterima oleh pasar (marketable).

  1. f.     Aspek Keuangan

Bentuk Kontribusi :

  1. Menentukan Modal kerja.
  2. Menentukan modal investasi.
  3. Menilai arus kas.
  4. Membuat proyeksi laba-rugi dan neraca perusahaan.
  5. Mengetahui tingkat pengembalian modal.
  6. Mengetahui profitabilitas, likuiditas, dan rentabilitas usaha yang akan dijalankan.

Manfaat analisa aspek Keuangan adalah untuk menilai kelayakan aspek keuangan, apakah menguntungkan atau tidak.

  1. G.   Contoh Komponen Penulisan Studi Kelayakan Usaha

BAB I Pendahuluan

-        Potensi Kelautan Nasional

-        Kendala Umum Sektor Perikanan

-        Tujuan Perusahaan

BAB II Aspek Hukum / Legalitas

-        Pendirian Badan Usaha

-        Perijinan / Legalitas

BAB III Aspek Teknis dan Produksi

-        Jenis-Jenis Produk (Ikan Kerapu)

-        Pembesaran dan Syarat Lokasi Keramba

-        Pembuatan Rakit sampai penebaran bibit kerapu

-        Pengendalian Hama dan Penyakit

-        Panen dan Penanganan Hasil

BAB IV Aspek Pemasaran

-        Peluang Pasar

-        Situasi Persaingan Dalam Pemasaran

BAB V Aspek Keuangan

-        Penjelasan Umum

-        Biaya Proyek

-        Rincian Biaya Investasi

-        Kebutuhan Modal Kerja

-        Struktur Pembiayaan Proyek

-        Proyeksi Laba-Rugi

-        Proyeksi Arus Kas

-        Proyeksi Neraca

-        Analisis Kelayakan Investasi : NPV, IRR, BC Ratio, Payback Period dan BEP

-        Analisis Kinerja Keuangan : Rasio Profitabilitas, Rasio Likuiditas, Rasio Solvabilitas

BAB V.  Kesimpulan

-        Berdasarkan analisa data, informasi dan estimasi, terhadap semua aspek yang dianggap relevan dalam penyusunan studi kelayakan proyek yang akan dibiayai, dapat disampaikan suatu kesimpulan, antara lain :

-        Apakah proyek itu layak atau tidak layak  dibiayai.

Kalau layak, perlu disampaikan suatu pernyataan tentang: (1) Prospek usaha; (2) Kontribusi kepada Pemerintah; (3) Kontribusi kepada lingkungan; (4) Ratio-ratio pendukung; (5) Kebutuhan Kredit; (6) Jangka waktu kredit yang dibutuhkan, termasuk GP; (7) Cara pembayaran / pengembalian kredit; (8) Jaminan yang disediakan; dll.

  1. H.   Usaha yang Bankable

Lembaga keuangan/bank adalah sumber modal terbesar yang dapat dimanfaatkan oleh UMKM. Namun untuk bermitra dengan bank, usaha kecil dituntut menyajikan proposal usaha yang feasible atau layak usaha dan menguntungkan. Disamping itu lembaga keuangan bank mensyaratkan usaha kecil harus bankable atau dinilai layak oleh bank untuk mendapatkan kredit. Beberapa prinsip untuk mewujudkan usaha yang bankable adalah sebagai berikut:

  1. a.    Prinsip-prinsip 5 C

Untuk dapat melaksanakan kegiatan perkreditan secara sehat, dikenal adanya prinsip-prinsip perkreditan (5 C) yaitu :

  1. Character

Karakter adalah watak/sifat dari debitur, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam lingkungan usaha. Kegunaannya untuk mengetahui sampai sejauh mana tingkat kejujuran, integritas serta itikad debitur untuk memenuhi kewajiban sesuai perjanjian yang telah ditetapkan.

  1. Capacity

Adalah kemampuan nasabah dalam menjalankan usahanya guna memperoleh laba yang diharapkan. Kegunaannya untuk mengukur sampai sejauh mana nasabah mampu melunasi hutang-hutangnya secara tepat waktu dari kegiatan usahanya

  1. Capital

Dilihat dari kemampuan untuk menyediakan modal sendiri/self financing sampai jumlah tertentu

  1. Collateral

Adalah barang-barang yang diserahkan nasabah sebagai agunan terhadap kredit yang diterimanya.  Bentuk Jaminan :

a. Jaminan Kebendaan  : Jaminan utama dan Jaminan Tambahan

b. Jaminan dari Pihak Ketiga

  1. Condition of social, economy and environment

Adalah situasi dan kondisi politik, sosial, ekonomi dan budaya yang mempengaruhi keadaan perekonomian pada suatu saat yang kemungkinannya mempengaruhi kelancaran usaha nasabah.

  1. Constraint

Yakni batasan-batasan atau hambatan-hambatan yang tidak memungkinkan seseorang melakukan business di suatu tempat.

  1. b.   Prinsip 7 P
  1. Personality;  kepribadian, tingkah laku
  2. Party;  klasifikasi/golongan
  3. Purpose;  tujuan ambil kredit
  4. Prospect;  menilai usaha masa yang akan datang
  5. Payment;  bgmn pengembalian
  6. Profitability;  kemampuan cari laba
  7. Protection;  menjaga dgn perlindungan

  1. c.    Prinsip 3 R
  2. Return (kembali); modal dan laba dpt kembali ke pengusaha.
  3. Repayment (pembayaran); kemampuan, kesanggupan, keinginan mengembalikan
  4. Risk (risiko); antisipasi terjadi risiko gagal
    1. d.    Analisa Ratio Keuangan dalam Perkreditan

Analisa ratio keuangan dalam penilaian kredit, antara lain berupa:

  1. Analisa Keuangan :
  1. ROI    (return on investment)
  2. NPV   (net present value)
  3. B/C Ratio   (benefit cost ratio)
  4. IRR    (internal rate of return)
  5. BEP   (break even point )
  1. Ratio Likuiditas : kemampuan memenuhi kewajiban jangka pendek

Current Ratio (%) = Aktiva Lancar/Hutang Lancar x 100%

Net Working Capital = Aktiva Lancar – Hutang Lancar

  1. Ratio Profitabilitas : kemampuan menghasilkan keuntungan

Gross Profit Margin (%) = Laba Kotor/Penjualan x 100%

Net Profit Margin (%) = Laba Bersih/Penjualan x 100%

Return on Asset (%) = Laba Bersih/Total Asset x 100%

Return On Equity (%) = Laba Bersih/Total Modal x 100%

  1. Ratio Solvabilitas : kemampuan untuk melunasi hutang

Debt Equity Ratio (DER) = Hutang / Modal x 100%

  1. Ratio Aktivitas : untuk melihat aktivitas usaha nasabah

Perputaran Inventory (ITO) = Persediaan/Penjualan x 360 hr

     Perput. Piutang Dagang (ARTO) = Piutang/Penjualan x 360 hr

Perput. Hutang Dagang (APTO) = Hutang/Penjualan x 360 hr

Trade Cycle/Siklus Usaha (TC) =  ITO + ARTO – APTO

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: