Beranda » Teknologi Perikanan Budidaya » MENGENAL IKAN GOLONGAN KARPER CINA

MENGENAL IKAN GOLONGAN KARPER CINA

Pengelola Blog

Nama: Tatang, S.St.Pi
Bekerja Pada Pusat Penyuluhan KP
Badan Pengembangan SDM KP
Kementerian Kelautan dan Perikanan

Arsip Artikel

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 17 pengikut lainnya.


MENGENAL IKAN GOLONGAN KARPER CINA

SEBAGAI IKAN TROPIK LEVEL RENDAH DAN PEMBASMI GULMA AIR DI WADUK CIRATA PROVINSI JAWA BARAT

 Oleh :

Genta Fabiyanto, S.St.Pi  ) *

Tatang, S.St.Pi ) **

I.      PENDAHULUAN

 Kelompok ikan karper Cina terdiri dari 4 jenis yaitu: ikan mas (Common carp), ikan mola           (Silver carp), Bighead (bighead carp), dan karper rumput (grass carp). Ke empat jenis karper ini berasal dari Cina; dimana ikan mas sudah lama di budidayakan terutama di Jawa Barat dan masuk ke Indonesia sejak abad kedelapan belas. Sedangkan ikan mola bighead dan grass carp masuk ke Indonesia pada tahun 70 an dan sampai saat ini di budidayakan secara terbatas hanya sebagai hobi atau koleksi semata.

Ketiga jenis ikan ini belum bisa dikembangbiakan secara alami, tidak seperti halnya ikan mas, tetapi harus melalui pemijahan buatan(kawin suntik). Ketiga jenis ikan ini hanya dapat berkembang biak secara alami di tempat asalnya yaitu di perairan Sungai Yantze di daerah Kwangsi dan Kwangtung; Cina bagian selatan dan tengah serta di sungai Amur Rusia, diluar daerah tersebut harus pemijahan buatan.

Sementara itu perkembangan budidaya ikan secara intensif dalam bentuk kolam jaring terapung di perairan waduk atau danau berkembang cepat. Di Jawa Barat perkembangan jaring terapung sangat fantastik seperti di Waduk Saguling tercatat 4.250 petak kolam jaring terapung ukuran 7 x 7 x 2,5 M, di Cirata 51.000 petak dan di waduk Jatiluhur tercatat lebih dari 39.000 petak. Namun kondisi ini menimbulkan masalah terhadap lingkungan perairan dalam bentuk sedimentasi dan pencemaran. Kondisi dapat mengganggu terhadap fasilitas pembangkit listrik yang menyebabkan umur ekonomis waduk berkurang dari target yang telah di tetapkan.  Selain itu masalah tersebut akan mengganggu terhadap kelangsungan usaha budidaya ikan di waduk tersebut. Pada tahun 2001 terjadi kematian ikan budidaya di waduk Cirata sebagai akibat blooming plankton, sehingga terjadi kematian massal plankton yang berakibat berkurangnya oksigen dalam perairan budidaya serta menyebabkan ratusan ton ikan mati.

 Dari aspek ekonomi ketiga jenis ikan ini memiliki prospek yang baik karena biaya produksi persatuan berat jauh lebih rendah dibanding jenis ikan budidaya lainnya seperti ikan mas, patin, bawal yang dalam pemeliharaannya sangat bergantung kepada pakan buatan. Sedangkan tiga jenis ikan tersebut selain pakan buatan / komersil mereka juga mengkonsumsi pakan alami seperti ikan mola memakan phyto plankton, ikan bighead memakan zoo plankton dan grass carp memakan rumput – rumputan.

Ketiga jenis ikan ini dapat di budidayakan secara monokultur maupun polykultur dengan jenis ikan lainnya baik di kolam air tenang maupun di KJA di waduk dimana kelimpahan pakan alami sangat melimpah sebagai salah satu akibat adanya budidaya intensif. Ketiga jenis ikan ini menurut ahli perikanan dapat membantu menjaga keseimbangan ekosistem perairan bila dibudidayakan diwaduk dalam jaring terapung secara polykultur atau ditebar bebas ke perairan waduk.

  II.      MENGENAL KARPER CINA  

 2.1.  Ikan Mola ( Silver Carp )

 Ikan mola ( Hypophtalmichthys molitrix ) seperti telah di jelaskan pada bab.I berasal dari daratan Cina dan masuk ke Indonesia pada tahun ’70 an oleh Lembaga Penelitian Perikanan Darat ( LPPD ) Bogor dan kemudian oleh swasta. Ikan mola di tempat asalnya dapat memijah secara alami selama periode bulan April – Juli pada air mengalir sesuai habitatnya. Di sungai Thone, Jepang ikan mola juga dapat memijah secara alami pada sekitar bulan Juni – Juli. Namun diluar daerah tsb diatas ikan mola tidak dapat mimijah secara alami dan harus melalui pemijahan buatan. Ikan ini mulai dapat dipijahkan tergantung umur dan daerah pengembangannya. Menurut Kuronoma (1988) di Cina bagian selatan ikan berumur   2 – 3 tahun dengan berat 2 5 kg. di Cina Tengah umur 4 – 5 tahun dengan berat 2 – 5 kg, diCina bagian utara umur 5 – 6 tahun dengan berat 2 – 5 kg, di Negara Rumania umur 6 – 9 tahun dengan berat 6 – 8 kg dan di Indonesia umur 2 – 3 tahun dengan berat 3 – 5 kg ( Effendi.P 2000 ). Di Indonesia pengembang biakan ikan mola hanya dilakukan oleh Institusi Pemerintah ( Balikanwar, BBBAT,BBI ) dengan tujuan penelitian dan uji coba; sedang beberapa petani mencoba dijaring apung hanya sekedar hobby dan koleksi . Pada tahun 1987 pernah dilakukan penebaran ikan mola bersama jenis ikan lainnya di waduk Saguling, namun sayangnya monitoring perkembangan ikan yang ditebar tidak dilakukan; sehingga perkembangan dan dampak dari penebaran tersebut tidak nampak.

Hasil pengamatan dilapangan ikan mola menunjukkan pertumbuhan yang tinggi dari sejak ukuran kebul sampai ikuran konsumsi baik di pelihara di kolam air tenang maupun di KJA di waduk yang penting ketersediaan pakan alami yang cukup. Sebagai perbandingan pertumbuhan ikan mola di Negara asalnya yang beriklim sub tropis, menunjukkan bahwa pertumbuhan tertinggi ikan mola yaitu pada umur 10 hari pertama dapat mencapai panjang 19 mm dengan berat 0,09 gr menjadi 47 mm panjang dan berat 1,1 gr dalam 20 hari, dan mencapai 17 cm panjang dan berat 5,5 gr dalam 60 hari,  pertumbuhan berat rata-rata 0,01 – 0,02 gr / hari pada 10 hari pertama dan 4,2 gr perhari selama ukuran fingerling. Perkembangan panjang badan yang paling tinggi yaitu pada umur tahun kedua dan pertumbuhan berat pada tahun ketiga. Tingkat pertumbuhan baik panjang maupun berat akan menurun setelah tahun ketiga. Tingkat pertumbuhan baik panjang maupun berat akan menurun setelah tahun ketiga. Menurut Chang 1983,  panjang dan berat ikan mola pada tingkat budidaya tertentu adalah sbb:

Umur ( Thn )

Panjang badan ( cm )

Berat ( gr )

 

2

3

4

5

50

57,6

60,3

63

1.803

4.650

5.340

6.400

Di Negara Nepal di kaki gunung Himalaya pertumbuhan karper Cina dari 15 gr ke 200 gr memerlukan waktu 160 hari ( BR.Pradhan and D.Swar 1987 ) sedang di Indonesia yang beriklim tropis pertumbuhannya lebih baik lagi dari berat 100 gr dipelihara di KJA dalam waktu 1 tahun dapat mencapai berat 700 gr – 1.000 gr, dalam 2 tahun dapat mencapai berat 2,5 kg – 3 kg dan dalam 3 tahun dapat mencapai 4 kg – 6 kg.

2.2.   Bighead Carp ( Aristichthys nobilis ).

Kebiasaan hidup dan cara berkembangbiakannya tidak jauh berbeda dengan ikan mola di tempat asalnya di daratan Cina. Makanan utamanya zoo plankton ( plankton hewani ) seperti Bacillariohyceae, Flagellata, Dinoflagellata. Pertumbuhan ikan bighead dalam kondisi budidaya tertentu akan tergantung kepada padat tebar, ketersediaan pakan alami, pakan tambahan, tingkat persaingan dengan jenis ikan lainnya dalam sistim polikultur serta kondisi lingkungan. Ikan bighead mulai dapat dipijahkan tergantung umur dan daerah pengembangannya seperti berikut :

Negara / Tempat

Umur Kematangan

( thn )

Berat ( kg )

 

Cina bagian Selatan

Cina bagian Tengah

Cina bagian Timurlaut

Taiwan

Rusia

3 – 4

4 – 5

6 – 7

3 – 4

5

5 – 10

5 – 10

5 – 10

5 Keatas

5 Keatas

Sedangkan di Indonesia yang beriklim tropis ikan bighead mulai dapat dipijahkan berumur 2 – 3 tahun dengan berat 3 – 4 kg. sedikit informasi mengenai pertumbuhan benih ikan bighead dari ukuran larva sampai ukuran dewasa. Dari larva 7,5 mm panjang, berat 0,002 gr, dalam 10 hari menjadi 13 mm panjang dan berat 0,09 gr rata-rata tingkat pertumbuhan fingerling sekitar 6,3 gr/hari dan ukuran dewasa 14,7 gr / hari. Perkembangan maksimum panjang badan sama seperti pada ikan mola yaitu pada umur tahun kedua dan perkembangan berat maksimum terjadi pada tahun ketiga. Perkembangan panjang dan serta ikan bighed pada 5 tahun pertama kehidupannya pada kondisi tertentu menurut Chang ( 1983 ) adalah sbb :

Umur

( tahun )

Panjang Badan

( cm )

Berat

( kg )

 

2

3

4

5

63,0

74,6

75,1

77,8

3.250

10.700

10.900

11.800

Sedang di Indonesia perkembangan berat badannya dari tahun ketiga sampai tahun kelima tidak ada yang mencapai berat 10 kg. ukuran terbesar yang pernah tercatat seberat 8 kg.

 2.3.  Grass carp ( Ctenopharyngodon idella )

 Ikan ini hidup dialam di bagian sungai yang landai di Cina serta di bagian Tengah dan dataran rendah sungai Amur di Rusia serta telah berkembang ke berbagai negara. Di beberapa negara tujuan mengembangkan jenis ikan ini antara lain untuk dibudidayakan sebagai ikan konsumsi, pengendalian tumbuhan air di sungai, danau dan waduk . Pakan alaminya rumput, baik tanaman air maupun rumput darat, sebanyak 2,5 kali berat badannya / hari.

Pencernaan grass carp kurang sempurna sehingga setengah dari bahan makanan dikeluarkan kembali berupa kotoran yang dipercaya dapat langsung maupun tidak langsung mendukung kehidupan jenis ikan lainnya. Selain makan alami grass carp juga memakan pakan tambahan atau buatan seperti sisa dapur, dedak halus atau pellet.

Di alam grass carp dapat mencapai panjang 15 – 30 cm seberat 225 gr – 650 gr pada umur satu tahun, dan panjang 60 cm beratnya mencapai 1,8 kg – 2,3 kg dan pada tahun kedua. Setelah berumur 4 tahun beratnya mencapai 4,5 kg. di sungai Yantze umumnya bisa mencapai berat 9 kg – 13 kg dan berat maksimal yang pernah tertangkap lebih dari 20 kg. Sedang di Indonesia tepatnya di cekdam Perkebunan Ciseureuh, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur pada ketinggian 1.200 mt dpl umur tiga tahun mencapai berat 9 kg – 12 kg. Ikan grass carp mulai dapat dipijahkan sama dengan ikan mola; dan dipijahkan melalui pemijahan buatan.

 III.    ASPEK EKONOMI DAN ASPEK LINGKUNGAN

3.1.  Aspek Ekonomi

 Dalam setiap usaha apapun komoditinya,atau besar kecilnya jenis usaha pasti akan mengalami pasang surut sebagai akibat berbagai kendala yang dihadapi. Kerugian usaha sering terjadi karena berbagai factor seperti salah pengelolaan, peramalan bisnis yang salah, inflasi, resesi global dll. Menurut Effendi.P ( 2000 ) dalam budidaya ikan air tawar ada 4 faktor yang menentukan keberhasilan produksi yaitu :

-        Penggunaan benih ikan yang berkwalitas

-        Penggunaan pakan yang berkwalitas

-        Pengelolaan usaha yang benar

-        Daya dukungan lingkungan yang sehat.

Pengadaan benih yang berkwalitas masih sulit dilaksanakan karena benih sulit didapat dan kalaupun ada harganya cukup tinggi ditambah harga pakan yang berkwalitas harganya terus meningkat, harga sarana produksi lainnyapun meningkat ditambah kondisi lingkungan perairan terus menurun, upah kerja meningkat. Kondisi ini menyebabkan biaya produksi menjadi tinggi, terkadang harga jual tidak meningkat malah terkadang turun seperti pada ikan mas, patin dan bawal. Namun untuk karper Cina karena penggunaan pakan buatan tidak terlalu banyak sehubungan jenis ikan tsb memakan pakan alami seperti phyto plankton , zoo plankton dan rumput – rumputan , sehingga biaya produksi tiap jenis karper Cina ini lebih rendah dari jenis ikan budidaya lainnya. Dengan demikian mempunyai daya saingnya akan lebih tinggi dipasaran. Budidaya karper Cina dimulai dikolam air tenang di darat dengan kesuburan yang cukup sehingga kebutuhan pakan alami terpenuhi. Ukuran benih bisa dipelihara mulai ukuran 2 – 3 cm, 3 – 5 cm, 5 – 8 cm dan 8 – 12 cm. setelah itu ukuran 12 – 13 cm mulai dibesarkan di KJA sampai ukuran yang dibutuhkan konsumen. Budidaya di KJA bisa dilakukan secara monokultur atau polikultur bersama jenis ikan budidaya lainnya. Pakan ikan mola berupa phytoplankton, bighed berupa zooplankton dan pakan tambahan serta ikan grasscarp memakan rumput – rumputan serta pakan tambahan. Harga ikan mola berkisar Rp. 6.000 – Rp.10.000 per kg, ikan bighead Rp.8.000 – Rp.10.000 per kg dan grasscarp Rp.10.000 – Rp.12.000 per kg. oleh karena ketiga jenis ikan ini  masih langka sehingga harga jualnya masih relative stabil. Sedangkan pangsa pasarnya adalah masyarakat yang berpenghasilan rendah,agar supaya mereka mampu memenuhi kebutuhan protein dari ikan.

3.2.  Aspek Lingkungan

Waduk sebagai tempat pembudidayaan ikan dengan pola intensif menyebabkan keseimbangan ekosistem perairan akan terganggu dimana penggunaan pakan buatan sebagai salah satu komponen utama dalam peningkatan produksi ikan akan mempengaruhi kondisi perairan, apalagi kalau tidak terkontrol pemberiannya. Menurut Lembaga Ekologi UNPAD (1996) pakan buatan mengandung 1% P dan 5,5% N dan yang diserap oleh tubuh ikan hanya 45% P dan 25% N. Sisanya 55% P dan 75% N terlepas keperairan. P dan N ini dapat merangsang pertumbuhan plankton, sehingga kelimpahan plankton sangat tinggi dapat mengganggu lingkungan / keseimbangan ekosistem perairan,sehingga sering terjadi kematian ikan akibat blooming plankton, penyakit ikan dan arus balik. Kondisi di waduk Saguling, Cirata dan Jatiluhur sudah berlangsung lama (20 tahun) menjadi tingkat kesuburan perairan meningkat ke level sangat subur. Tingkat kesuburan perairan di klasifikasikan menjadi oligotrofic, mesotropic dan eutrofic yang diukur berdasarkan produksi karbon harian (OEDC, 1968 ) sebagai berikut :

-        Oligotrofic   65 – 290 mg/m2

-        Mesotrofic   245 – 340 mg/m2

-        Eutrofic       600 mg/m2

Ketiga waduk yang ada di alur sungai Citarum telah digunakan hampir 20 tahun sebagai tempat budidaya ikan intensif di KJA, kemungkinan sudah termasuk klasifikasi Eutrofic (sangat subur) , dimana berbagi jenis organism hidup dan dapat dijadikan sumber makanan berbagai jenis ikan. Ketiga jenis karper Cina sangat cocok hidup diperairan Eutrofic ( Lu,1986 ). Melihat kondisi ini maka pengembangan karper Cina dapat dilakukan di ketiga waduk tsb.sebagai ikan budidaya di KJA atau ditebar (stocking) ke perairan waduk secara    berkelanjutan untuk menjaga keseimbangan ekosistem.

 IV.      PERKEMBANGAN KARPER CINA DI JAWA BARAT

Sebagaimana dikemukakan sebelumnya bahwa karper Cina (Chinese Carp) masuk ke Indonesia oleh Balitkanwar,Bogor untuk keperluan penelitian pada tahun 1970 an. Selanjutnya pada tahun 1974 didatangkan oleh perusahaan swasta berupa benih mola. Bighead dan grass carp. Pada tahun 1987 pernah ditebar di waduk Saguling benih ikan mola dan grasscarp oleh Direktorat Jendral Perikanan dengan tujuan untuk menambah keragaman jenis ikan. Selanjutnya dari tahun ke tahun di tebar ke waduk Cirata, Jatiluhur dan perairan lainnya yang ada diwilayah Jawa Barat. Sayangnya kegiatan tersebut tidak dilakukan monitoring, sehingga kita tidak memiliki data perkembangannya.

Selama 32 tahun perkembangan karper cina seperti jalan ditempat dan hanya beberapa petani yang membudidayakan di kolam darat antara lain sebagai berikut :

  1. Bapak H. Ajin ( Alm ) dikolam sekitar kawah kamojang jenis Grass carp tahun 1975. Selain itu beliau mengembangkan pembenihan ikan mola, bighead dan grass carp sampai tahun 2008.
  2. Bapak H. Racmat ( Alm ), Karang tengah Cianjur jenis ikan mola.
  3. Bapak Effendi, Karang tengah Cianjur jenis Mola, Bighead dan grass carp tahun 1974 – sekarang.
  4. Bapak H.Utom ( Alm ) Ciranjang Cianjur jenis Grass carp dan mola tahun 1976.
  5. Bapak Hendra ( Alm ) di perkebunan Ciseureuh Pacet jenis mola,bighead dan grass carp tahun 1976 – 1979,
  6. Bapak Ayub ( Alm ) Kec. Cianjur, jenis ikan mola tahun 1977.
  7. Bapak Darmawan, Purwakarta jenis ikan mola tahun 2002.
  8. Bapak Suhendra, Bandar lampung jenis ikan mola dan grass carp tahun 2008.

Setelah dikembangkan budidaya ikan di KJA baik di Saguling dan Cirata beberapa orang pembudidaya mencoba di KJA antara lain :

  1. Bapak Wiwih di Cirata, jenis ikan mola ( 1991 – 1995 ).
  2. Bapak Effendi di Cirata, jenis mola, bighead dan grass carp tahun 1994 – sekarang.
  3. Bapak Samual di Cirata, jenis ikan mola ( 2002 – 2003 ).
  4. Bapak H.Kudus ( Alm ) di Cirata, jenis ikan mola tahun 2003.
  5. Bapak H.Ade Misbah di Cirata, jenis ikan mola tahun 2003.
  6. Ibu Hj.Jamilah di Cirata, jenis ikan mola tahun 2003.
  7. PLN Saguling di Saguling, jenis ikan mola tahun 2003.
  8. Codetan sungai Citarum, Soreang, jenis ikan mola tahun 2003.
  9. Kolam jaring milik Pokphand, Comfeed, Shinta, Cargill. Wonokoyo dan Guyofeed di waduk Cirata, dengan jenis yang dikembangkan ikan mola tahun 2007.

Meskipun data informasi mengenai karper Cina ini sangat kurang namun dari data lapangan menunjukkan bahwa ikan karper cina tersebut memiliki prospek yang baik dalam upaya penyediaan ikan murah bagi masyarakat yang berpenghasilan rendah dan menjaga keseimbangan ekosistem perairan.

 V.   KESIMPULAN DAN SARAN

5.1.  Kesimpulan

Ikan karper Cina ini berasal dari Negara sub tropis (4 musim) cocok untuk dibudidayakan di perairan Indonesia yang beriklim tropis (2 musim). Selain itu, karper Cina makan pakan alami seperti phyto plankton untuk mola, zooplankton untuk bighead dan rumput – rumputan untuk grasscarp. Dengan demikian biaya produksi ikan karper cina jauh lebih rendah di banding jenis ikan budidaya lainnya yang ketergantungan penuh pada pakan buatan / komersil. Sehingga ikan karper cina ini memiliki daya saing yang tinggi di pasaran dengan harga jual lebih rendah dari harga jenis ikan budidaya lainnya, namun produsen karper cina masih memperoleh keuntungan yang layak.

5.2.  Saran

Agar kebutuhan benih karper cina terpenuhi setiap waktu baik untuk kebutuhan komersil maupun untuk penebaran diperairan umum, pemerintah melalui Dinas Perikanan dan Kelautan setempat dapat memproduksi benih secukupnya di BBI baik provinsi maupun Kabupaten. Dengan demikian perkembangan karper cina untuk tujuan tersebut dapat dicapai.

DAFTAR PUSTAKA

BP Pradhan and D.Swar,1987, Lirnnology and Fishery Patential of The Indrasarobar Reservoir at Kulekhani, Nepal 7 p.

Chang W.Y.B.J.S Diana and W. Chuapoehutz,1983 Whorkshop Report to Ageney for International Development,19-29 April 1983,Strengthening of South-East Asia Aquaculture Institutions,(Grant No.DAN-5543-G-SS-2103-00),30 p.mimeo.

Effendi.P,2000,Teknologi dan Pengembangan Jaring Apung dan Peluang Pasarnya,disampaikan dalam Acara Sosialisasi dan Temu Usaha Program Pengembagan Kawasan Sentra Prokdusi (PKSP) Andalan Propinsi Jambi,17 hal.

Institute of Ecology Padjajaran University,1996,Report on Water Quality Monitoring of Saguling Reservoir,PLN,Jakarta,26

Kuronumo.E,1968,New System and New Fishes for Culture in The Far East,FAO Fish Rep,44 (5) 123.112

LU.X,1986,A Review on Reservoir Fisheries in China,FAO,Circular,803.37pp. OECD (Organi

sation for Economi Cooperation and Development),1968,Water Management Researh,OECD Directorate for Scientific Affairs,Paris,France,DAS/CLS/6827.

Waynarovich,E.1968 New Systems and New Fishes for Culture in Europe,FAO Fish Repp,44 (5):162-181.

V.G. Jhingran and R.S.V. Pullin. 1985. A hatchery manual for the commmmon, Chinese and Indian major carp. ICLARM Studies and Reviews 11,191 p. Asian Development Bank and ICLARM, Manila Philipphines.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: