Peluang Usaha Bisnis masa depan Kaviar nilem


Oleh: Tatang, S.St.Pi.

ikan nilem


Perusahaan pengolah caviar yang merupakan hidangan mewah di Rusia terancam kebangkrutan. Sejak tahun 2004 pemerintah Rusia telah mengeluarkan undang-undang yang melarang perburuan liar dan perdagangan ilegal sturgeon, yaitu ikan penghasil telur caviar. Selain itu, kuota dan labelisasi produksi juga diberlakukan untuk mengendalikan penangkapan sturgeon. Langkah penyelamatan ini berdasarkan usulan Lembaga Perlindungan Satwa Liar Dunia (WWF) yang meminta Rusia mengawasi ikan sturgeon dari kepunahan akibat perburuan liar.

Berdasarkan catatan WWF, pada 1970-an Laut Kaspia, Rusia, mampu menghasilkan 20 ribu ton sturgeon. Namun memasuki `90-an jumlah itu menyusut menjadi 1.000 ton. Caviar, hidangan mewah berupa telur ikan sturgeon memang banyak diminati para pecinta kuliner. Untuk menikmatinya, para penggemar caviar bersedia merogoh koceknya dalam-dalam. Di pasaran, caviar diperdagangkan dengan harga US$ 2 ribu atau sekitar Rp 16 juta per kilogram. Akibat harga yang tinggi ditambah permintaan yang terus meningkat, perburuan liar ikan sturgeon kian meningkat. Perusahaan-perusahaan pengolah caviar juga menggenjot produksi mereka. Akibatnya, populasi sturgeon turun drastis.

Peluang ini yang senestinya menjadi titik awal dari pengembangan usaha caviar dari ikan nilem. Ikan Nilem (Osteochilus hasselti C.V) merupakan komoditas asli Indonesia yang sudah dibudidayakan sejak lama, namun demikian jenis ini hanya terkonsentrasi di Pulau Jawa khususnya di Priangan dan di wilayah tersebut ikan nilem merupakan salah satu primadona.  Data statistik perikanan 2005 menunjukkan bahwa di Jawa Barat produksi ikan nilem tercatat sebesar 13.284,93 ton KOMPAS, 5 Maret 2007.

Penelitian nilem intensif

Balai Riset Perikananan Budidaya Air Tawar telah melakukan kegiatan riset yang berhubungan dengan upaya peningkatan produktivitas indukan ikan nilem yaitu melalui penambahan vitamin mix berimbang dalam formulasi pakan, dibandingkan dengan pakan komersial dengan iso protein 27%. Berikut perlakuan penambahan vitamin dalam pakan percobaan hasil percobaan di BRPBAT.

Pada percobaan tersebut pakan diujikan terhadap induk ikan nilem yang sudah di kosongkan gonadnya melalui pemijahan massal (induk salin mijah), selama percobaan dilakukan pengamatan perkembangan gonad, kemudian pemijahan serta di uji pula ketahanan larva sampai habis kuning telurnya. Dari hasil percobaan ini di peroleh informasi tertera dalam tabel 2.

Dari tabel 2. diketahui bahwa pakan formulasi 2 memiliki keunggulan dari pakan lainnya dalam hal peningkatan fekunditas dan percepatan waktu rematurasi. Berdasarkan informasi terdahulu baik di UPR Tasikmalaya, dan di Instalasi Riset Cijeruk (Subagja.J. dkk. 2007) fekunditas induk nilem dengan kisaran bobot 200 gram hanya menghasilkan indeks ovosomatik tidak lebih dari 18% atau setara dengan jumlah telur antara 42.000 – 45.000 butir (216.000 butir/kg induk), dari tabel 2. Fekunditas pakan formula 2 menghasilkan fekunditas 55.600 butir (283.000 butir/kg induk) dengan demikian mampu meningkatkan fekunditas sampai 31% dari indukan yang diberi pakan komersial.

Lama pemeliharaan induk sampai rematurasi masing-masing 3-4 bulan di UPR dan 45 hari di Instalasi riset  BRPBAT Cijeruk, sedangkan dari percobaan tersebut diperlukan waktu lebih singkat yaitu 26 hari, dengan demikian percepatan waktu rematurasi (frekuensi matang) 1,8 kali dari perlakuan pakan komersial atau 5 kali lebih cepat dari sistem pemeliharaan induk di UPR.  Dengan kondisi pemeliharaan pemberian pakan yang ditambahkan vitamin mix, produktivitas (produksi telur pertahun= fekunditas x frequensi memijah) setiap kilogram induk ikan nilem meningkat 155% dari pemeliharaan sistem tradisional. Mudah-mudahan  hasil penelitian tersebut bisa digunakan oleh pelaku utama untuk meningkatkan produksi secara terintegrasi dari usaha pembenihan-pendederan-pembesaran-penyediaan induk-pengolahan hasil dan pemasaran. Semoga..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s