Pembenihan Ikan Mas Sistim Musi Rawas


BAB  I  PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan usaha budidaya ikan adalah ketersediaan benih ikan. Benih harus tepat jumlah, mutu, waktu, tempat mudah dijangkau dan harga murah (Sugiarto,1983).

Pada akhir tahun 2001 sampai  dengan awal tahun 2002, petani dan pengusaha ikan ikan mas di Kabupaten Musi Rawas, ikannya dalam hitungan  hari, musnah dihantam virus yang sangat ganas.  Virus tersebut bernama KHV (Koi Harves Virus).  Virus ini  khusus menyerang ikan mas terutama pada kolam air deras.  Ratusan bahkan  ribuan  ton ikan mati, tingkat kerugian mencapai milyaran rupiah.  Sehingga banyak para  petani dan pengusaha ikan  terduduk  lesu dan terpaksa gulung tikar.

Di sisi lain, bagi para petani ikan mas  di kolam air tenang atau kolam sawah masalah tersebut justru memberikan hikmah.  Karena pada kolam mereka keganasan virus tersebut tidak terjadi seperti  halnya pada kolam intensif (Kolam Air Deras). Pada saat pasca KHV petani ikan mas di kolam tenang  meraup keuntungan yang cukup besar, mengingat hukum ekonomi berlaku, dimana permintaan pasar tinggi sedangkan penyediaan sedikit.  Selain mudah diproduksi, ikan mas ini dapat tumbuh dengan cepat, dapat mentonelir kisaran suhu dan oksigen serta dagingnya disukai masyarakat.

Hasil monitoring di lapangan, sampai saat ini untuk budidaya ikan di kolam semi intensif atau kolam tanah, baik pembenihan maupun Diduga, bahwa virus KHV akan menyerang ikan mas pada lingkungan kolam yang dalam, terjadinya  penurunan suhu air yang drastis, lokasi sempit serta padat tebar tinggi.  Kondisi seperti ini adalah terjadi pada kolam air deras.  Sedangkan  pada kolam tenang kondisi ini tidak terjadi, mengingat kolamnya dangkal, padat  tebar  rendah, pematang kolam yang berwarna gelap dapat menyerap panas. Sesuai dengan sifat air adalah lambat menerima panas dan lambat pula untuk melepaskannya.  Keadaan lingkungan seperti inilah sehingga virus kurang senang menyerang ikan.

Mengingat permintaan pasar ikan mas baik untuk lokal maupun luar daerah terus meningkat, maka penyediaan benih oleh UPR (Usaha Peternak Rakyat) terus diupayakan. Untuk memacu produksi  benih ikan mas,  para UPR mempunyai metoda sendiri dalam pembenihan ikan mas. Metoda tersebut mungkin hanya ada di Kabupaten Musi Rawas.

Di daerah lain sistim yang dilakukan oleh para UPR ini sepertinya belum banyak  dilakukan. Untuk itu Sistim ini disebut ”SISTIM MUSI RAWAS” seperti halnya sistim pemijahan ikan mas : Hoper, Dubish, Cimindi , Sistim Sunda dan Sistim Tradisional yang diperbaiki.

Dilihat dari sistim yang sudah ada, sistem Musi Rawas ini banyak perbendaan yang mendasar terutama pada penggunaan substrat penempel  telur dan perlakuan penetasan dengan sistim kering. Disinilah yang merupakan faktor penting dalam meningkatkan daya tetas telur.

1.2. Tujuan

Tujuan penetasan telur ikan mas sistim kering ini adalah :

  1. Untuk menghindari serangan hama dan penyakit telur khususnya  jamur  Ichtiopthyrius multifilis sp.
  2. Untuk mempercepat daya tetas telur (lebih cepat 24 jam dibandingkan cara biasa)
  3. Untuk menghemat tenaga
  4. Untuk meningkatkan daya tetas  telur

BAB.II  PEMIJAHAN

2.1.  Persiapan Pemijahan

Bahan dan alat yang harus dipersiapkan antara lain: Wadah pemijahan, induk ikan betina dan jantan yang matang gonad, dan Substrat penempel telur. Wadah pemijahan dapat berupa bak, kolam tanah atau hapa pemijahan. Ukuran wadah minimal panjang  3 m dan lebar 2m dengan kedalaman air minimal 40 cm. Dilengkapi dengan saluran inlet dan outlet. Wadah pemijahan akan merupakan pemicu ikan untuk kawin, untuk itu perlu dilakukan manifulasi seperti kolam dikeringkan, kemudian air usahakan mengalir secara kontinyu sehingga difusi oksigen lancar.

Induk ikan mas betina  harus diseleksi sebaik mungkin agar produksinya baik. Persyaratan induk;  Umur minimal 1 tahun dengan berat minimal 1,5 kg; sisik besar-besar dan merata; bagian perut membesar ke arah pengeluaran, bagaian antara kedua sirip dada cekung ke dalam dan bila diraba terasa lunak, bagian perut bila diurut ke bagian urogenitalis (pengeluran  telur ) akan keluar cairan kuning bahkan telur.  Usahakan telur yang terlihat butirannya sudah rata dan berwarna kuning.

(2). Induk Jantan  

Induk jantan diperlukan minimal umur 6 bulan dengan berat 0,5 kg per ekor, sehat, bila dipijit  ke arah pengeluaran akan keluar cairan putuh seperti susu (Sperma).,dan gerakannya lincah. Induk jantan diperlukan minimal umur 6 bulan dengan berat 0,5 kg per ekor, sehat, bila dipijit  ke arah pengeluaran akan keluar cairan putuh seperti susu (sperma)dan gerakannya lincah. Mengingat pembuahan ikan mas terjadi di luar tubuh, maka dibutuhkan induk jantan yang lebih banyak agar telur dapat dibuahi secara normal. Sex  ratio anatara betina dan jantan dari segi berat 1 ; 1 (1 kg induk betina : 1 kg induk jantan), tetapi dari segi jumlah minimal 1 : 3 ( 1 ekor betina  : 3 ekor jantan), lebih banyak induk jantan akan lebih baik, namun kurang effisien.

Sebaiknya induk sebelum dipijahkan dilakukan pemberokan terlebih dahulu supaya hasilnya lebih memuaskan.  Tujuan pemberokan ini adalah  agar telur yang dihasilkan betul-betul bernas, karena dengan pemberokan akan membersihkan lemak yang menempel disekitar bagian gonand.  Untuk induk jantan tujuannya supaya lebih terangsang saat dipijahkan  dengan demikian nafsu sexnya akan meningkat.

Substrat penempel telur diperlukan sebagai rangsangan ikan untuk mijah. Substrat ini berfungsi untuk menempelkan telur setelah dibuahi, karena telur ikan mas mengandung zat pelekat yang dinamanan “Globulin”. Sehingga keberadaannya sangat dibutuhkan. Persyaratan subtrat adalah : Tidak mudah busuk, mudah diperoleh, dan  tidak kasar.  Salah satu substrat yang biasa dipakai oleh petani pembenih ikan adalah tanaman air berupa ganggang atau Hydrilla verticilata sp.  Kebutuhan untuk  berat induk betina 3 kg sebanyak 1  karung goni dengan berat sekitar 25 kg.2.3 Pemijahan

Pemijahan adalah istilah perkawinan pada ikan, yaitu terjadinya proses pembuahan sel telur oleh sperma. Secara umum untuk ikan terjadi di luar tubuh. Pemijahan secara alamiah pada ikan mas akan terjadi pada malam menjelang dini hari, dimana saat ini akan terjadi penurunan suhu air. Kondisi seperti ini memicu ikan untuk mijah.

BAB. III PENETASAN DAN PENDEDERAN

 

3.1  Penetasan

Ciri khas pembenihan ikan mas sistim Musi Rawas ini terletak pada perlakuan terhadap telur sebelum ditetaskan. Pagi-pagi substrat yang berisi telur  diangkat dan dimasukan kedalam kantong plastik/karung goni, kemudian disimpan ditempat yang teduh dan lembab, aman dari gangguan luar dan terhindar dari sinar matahari langsung. Telur dipermentasi selama 24 jam. Telur dikemas dalam karung seperti pada Gambar 5.

Gambar 5. Pengemasan telur pada karung selama 24 jam

Pada sistim ini tidak diperlukan kolam penetasan husus, telur yang telah dipermentasi langsung ditetaskan di kolam pendederan yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Hapa penetasan dipasang dipinggir kolam pendederan, telur dimasukan dalam hapa. Dalam waktu 0,5 jam telur sudah mulai menetas. Tetasan  dibiarkan selama 2 hari sampai York sock (Kuning Telur)  habis, kemudian larva ditebarkan ke kolam dengan cara membuka hapa.

3.2 Pendederan

Kolam pendederan disiapkan sebelum pemijahan berbarengan, sehingga waktunya sesuai dengan apa yang diperlukan benih ikan. Perlakuan dalam mempersiapkan kolam pendederan meliputi pengolahan lahan, penumbuhan pakan alami, pemeliharaan dan panen.

Lahan kolam sebagai tempat hidup ikan perlu disiapkan sesuai dengan kehidupannya.  Dasar kolam dicangkul balik atau diolah dengan menggunakan alat lain, pematang dilakukan keduk teplok dengan kemiringan 45º.  Saluran tengah atau pinggir dibuat mering ke saluran outlet. Saluran inlet dan outlet diperbaiki, usahakan menggunakan paralon dengan sistim L.  Hal ini untuk mempermudah panen dan akan lebih praktis, dibandingkan dengan sistim monik. Kolam dikeringkan 2-3 hari, dan  usahakan jangan sampai ada lokasi yanag masih becek.

Pakan alami memegang peranan sangat penting untuk menekan tingkat mortalitas ikan dan mutlak harus tersedia pada kolam, terutama pada saat masa kritis atau masa setelah habisnya kuning telur pada perut larva ikan.  Menurut Waynarovich dan Horvath,(1980).  Bahwa salah satu faktor  untuk meningkatkan hasil benih ikan adalah dengan menyediakan makanan alami berupa plankton. Dari jenis zooplankton peranannya sangat baik bagi kehidupan benih. Kriteria pakan alami adalah; Ukuran lebih kecil dari bukaan mulut ikan, bergizi tinggi, dapat dicerna dengan mudah, planktonis (terapung),gerakannya lambat, sehingga mudah ditangkap,mudah dan murah. Bahan-bahan yang diperlukan untuk menumbuhkan pakan alami di atas adalah : kapur, pupuk dan insectisida.

Lahan kolam sebagai tempat hidup ikan perlu disiapkan sesuai dengan kehidupannya.  Dasar kolam dicangkul balik atau diolah dengan menggunakan alat lain, pematang dilakukan keduk teplok dengan kemiringan 45º.  Saluran tengah atau pinggir dibuat mering ke saluran outlet. Saluran inlet dan outlet diperbaiki, usahakan menggunakan paralon dengan sistim L.  Hal ini untuk mempermudah panen dan akan lebih praktis, dibandingkan dengan sistim monik. Kolam dikeringkan 2-3 hari , dan  usahakan jangan sampai ada lokasi yanag masih becek.

a.  Pengapuran

Tujuan dari pengapuran adalah selain untuk meningkatkan pH air kolam juga untuk memberantas hama dan penyakit yang masih tersisa pada dasar kolam.  Dosis kapur sebanyak 3-5 kg /100m². Namun, sampai saat ini perlakuan pengapuran masih jarang dilakukan oleh para UPR, dengan alasan harga kapur tinggi dan sulit diperoleh pada jumlah yang besar.

b.  Pemupukan

Tujuan pemupukan adalah untuk  menambah unsur-unsur makro dan mikro yang sudah mengurang dalam kolam.  Secara umum tujuan dari pemupukan pada usaha perikanan adalah untuk menumbuhkan  pakan alami berupa plankton yang terdiri dari Phitoplankton dan Zoo-plankton. Jenis-jenis Zoo-plankton yang sangat disukai benih ikan adalah Infusorea sp., Rotifera sp., Moina sp.,Larva Chironomus,sp., Daphnia sp. Tubipex dan jenis cladocera sp lainnya.

 (1). Jenis pupuk

Jenis pupuk yang digunakan pupuk organik dan an-organik.Pupuk organik berupa kotoran ayam, bebek dan kotoran sapi. Sedangkan pupuk an-organik seperti Urea dan SP.36.  Dosis masing-masing adalah pupuk kandang 20-50 kg/100m², Urea 1 kg/100m² dan SP.36 sebanyak 0,5 kg/m².

(2)       Aplikasi pemupukan

Pupuk dimasukan  berbarengan dengan pengapuran dan untuk pupuk organik  usahakan biarkan dalam karung, sedangkan pupuk an-organik disebar merata. Kemudian air dimasukan secara bertahap selama 5 hari. Ketinggian air rata-rata cukup 40 cm. Kemudian  insectisida Pastac disemprotkan secara merata, hal ini bertujuan untuk memberantas Jenis  predator dan kompetitor yang akan mengganggu benih. Bila tidak, hama ini sangat ganas sekali memangsa benih ikan. Agar pakan alami tumbuh  dengan baik, maka air perlu diatur secara bertahap selama 5 hari. Kemudian siap  ditebari.

Pupuk dimasukan  berbarengan dengan pengapuran dan untuk pupuk organik  usahakan biarkan dalam karung, sedangkan pupuk an-organik disebar merata. Kemudian air dimasukan secara bertahap selama 5 hari. Ketinggian air rata-rata cukup 40 cm, kemudian  insectisida Pastac disemprotkan secara merata, hal ini bertujuan untuk memberantas Jenis  predator dan kompetitor yang akan mengganggu benih. Setelah pemupukan air dimasukan secara bertahap selama 5 hari sampai mencapai ketinggian rata-rata 40 cm. Warna air hijau kecolkatan yang menandakan bahwa plankton sudah tumbuh dengan baik. Pembuangan air diatur agar  pakan alami tidak banyak terbuang. Air yang masuk  cukup mengganti penguapan saja.

BAB.IV PEMELIHARAAN DAN PANEN

4.1 Pemeliharaan

Selama masa pemeliharaan keadaan air harus dijaga jangan sampai banyak yang terbuang, ,bahkan kalau perlu outlet dimatikan.  Dengan demikian pakan alami yang ditumbuhkan tidak banyak hanyut terbawa air. Pemasukan air cukup hanya untuk mengganti penguapan sajah. Pemberian pakan tambahan dapat diberikan berupa bubuk pelet pada mulai hari ke-7 sampai hari ke-15 dan selanjutnya diberikan pelet yang ukurannya kecil sesuai dengan bukaan mulut benih ikan sampai hari ke-20 atau panen.

4.2 Panen

Panen dilakukan pada saat ikan sudah mencapai ukuran 1-3 cm atau ukuran gelasan.  Biasanya  ukuran ini umur 20 hari. Cara panen menggunakan sistim gravitasi air, dengan cara ini akan lebih menghemat tenaga, dapat menekan tingkat mortalitas saat penangkapan  serta dapat mengurangi setres benih ikan.

3.1.7.Pemeliharaan

3.1.8  Panen

Panen dilakukan pada saat ikan sudah mencapai ukuran 1-3 cm atau ukuran gelasan.  Biasanya  ukuran ini umur 20. Cara panen menggunakan sistim gravitasi air. Dengan cara ini akan lebih menghemat tenaga , dapat menekan tingkat mortalitas saat penangkapan  serta dapat mengurangi setres benih ikan.

Perlakuan sistim gravitasi air ini adalah kelambu (hapa) dipasang diujung saluran outlet bagian luar, kemudian outlet dibuka, sehingga benih ikan yang keluar mengikuti arus air akan masuk kedalam kelambu tadi. Benih ikan cukup digiring ke saluran tengah kemudian menuju ke outlet. Dengan menggunakan alat tangkap, benih yang sudah terkumpul diambil dan ditampung pada tempat aliran air.

Produksi panen  setiap berat induk betina 3 kg mencapai 100 sampai 125 gelas, dengan jumlah setiap gelas rata-rata 500 ekor. Sedangkan cara lama, menurut pengalaman UPR ikan mas, rata-rata hanya 40 gelas.

BAB.  IV  DAFATAR PUSTAKA

 

Eko Wardoyo,S.2001. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Prairan.Vol.20.No.2.Jakarta 2001.

Ningrum Suhenda, 1982. Penentuan Besarnya Kebutuhan Protein Untuk Pertumbuhan Benih

Ikan. Buletin. Pen.PD. Tahun ke-3.No.2.

Sugiarto, 1083. Teknik Pembenihan I Untuk SPP-SUPM. Bogor, 1983.

Waynarovich & Horvath, 1980. Pronsif-Prinsif Budidaya Ikan. Penebar Swadaya,

Jakarta 1980

 

 

 

 

 

 

Iklan

One Comment Add yours

  1. suksesmina berkata:

    Informaisnya cukup menarik dan mudah-mudahan bisa dipraktekan dilokasi/kawasan budidaya lainnya

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s