Fasilitasi sebagai upaya pemberdayaan Pelaku Utama


Fasilitasi merupakan salah satu kegiatan penting yang dilakukan oleh pendamping dalam upaya memberdayakan masyarakat. Istilah fasilitasi banyak digunakan dikalangan praktisi dan aktivis LSM, ORNOP, dan NGO. untuk menyatakan suatu bentuk ‘intervensi’ atau dukungan yang diperlukan untuk meningkatkan kapasitas individu, kelompok atau kelembagaan dalam masyarakat. Dikalangan bisnis, konsep fasilitasi seringkali digunakan untuk memberikan kemudahan bagi pelanggan dalam mengenal kebutuhannya. Dengan ungkapan lain, fasilitasi menjadi bagian penting dalam suatu kegiatan, program, atau organisasi untuk mempermudah proses belajar. Dalam konteks pembangunan, istilah fasilitasi biasa dikaitkan dengan pola pendampingan, pedukungan atau bantuan dalam masyarakat. Pengertian ‘fasilitasi’, Secara harfiah merujuk pada ‘upaya memberikan kemudahan’, kepada siapa saja agar mampu mengerahkan potensi dan sumber daya untuk memecahkan masalah yang dihadapinya. Biasanya tindakan ini diikuti dengan pengadaan personil, tenaga pendamping, relawan atau pihak lain yang berperan memberikan penyuluhan, penerangan, bimbingan, terapi psikologis penyadaran agar masyarakat yang ‘tidak tahu’ menjadi ‘tahu dan sadar untuk berubah’. Demikian halnya bagi masyarakat yang mengalami permasalahan sosial atau yang terkena dampak krisis akibat konflik maupun bencana dapat terhindar dari situasi yang lebih buruk. Tindakan dan kegiatan ini merupakan bagian dari ‘pendampingan’. Dalam situasi tertentu seringkali masyarakat mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pokok, perlindungan keamanan, kesehatan, dan menghadapi kondisi alam. Hal ini banyak disebabkan oleh berbagai persoalan yang muncul pada saat masyarakat lebih terfokus untuk mencari penghidupan yang lebih layak akibat kemiskinan atau situasi yang membutuhkan perlindungan dari konflik dan bencana yang sedang atau akan terjadi. Dalam kondisi seperti itu, masyarakat perlu mendapatkan dukungan, bantuan, bimbingan baik secara fisik maupun mental.

 

Dalam situasi kritis, peran pendampingan tidak hanya memberikan kemudahan terhadap berbagai akses bantuan saja tetapi secara proaktif melakukan intervensi langsung kepada korban. Di sisi inilah fasilitator mencoba mengambil peran sebagai perantara atau katarsis untuk mempercepat proses belajar dan peningkatan kesejahteraan.

Dalam konteks pembangunan masyarakat (civil society) kegiatan fasilitasi dilakukan oleh tenaga khusus yang bertugas; Pertama, membina kelompok masyarakat yang terkena krisis sehingga menjadi suatu kebersamaan tujuan dan kegiatan yang berorientasi pada upaya perbaikan kehidupan; Kedua, sebagai pemandu atau fasilitator, penghubung dan penggerak (dinamisator) dalam pembentukan kelompok masyarakat dan pembimbing pengembangan kegiatankelompok. Dalam upaya mewujudkan otonomi dan kemandirian masyarakat perlu bimbingan atau pendampingan. Fasilitator biasanya identik dengan tugas pendampingan tersebut.

Fasilitasi dan Pendampingan

Fasilitasi seringkali digunakan secara bersamaan dengan pendampingan yang merujuk pada bentuk dukungan baik tenaga, dana, peralatan, dan metodologi dalam berbagai program pembangunan dan upaya pengentasan kemiskinan. Fasilitasi menjadi inti dari kegiatan pendampingan yang dilakukan oleh tenaga khusus untuk membantu masyarakat dalam berbagai sektor pembangunan. Kegiatan pendampingan dilakukan dalam upaya mendorong partisipasi dan kemandirian masyarakat. Kegiatan pendampingan menjadi salah satu bagian dalam proses pemberdayaan masyarakat. Dalam pendampingan dibutuhkan tenaga yang memiliki kemampuan untuk mentransfer pengetahuan, sikap dan perilaku tertentu kepada masyarakat. Disamping itu, perlu dukungan dana dan sarana pengembangan diri dalam bentuk latihan bagi para pendamping.

Di Indonesia, kegiatan pendampingan dilakukan melalui;

Gunawan Sumodiningrat menjelaskan; pendampingan ditujukan untuk membantu masyarakat meningkatkan kegiatan sosial ekonomi penduduk miskin di desa tertinggal. Pada umumnya petugas pendamping diutamakan dari tenaga profesional, penyuluh lapangan, tenaga sukarela yang bekerja di wilayah tertentu. Pendamping juga dapat diambil dari kader potensial kelompok atau masyarakat dalam suatu hamparan tertentu.

2 Implementasi program pemberdayaan yang dilakukan dengan bantuan pemerintah pusat maupun daerah. Dukungan tersebut terutama diberikan bagi desa-desa tertinggal yang belum memiliki fasilitator sebagai tenaga pendamping diusahakan secara bertahap. Pada prinsipnya pengadaan fasilitator atau pendamping lapangan yang direkrut khusus sifatnya hanya sebagai dukungan untuk menjamin program berjalan sesuai dengan tujuan. Pengadaan personil diupaya mendekati kelompok sasaran dan memperhatikan sistem nilai, struktur sosial dan budaya local. Diharapkan fasilitator disediakan oleh daerahnya sendiri dengan dukungan dana dan inisiatif dari institusi lain, serta tenaga khusus yang disediakan atas kerjasama dengan lembaga donor internasional dan institusi yang memberikan perhatian terhadap kemiskinan dan krisis.


 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s