PERENCANAAN BISNIS PERIKANAN


Oleh: Tatang, S.St.Pi.

  1. A.   Perencanaan

Secara sederhana perencanaan merupakan usaha menetapkan kegiatan yang akan dilakukan tentang :

–     Apa yang akan dilakukan atau apa yang hendak dilakukan?

–     Bagaimana melaksanakannya atau apa yang harus dikerjakan?

–     Kapan melaksanakannya?

–     Siapa yang akan melaksanakannya?

  1. B.   Manfaat Perencanaan

Manfaat perencanaan antara lain:

(1)   Dipakai sebagai alat koordinasi.

(2)   Dapat memberikan “kepastian” mengenai masa depan atau membatasi “ketidakpastian”.

(3)   Merupakan alat ukur terhadap prestasi yang akan dicapai dan alat pengendalian (control) jalannya kegiatan/organisasi.

(4)   Meningkatkan kemampuan antisipasi terhadap perubahan.

(5)   Meningkatkan produktifitas (efektifitas dan efisiensi) karena memfokuskan pada sasaran.

(6)   Meningkatkan dukungan dan peran serta, karena tujuan/sasaran dapat diketahui oleh pelaksananya.

(7)   Dalam proses perencanaannya, “team building” (terbentuk kerjasama) merupakan hasil sampingan yang sangat bermanfaat bagi organisasi.

Dalam kegiatan usaha perikanan baik secara berkelompok maupun kegiatan usaha yang dilakukan oleh individu, diperlukan perencanaan yang matang, mengingat kegiatan usaha ini memiliki risiko tersendiri, terutama yang berhubungan dengan kondisi alam (iklim/musim), keterampilan sumberdaya manusia, teknologi maupun modal usaha.

 

  1. C.   Perencanaan Usaha

Sebagian besar usaha dimulai dari modal yang dibiayai wirausahawan dan timnya atau investasi kecil dari keluarga dan teman. Modal yang diberikan pada umunya berdasarkan “keyakinan” dari wirausahawan dan cukup dngan deskripsi lisan dan produk serta prospeknya. Dana yang diperoleh pada umunya dipergunakan untuk mengembangkan prototiep produk, melakukan studi pasar, dan sekedar untuk memulai usaha.

Memulai usaha baru yang kecil, tentu tidak diperlukan dana yang besar. Terkadang dana yang diperoleh dari penyandang dana berdasarkan kepercayaan saja, tidaklah memadai untuk memulai pertumbuhan yang tinggi, atau kebutuhan dana tambahan untuk mendapatkan potensi pasar dan menjadi perusahaan besar. Tambahan modal yang ekuitas sangat diperlukan bukan hanya untuk dapat membeli asset dan memenuhi modal kerja, tetapi juga untuk mendapatkan dukungan dari lembaga keuangan.

Suatu rencana usaha yang efektif akan dapat menyakinkan penyandang dana bahwa anda telah mengindikasikan peluang dari pertumbuhan usaha tinggi, serta anda memilki bakat dalam mengelola dan berwirausaha, berbagai kemampuan yang lain, sehingga dapat secra efektif memanfaatkan peluang, serta anda memiliki rencana yang rasional dan kredibel. Pengembangan rencana usaha sebagaimana diuraikan diatas, memang tidak mudah dan tidak pula sukar. Ini merupakan pekerjaan yang menuntut ketelitian, kesabaran, kerja keras, apabila anda mengikuti rencana usaha (terlampir).

Namun demikian, sebelum menyiapkan rencana usaha, anda harus meninjau kembali analisis awal sebagaimana dijelaskan dalam langkah 2. jika dari analisis tersebut muncul pertanyaan mendasar tentang kelayakan usaja anda, janganlah memulai rencana usaha. Rencana usaha dapat dimulai, apabil anda telah memperoleh hasil penelitian lebih lanjut yang memberi keyakinan pada anda bahwa tidak ada cacat mendasar dari usaha anda.

  1. D.   Fungsi (Kegunaan) Perencanaan Usaha

Sebuah perencanaan usaha memiliki fungsi yang sangat  mendukung keberhasilan usaha.  Fungsi tersebut meliputi :

  1. Mendorong calon pelaku bisnis untuk berpikir mengenai “apa yang akan dikerjakan” :
  • Menggunakan pandangan yang obyektif
  • Bersikap kritis
  • Tidak emosional
  1. Dapat digunakan untuk menilai keragaan aktual usaha (bisnis) pada jangka waktu tertentu,
  2. Merupakan dokumen yang dapat dinilai oleh pemberi kredit (calon investor) untuk menilai bisnis baru maupun mengembangkan bisnis yang sedang dikerjakan.

  1. E.    Mengapa Ada Rencana Usaha?

Pertanyaan tersebut diatas muncul mengingat bahwa banyak alas an yang mengatakan bahwa rencana akan usang setelah dituliskan, tidak ada seorangpun yang tahu masa datang, peluang lebih baik atau bencana, hal yang berbahaya bila memberikan komitmen pada sesuatu yang tidak menentu, masa datang tidak dapat ditebak.

Namun demian ada beberapa hal penting dari rencana yaitu :

  1. Terdapat kaitan yang erat antara wirausahawan yang sukses dan penentuan gol serta proses perencanaan. Salah satu karakteristik penting dari mereka yaitu perilaku mereka dalam penentuan gol.
  2. Penentuan gol membantu anda untuk bekerja “lebih cerdik” dari pada bekerja “lebih keras”. Rencana membantu anda memperoleh jalan yang lebih baik dengan mempertimbangkan berbagai alternatif.
  3. Rencana membantu anda memilki kerangka pikiran berorientasi kedepan. Pemikiran ini membantu anda untuk melakukan antusipasi, lebih waspada dan responsif terhadap masalah, peluang, dan perubahan yang dapat mengganggu anda.
  4. Perencanaan dapat menolong anda untuk mengembangkan dan memperbarui strategi yang lebih baik dengan cara menguji ide anda dan pendekatan orang lain.
  5. Perencanaan gol yang tepat memberikan efek motivasi terhadap gol yang dituntut. Gol moderat merupakan gol yang dapat dicapai, namun memerlukan usaha untuk memperolehnya. Seseorang akan lebih termotivasi mengejar gol yang menantang tapi dapat dicapai bila dibandingkan dengan gol yang terlalu mudah atau terlalu sulit.
  6. Penentuan gol akan memberikan gambaran hasil, suatu perhatian terhadap pencapaian dan kemajuan. Setelah dinyatakan secara spesifik, masa waktu, gol yang terukur akan memudahkan anda dan orang lain untuk mengevaluasi kinerja anda. Ini memungkinkan anda untuk melihat seberapa dekat pencapaian sasaran, sehingga menuntut tanggung jawab atas langkah-langkah anda.
  7. Perencanaan membantu anda untuk mengelola risiko dan ketidakpastian masa depan, meskipun tidak dapat memperkirakan masa depan.

  1. F.    Kelemahan Perencanaan

Perencanaan mungkin bukan untuk semua orang. Ini bukan obat buat segala penyakit atau obat penenang bagi hambatan dalam kemajuan seseorang. Bagi mereka yang mungkin bukanlah wirausahawan, melihat perencanaan sebagai berikut :

  1. Bagi orang yang hati-hati, juga khawatir akan kegagalan, melihat bahawa penentuan gol akan merupakan sumber ketegangan dan tekanan dan mempertinggi rasa takut gagal. Konsekuensi mental dan fisik yang mungkin dari kecemasan tersebut yang mempengaruhi aktivitas yang dapat kontra produktif bagi mereka.
  2. Menyiapkan gold an rencana memerlukan penentuan pilihan dan komitmen. Ini artinya menentukan prioritas dalam gol. Inheren terhadap proses ini adalah kemungkinan di masa depan atau pilihan yang belum di ketahui sekarang, yang dapat saja lebih menarik untuk dipilih, sehingga menjadi hilang atau peluang yang diabaikan. Dilemma ini mempengaruhi keputusan seseorang dalam karirnya.
  3. Komitmen terhadap gol yang berorientasi karir, terutama bagi mereka yang muda dan belum banyak mengetahui dunia nyata. Sebagai missal, berapa banyak anak muda memilki informasi akurat, pengetahuan dan pengalaman tentang karir tertentu atau peran untuk menjadi insinyur, pilot, wirausahawan?.
  4. Bagi seseorang yang cenderung kompulsif dan obsesif, penentuan gol bagaikan memberikan bensin pada api. Perencanaan yang efisien dan manajemen waktu akan mendorong seseorang untuk tenggelam dalam sesuatu tugas tertentu, proyek atau karir, sehingga mengeasmpingkan keluarga, teman, komunitas, atau tanggung jawab lain. Inipun merupakan dilemma bagi semua orang termasuk wirausahawan.
  5. Berbagai kejadian dan faktor lingkungan yang diluar kontrol akan menggalkan rencana terbaik yang ada : bencala alam, kemtian, dll. Tidak ada proses perencanaan yang dapat melihat hal tersebut, ataupun mencegahnya meskipun terlihat. Sehingga selama tahap awal usaha baru yang tengah berjuang dalam ukuran minggu atau bulan, alokasi utama waktu untuk merencanakan tahun berikutnya tidak mungkin.

  1. G.   Mengapa Rencana Gagal

Mungkin tidak ada kekecewaan yang lebih besar dari pada pengalaman kegagalan para manajer atau wirausahawan dengan rencana yang tampaknya telah disiapkan dengan baik atau sungguh-sungguh. Disamping itu, waktu yang banyak tersita akan menurunkan moral mereka apabila rencana tidak berjalan. Lebih buruk lagi apabila disisi lain ada contoh keberhasilan tanpa perencanaan formal. Isu yang muncul ialah mengapa rencana gagal?

  1. H.   Kendala yang Perlu Diatasi dalam Perencanaan yang Efektif

Perhatian utama dari perencanaan yang efektif adalah mengapa rencana gagal. Secara sederhana apa saja dari perilaku atau kendala yang memberikan sumbangan bagi kegagalan perencanaan, apa yang harus dilakukan untuk mengurangi risiko gagal. Apabila kegagalan itu pasti jika tidak bekerja keras, bekerja keras tidaklah cukup. Bekerja lebih cerdik merupakan tuntutan. Bekerja lebih menumbuhkan kewaspadaan dan respon terhadap enam alasan utama mengapa rencana gagal.

  1. Tidak da gol yang nyata. Jika da rencana tidak akan gagal. Banyak orang kurang memahami mengenai apa yang dimaksud dengan gol. Mereka terbuai dengan misi seperti “peningkatan kerja”, “pertumbuhan”, atau “peningkatan usaha” yang lebih merupakan fantasi ketimbang gol. Gol harusalah nyata jika tidaklah spesifik, terukur, masa waktu, realistis, rencana akan gagal.
  2. Gagal mengantisipasi kendala. Tidak seorangpun dapat berfikir mengenai kemungkinan kontingensi, namun optimisme berlebihan dan komitmen berlebihan akan menghambat kepekaan untuk mengatasi rintangan atau perangkap. Setiap rencana tidak terkecuali setiliti apapun memilki keterbatasan dan konflik terselubung atas prioritas dan sumber daya. Tidak jarang terjadi, hal itu terlambat diperhatikan. Wirausahawan yang berhati-hati mengidentifikasi hambatan potensial dengan cara mengatasi masalah akan lebih siap mengahadapi gangguan terhadap rencana mereka. Penentuan gol yang efektif mengetahui bahwa hal ini bukan merupakan mengidentifikasi hal yang tidak mungkin agar maklum bila ada kegagalan. Yang mereka lakukan adalah memilih beberapa hambatan kecil yang dapat menjadi besar, kemudian menentukan langkah-langkah pencegahan. Sebuah rencana harus cukup fleksibel dan mampu mengetahui adanya hambatan dan memberikan solusi antisipasi tehadap hambatan yang belum diketahui ataupun diduga.
  3. Terlambat meninjau ulang dan melihat tonggak kemajuan (milestone), rencana yang gagal biasanya tidak memilki tonggak kemajuan yang nyata atau tanggal peninjauan ulang, atau memperkenankan pergeseran. Alasan yang dipakai ialah “saya dapat menunggu” atau “saya tahu apa yang saya lakukan”. Peninjauan ulang secara berkala atas kemajuan yang terjadi terhadap gol yang ditentukan merupakan bendera merah agar waspada dilakukan pengkajian ulang. Tonggak kemajuan yang tercapai akan memberikan motivasi untuk sukses lebih lanjut. Namun demikian detail dan analisa yang berlebihan dalam peninjauan ulang akan menganggu tujuan implementasi dan pencapaian gol. Keseluruhan proses harus sederhana dan tanpa kecenderungan birokrasi yang berlebihan. Peninjauan ulang yang efektif hanya menguji kecepatan, arah, dan realisasi rencana pada setiap titik dari suatu usaha.
  4. Komimen yang kurang. Komitmen pribadi merupakan hal yang kritis terhadap keberhasilan rencana. Komitmen memberikan motivasi diri untuk penyelesaian suatu rencana. Bagi seseorang wirausahawan, sering mendapat komitmen yang sekedar dibibir dari subordinat atau mitra untuk suatu perencanaan. Komitmen merupakan sesuatu hal yang sulit diperoleh, memrlukan berbagai upaya melibatkan tim dalam proses pengembangan gol. Melibatkan subordinat, mitra akan membangkitkan keterkarikan, masukan, dan lebih penting lagi kepemilikan dari suatu rencana diskusi yang melibatkan negosiasi, kompromi, dan saling menukar data akan membantu dalam mencapai gol yang secara bersama-sam ditetapkan. Apabila suatu rencan gagal, akan dengan mudah untuk mengatakan “saya bilang apa, ini bukan rencana saya, ini dari bos”. Ini merupakan indicator tidak adanya komitmen. Disisi lain, komitmen berlebihan pun akan memberikan masalah yaitu mengabaikan realita karena adanya hambatan dalam umpan balik, distorsi realitas, dan presepsi yang membingungkan antara kawan atau lawan.
  5. Gagal meninjau ulang gol. Berbagi hambatan dari 1 s/d 4 diatas akan mendorong terjadinya kegagalan dalam meninjau ulang gol. Kegagalan seolah di programkan ke rencana yang tidak memilki respon terhadap perubahan lingkungan, internal, dan eksternal.
  6. Gagal untuk belajar dari pengalaman. Sering dijumpai wirausahawan yang telah mealkukan “hal yang benar” tersebut diatas, namun tampaknya mereka tidak belajar atas apa yang mereka lakukan. Mereka akan mengabaikan umpan balik yang mereka terima sama dengan “kita terlambat jadwal, tapi anggaran kita berlebihan”, atau menolak umpan balik yang terjadi “coba periksa lagi data anda”. Kegagalan untuk belajar dari pengalaman lampau atau sekarang merupakan keengganan untuk merubah cara kerja mereka. Mereka berkilah, “sebelumnya bisa, ini pasti bisa”, maka fleksibilitas sangat diperlukan disini.

  1. I.    Boleh atau Perlu dan Jangan/Tidak Perlu.

Untuk memberikan usaha ada beberapa hal yang perlu atau tidak perlu dalam menyiapkan rencana usaha sebgai berikut :

  • Perlu dijaga agar rencana usaha sesingkat mungkin mengenai deskripsi usaha dan potensinya. Bahas isu utama yang akan menarik penyandang dana, sedangkan data detil diberikan setelah bertemu.
  • Wawancara dengan penyandang dana.
  • Tidak perlu melakukan diversifikasi, fokuskan perhatian pada satu atau dua produk dan pasar.
  • Jangan menyembunyikan identitas anggota tim anda sebagai contoh pak Badu yang sekarang bekerja di perusahaan lain, yang akan bergabung nanti. Yang diperlukan penyandang dana adalah siapa pak Badu dan komitmennya terhadap usaha.
  • Jangan mendiskripsikan produk teknik atau proses manufaktur yang hanya para ahli yang dapat mengerti.
  • Jangan memperkirakan penjualan berdasarkan apa yang akan anda bias, tetapi perkirakan secara hati-hati potensi penjualan, kemudian tentukan fasilitas produksi yang diperlukan.
  • Jangan membuat pertanyaan yang ambisius, tidak berdasar sebagai contoh jangan katakana bahwa pasar tumbuh dengan cepat. Tentukan dan gambarkan data lalu, sekarang, dan proyeksi pertumbuhan ke depan dan ukuran pasar.
  • Perlu terbuka dan mendiskusikan masalah sekarang dan potensinya. Bila tidak kredibilitas anda jatuh apabila dibelakang hari penyandang dana mengetahui.
  • Perlu melibatkan semua anggota tim manajemen untuk melakukan persiapan usaha seperti aspek legal, akuntansi, atau keuangan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. J.    Tahapan Penyusunan Rencana Usaha

  1. K.   Detail Aspek-aspek Perencanaan Usaha
    1. Industri (prospek industri, berbagai produk dan perkembangannya, pasar baru dan penggunanya, kebutuhan baru, perusahaan baru, kecenderungan dan faktor ekonomi/kondisi nasional yang mempengaruhi usaha secara positif atau negatif dan sumber informasi yang dipergunakan untuk menggambarkan kecenderungan industri)
    2. Perusahaan (deskripsi bidang usaha, produk/jasa yang ditawarkan, pengguna utama, latar belakang dan tanggal perusahaan berdiri, deskripsi identifikasi dan pengembangan produk dan keterlibatan perusahaan dalam prosesnya)
    3. Produk (barang/jasa) (deskripsi detail produk/jasa yang akan dijual, posisi kepemilikan seperti paten, rahasia dagang atau aspek kepemilikan lain, deskripsi potensi/kelebihan produk/jasa yang membuat unggul dalam persaingan)
    4. Riset pasar dan analisis (perlu data yang meyakinkan bahwa produk memiliki pasar yang substansial dalam industri yang tumbuh dan dapat memenuhi target penjualan)
  1. Deskripsi aspek-aspek usaha (apa yang anda kerjakan atau akan dikerjakan, produk yang ditawarkan, keadaan industri sekarang, peluang yang tersedia untuk memasarkan produk)
  1. Aspek pemasaran, terdiri dari:

1)    Pelanggan (pelanggan potensial dalam segmen pasar yang utama, siapa dan dimana pembeli utama dari produk dalam setiap segmen pasar?)

2)    Ukuran pasar dan kecenderungannya (cari data dari distributor, dealer, salesman, pelanggan)

3)    Persaingan (cari data untuk menentukan tingkat persaingan yang terjadi. Bandingkan produk yang bersaing dalam basis harga, kinerja, pelayanan, jaminan dan kelebihan lainnya. Tunjukkan kelebihan dan kekurangan produk pesaing dan jelaskan mengapa masih belum memuaskan pelanggan

4)    Perkiraan pangsa pasar dan penjualan (identifikasi pelanggan utama yang bersedia membeli, perkiraan penjualan dalam rupiah dan unit 3 tahun mendatang)

5)    Evaluasi pasar (jelaskan cara mengevaluasi secara berkesinambungan : terget pasar dalam rangka mengkaji kebutuhan pelanggan dan tuntutan dalam program, peningkatan produk dan program produk baru, rencana ekspansi dari fasilitas produksi, serta tuntunan dalam penentuan harga

  1. Rencana Pemasaran (memberikan gambaran detail dari strategi pemasaran, kebijakan penjualan dan pelayanan, penentuan harga, distribusi dan strategi iklan untuk mencapai pangsa pasar yang diproyeksikan)

1)    Strategi pemasaran secara keseluruhan (kelompok pelanggan yang menjadi target awal, cara mengenali dan menghubungi pelanggan potensial, apa yang akan ditekankan dari kelebihan produk (kualitas, harga, pengiriman, jaminan) dalam penjualan?

2)    Penentuan harga (buat sejumlah strategi harga sebelum memutuskan. Bahaslah harga yang ditetapkan dan bandingkan dengan pesaing utama

3)    Taktik penjualan (deskripsikan metoda yang akan digunakan untuk melakukan penjualan dan mendistribusikan produk, rencana awal dan rencana jangka panjang untuk tenaga penjualan. Bahaslah margin  untuk agen ritel, grosir, tenaga penjualan dan bandingkan dengan pesaing. Jika menggunakan distributor, deskripsikan cara memilih, kapan mereka akan mulai menjual dan area yang dilayani)

4)    Kebijakan jasa pelayanan dan jaminan

5)    Iklan dan promosi

  1. Desain dan pengembangan
  1. Status dan tugas pengembangan (deskripsikan status produk  saat ini, apa yang akan dikerjakan agar dapat dipasarkan. Deskripsikan kompetensi dan keahlian dari perusahaan dalam pengembangan
  2. Kesulitan dan resiko (identifikasi langkah-langkah antisipasi adanya masalah dalam desain dan pengembangan serta pendekatan yang dilakukan dalam solusi. Bahaslah efek yang mungkin terjadi pada jadwal, biaya desain dan pengembangan dan waktu pengenalan produk ke pasar
  3. Peningkatan produk dan produk baru (kelanjutan desain dan pengembangan yang direncanakan untuk menjaga produk tetap unggul dan langkah-langkah pengembangan produk baru yang terkait pada kelompok pelanggan yang sama)
  4. Biaya (anggaran desain dan pengembangan, termasuk biaya TK, Material, konsultan dll)
  5. Lokasi geografis (deskripsikan kekurangan dan kelebihan lokasi dari segi biaya TK, SP, ketersediaan TK, kedekatan dengan pelanggan, pemasok, jalur transportasi. Pajak, dan peraturan setempat
  6. Fasilitas dan peningkatannya
  7. Strategi dan rencana (deskripsikan kontrol kualitas, produksi, inventori, prosedur inspeksi, dan kontrol kualitas untuk meminimumkan masalah pelayanan dan keluhan pelanggan
  8. a.    Organisasi
  1. Rencana Manufaktur dan Operasional
  1. Tim Manajemen

Menyajikan peran kunci dari manajemen dalam perusahaan dan individu yang menempati posisi masing-masing.

  1. b.   Personel Kunci Dalam Manajemen

Diskripsikan secara tegas tugas dan tanggung jawab masing-masing anggota kunci dari tim manajemen.

  1. c.    Kompensasi Manajemen dan Kepemilikan

Keinginan untuk mendapatkan pendanaan di awal usaha tidak akan besar.

  1. d.    Dewan Direksi

Filosofi perusahaan terkait dengan ukuran dan komposisi dewan.

  1. e.    Pelayanan dari Profesional yang Mendukung

Organisasi pelayanan yang mendukung dikenal, memiliki reputasi, dan berkualitas. Hal ini tidak hanya memberikan asistensi profesional saja, tetapi juga menambah kredibilitas perusahaan.

  1. Aspek Risiko Kritis

Dalam aspek ini ada beberapa masalah yang harus diidentifikasi, yaitu dampak dari trend yang menguntungkan dalam industri, biaya desain, maupun pabrik yang melebihi kalkulasi dan pesaing-pesaing baru yang belum diperhitungkan.

  1. Rencana Keuangan
  1. a.    Perkiraan laba dan Rugi

Persiapan Pro Forma Laporan Laba Rugi adalah bagian dari perencanaan untuk laba dalam manajemen keuangan.

  1. b.   Analisis Pro Forma Laporan Arus Kas

Perkiraan arus kas dapat lebih penting daripada perkiraan laba karena detil dari jumlah uang dan penentuan waktu dari uang kas masuk dan keluar yang diharapkan.

  1. c.    Pro Forma Neraca Keuangan

Neraca keuangan dipergunakan untuk mendukung tingkat operasional

  1. d.    Diagram Titik Impas

Merupakan cara untuk menentukan tingkat penjualan dan produksi yang dapat menutup semua biaya.

  1. e.    Kontrol Biaya

Meliputi cara pelaporan biaya, siapa yang bertanggung jawab atas kontrol untuk berbagai elemen biaya dan seberapa sering memperoleh biaya.

  1. f.     Pendanaan yang diperlukan

Secara umum jelaskan berapa dana yang diperlukan, apa yang ditawarkan perusahaan untuk dana yang diterima, penggunaan apa dari dana yang diterima

 

 

  1. L.    Prinsip Analisis Biaya

Usaha perikanan  merupakan suatu kegiatan ekonomi di bidang  perikanan   dimana terdapat sejumlah unsur (input)  yang digunakan dan setiap input tersebut mengandung suatu nilai yang merupakan korbanan bagi pelaku usaha perikanan, yaitu sebagai biaya usaha perikanannnya.  Input usaha perikanan yang umumnya dibutuhkan oleh pekau usaha perikanan meliputi benih, lahan, mesin (alat), tenaga kerja, modal dan pengelolaan atau manajemen.

Input produksi saling berkaitan dan kedudukannya dalam usaha perikanan  sama penting sehingga sering disebut sebagai faktor produksi.  Pemahaman faktor produksi menyangkut masalah penguasaan dan pemilikan terhadap faktor-faktor produksi tersebut, dimana pemilikan memberikan kekuatan dan kekuasaan untuk berbuat terhadap faktor-faktor produksi dalam penggunaan pada proses produksi. Seseorang yang menguasai atau memiliki faktor produksi, dapat memberikan posisi atau status sosial yang tinggi di lingkungan masyarakatnya.

Lahan merupakan faktor produksi yang relatif langka dibanding dengan faktor produksi lain, selain itu distribusi penguasaannya dimasyarakat tidak merata dan tidak dapat dipindah-pindah walaupun dapat dipindahtangankan atau diperjualbelikan. Tenaga kerja dalam usahatani terbagi atas tenaga keja manusia, tenaga kerja ternak dan tenaga kerja mesin, dimana tenaga kerja manusia terbagi menjadi tenaga kerja pria, wanita dan anak – anak. Terdapat perbedaan konversi dalam penentuan kerja, sehingga perlu diseragamkan agar memudahkan dalam penentuan kerja. Untuk menyeragamkan, maka konversi tenaga kerja yang digunakan adalah Hari Kerja Pria (HKP).

Modal adalah barang atau uang yang bersama – sama dengan faktor produksi lain yang digunakan untuk menghasilkan barang baru, yaitu produk pertanian. Modal dapat dibedakan berdasarkan sifatnya menjadi modal tetap dan modal bergerak. Modal tetap adalah modal yang tidak habis dalam satu periode, meliputi tanah dan bangunan. Sedangkan modal bergerak adalah modal yang habis dalam satu periode, meliputi uang tunai dan sarana produksi.

Manajemen atau pengelolaan merupakan unsur terakhir dalam kegiatan usaha. Manajemen dalam usaha perikanan adalah kemampuan pelaku usaha perikana dalam menentukan, mengorganisir dan mengkoordinasikan faktor – faktor  produksi yang dikuasai untuk mencapai tujuan yang diharapkan.  Manajemen merupakan unsur usaha yang tidak berbentuk fisik akan tetapi unsur yang paling menentukan dalam keberhasilan usaha.

Keberadaan dan harga input usaha perikanan sangat menentukan dalam keberlanjutan usaha perikanan, sementara ketersediaannya bergantung kepada kondisi permintaan dan penawaran di pasar.  Dengan demikian, maka pelaku usaha perikanan perlu memahami prinsip-prinsip analisis biaya dalam penyelenggaraan usaha perikanannya.

Prinsip analisis biaya sangat penting karena  pelaku usaha perikanan dapat menguasai pengaturan biaya produksi dalam usahataninya tetapi tidak mampu mengatur harga komoditi (hasil produksi)  yang dijualnya atau memberikan nilai kepada komoditi tersebut.  Harga-harga tersebut ditentukan oleh berbagai faktor di luar usaha perikanan, termasuk pula faktor-faktor di luar negeri.  Apabila keadaan lainnya tidak berubah, pelaku usaha perikanan  harus mengurangi biaya persatuan komoditi yang dihasilkan bila ia ingin meningkatkan pendapatan bersih usahanya.

Penggolongan biaya produksi dilakukan berdasarkan sifatnya, meliputi  : 1) biaya tetap (fixed cost), dan  2) biaya tidak tetap (variable cost).  Biaya tetap ialah biaya yang tidak ada kaitannya dengan jumlah barang yang diproduksi.  Petani rumput laut harus mampu membayarnya, berapapun jumlah produksi yang dihasilkan dari  usaha budidayanya.  Biaya tetap menjadi sangat penting apabila petani rumput laut memikirkan tambahan investasi  seperti mesin, perahu, bangunan dan alat-alat lainnya.  Tiap tambahan investasi hanya dapat dibenarkan apabila petani rumput laut mampu membelinya dan dalam jangka panjang dapat memberikan arus keuntungan.

Biaya tidak tetap (variable cost) ialah biaya yang berubah apabila luas usahanya berubah.  Biaya ini ada apabila ada sesuatu barang yang diproduksi.   Sebagai contoh, banyaknya tenaga  kerja yang diperlukan dalam usaha rumput laut.  Apabila pelaku utama atau nelayan juragan  mengupah tenaga kerja (buruh perikanan), maka ketika produksi dapat meningkat, kebutuhan terhadap buruh/tenaga kerja  juga meningkat.  Tetapi apabila tidak ada produksi, maka tidak ada kebutuhan terhadap tenaga kerja (buruh perikanan) tersebut.

  1. M.  Analisis Pendapatan Usaha

Pendapatan dalam suatu kegiatan usaha  adalah balas jasa terhadap setiap faktor produksi dan merupakan ukuran keberhasilan kegiatan usaha.  Analisis pendapatan usaha perikanan  dilakukan untuk menggambarkan keadaan sekarang dari suatu kegiatan usaha perikanan  atau untuk menggambarkan keadaan yang akan datang dari perencanaan atau tindakan dalam kegiatan usaha perikanan.  Bagi pelaku usaha perikanan, analisis pendapatan dapat digunakan untuk mengukur apakah kegiatan usaha yang dilaksanakan berhasil atau tidak.  Informasi yang diperlukan dalam analisis pendapatan adalah jumlah penerimaan dan jumlah pengeluaran usaha perikanan dalam jangka waktu yang telah ditetapkan.

Pada analisis pendapatan usaha perikanan ini,  perhitungan didasarkan kepada biaya tunai dan biaya tidak tunai atau biaya yang diperhitungkan. Biaya tunai digunakan untuk melihat seberapa besar likuiditas tunai yang dibutuhkan pelaku utama perikanan untuk menjalankan kegiatan usaha di bidang perikanan.   Biaya tidak tunai digunakan untuk menghitung berapa sebenarnya pendapatan kerja pelaku utama jika bunga modal dan nilai kerja keluarga diperhitungkan.

Penerimaan total merupakan nilai produk dari suatu usaha yaitu harga produk dikalikan dengan total produksi. Total biaya atau pengeluaran dari suatu usaha agribisnis merupakan jumlah seluruh biaya yang dikeluarkan untuk melakukan kegiatan budidaya dalam memproduksi komoditi perikanan. Pendapatan total usaha merupakan selisih antara penerimaan total dengan pengeluaran total.

Umumnya pendapatan usaha (keuntungan) dihitung untuk satu tahun kegiatan usaha.    Keuntungan usaha dapat pula dihitung per musim tanam, dengan tetap menyesuaikan perhitunan besarnya beberapa jenis biaya secara proporsional, misalnya besarnya biaya penyusutan yang merupakan salah satu komponen dari biaya tetap (fixed cost).  Berarti apabila telah dilakukan perhitungan biaya penyusutan untuk satu tahun, maka jika akan dihitung besarnya keuntungan per musim tanam, harus dilakukan pembagian dengan angka 8.

Pendapatan usaha (keuntungan) dihitung dengan menggunakan rumus :

p  = TR – TC

 


Keterangan :

 p   = Keuntungan    (Rp)

 TR =  Total Revenue  atau Penerimaan Total (Rp)

 TC = Total Cost atau  Biaya Total (Rp)

TR = P x Q

 

Dalam hal ini Total Revenue  atau Penerimaan Total merupakan perkalian antara jumlah barang yang diproduksi/dipasarkan dengan harga barang tersebut; dengan asumsi bahwa semua barang yang diproduksi dapat dipasarkan seluruhnya.   Total Revenue  atau Penerimaan Total dalam bahasa perdagangan sehari-hari dikenal dengan sebutan omzet.   Total Revenue  atau Penerimaan Total dirumuskan sebagai berikut :

Keterangan :

TR =  Total Revenue  atau Penerimaan  Total (Rp)

P   =  Harga jual (Rp/Kg)

Q   =  Jumlah barang yang dijual  (Kg)

Adapun Total Cost atau Biaya Total merupakan penjumlahan dari Biaya Tetap (fixed cost) dengan biaya variabel (variable cost).  Dalam bentuk matematis Total Cost dirumuskan sebagai berikut :

TC = FC + VC


Keterangan :

TC  =  Total Cost  atau Biaya Total  (Rp)

FC  =   Fixed Cost atau Biaya Tetap (Rp)

VC  =   Variable Cost atau Biaya Variabel (Rp)

Untuk dapat menghitung besarnya keuntungan usaha, pelaku utama/usaha perikanan dituntut untuk mampu mengidentifikasi dan  melakukan pencatatan dengan baik setiap biaya investasi dan biaya-biaya total yang dikeluarkan dalam kegiatan usahanya.

Dalam menghitung keuntungan usaha,  diperlukan data biaya yang sifatnya mendukung/melengkapi total  biaya yang digunakan, yaitu berupa biaya penyusutan.  Biaya penyusutan ini mudah dihitung dan data dasarnya berasal dari data  biaya investasi.  Biaya penyusutan ini dihitung dengan menggunakan metode garis lurus, dengan rumus sebagai berikut :

Penyusutan  =   harga   beli  – nilai sisa

                                     umur  ekonomis (tahun)

Keterangan :

Penyusutan dalam satuan Rp/thn

Harga beli dalam satuan Rupiah

Nilai sisa dalam satuan Rupiah

  1. N.   Analisis Efisiensi Usaha

Efisiensi usaha  merupakan salah satu ukuran keberhasilan usaha perikanan. Untuk mengukur efisiensi usaha digunakan rasio imbangan penerimaan dan biaya yang dikeluarkan (R/C) yang merupakan perbandingan antara pendapatan kotor yang diterima usahatani dari setiap rupiah biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi.  Secara teoritis R/C menunjukan bahwa setiap satu rupiah biaya yang dikeluarkan akan memperoleh penerimaan sebesar nilai R/C-nya  R/C ratio dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

R/C  =  TR

        TC

Kriteria :

Bila R/C  >  1, maka usaha dinyatakan menguntungkan

Bila R/C  =  1, usaha mengalami impas

Bila R/C  <  1, usaha mengalami kerugian

  1. O.   Analisis Waktu Balik Modal (Payback Period/PP)

Payback Period merupakan cara penilaian investasi yang didasarkan pada pelunasan biaya investasi oleh keuntungan atau dengan kata lain Payback Period adalah waktu yang diperlukan untuk mengembalikan modal yang telah ditanamkan.

Secara matemetis Payback Period dapat dirumuskan sebagai berikut :

PP =  I

          p


Keterangan :

PP  = Payback Period (tahun)

I     = Investasi  (Rp)

p     =   Keuntungan (Rp/tahun)

Dengan kriteria, semakin singkat periode tingkat pengembalian modal maka usaha tersebut layak untuk diusahakan.

  1. P.   Analisis Harga Pokok Penjualan (HPP)

Harga pokok produksi merupakan  semua pengeluaran  yang dikeluarkan baik secara langsung maupun tidak langsung untuk menghasilkan barang atau jasa yang akan dijual.   Harga pokok produk dirumuskan sebagai berikut :

                        HPP =  Total  Biaya  produksi dan pemasaran    

                                       Total  produk yang dihasilkan

Keterangan :

Biaya pokok produksi dalam satuan Rupiah

Total jumlah produksi dalam satuan Kg

HPP dalam satuan Rupiah/Kg

Dengan mengatahui HPP,  pelaku utama/usaha perikanan  dapat menghitung/ menentukan  besarnya marjin (perbedaan) antara  harga  penjualan produknya dengan biaya produksi yang telah dikeluarkannya.  Besarnya marjin harga diperoleh dengan cara mengurangkan harga jual produk  dengan HPPnya.   Apabila harga jual produk lebih besar dari HPP, maka pelaku utama/usaha perikanan dapat memperoleh keuntungan, sedangkan apabila harga jual peroduk lebih kecil dari HPP, maka pelaku utama/usaha perikanan akan mengalami kerugian.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s