info unik, Pengaruh Suara Terhadap Ikan


Keragaman Hasil Penelitian Pengaruh Suara Terhadap Ikan
Popper dan Hastings (2009) melaporkan bahwa perhatian dunia internasional makin meningkat terhadap pengaruh suara yang dibangkitkan-manusia terhadap ikan dan organisme air lainnya. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa suara yang dibangkitkan-manusia, sekalipun dari sumber berintensitas sangat tinggi, mungkin tidak berpengaruh pada beberapa kasus atau mungkin memberikan pengaruh yang berkisar dari perubahan kecil tingkah laku dan bersifat sementara sampai kematian mendadak. Dalam hal ini, bagaimanapun, hampir tidak mungkin untuk membuat kesimpulan umum berdasarkan hasil penelitian yang menggunakan satu sumber suara, satu spesies ikan, atau bahkan ikan dari satu kelompok ukuran untuk diterapkan pada sumber suara lain, spesies lain atau kelompok ukuran lain.

Penggunaan Suara Untuk Mengendalikan Tingkah Laku Ikan
Popper dan Carlson (1998) mengulas hasil-hasil penelitian mengenai penggunaan beberapa macam sinyal indra untuk mengendalikan dan memodifikasi tingkah laku ikan, terutama suara. Suara dalam kisaran infrasonik sampai ultrasonik berpotensi bisa berguna untuk mengendalikan tingkah laku ikan. Bagaimanapun, kebanyakan penelitian seperti ini memberikan hasil-hasil yang bertolak belakang kecuali bila ultrasonik digunakan untuk mengendalikan spesis ikan clupeidae. Diduga bahwa suara bila digabungkan dengan cahaya bisa digunakan untuk mengendalikan tingkah laku ikan.

Upaya Menarik Ikan Dengan Suara Berfrekuensi Rendah
Richard (1968) melakukan serangkaian penelitian untuk menentukan efektivitas sinyal suara berfrekuensi rendah dalam menarik ikan. Sinyal suara dibuat untuk merangsang pembentukan gangguan hidrodinamis yang biasanya berkaitan dengan pemangsaan aktif. Televisi bawah-air digunakan untuk mengamati kedatangan ikan selama periode kontrol maupun periode uji. Ikan pemangsa demersal berhasil ditarik meskipun mereka terbiasa berespon cepat terhadap rangsangan suara. Ikan karang herbivora, walaupun umum di sekitar lokasi uji, tidak tertarik. Disimpulkan bahwa teknik akustik untuk menarik ikan mempunyai potensi untuk diterapkan dalam perikanan komersial.

Dapatkah Mengusir Ikan Dengan Suara Berfrekuensi Tinggi ?
Dunning et al. (1992) mengamati respon ikan Alosa pseudoharengusterhadap suara berfrekuensi tinggi untuk mengembangkan sistem akustik guna mencegah ikan mendekati saluran pemasukan air di stasiun pembangkit listrik. Empat kelompok ikan dikenai berbagai frekuensi suara yang berkisar dari 110 sampai 150 kHz dengan tekanan suara 125 sampai 180 desiBell. Setiap kelompok ikan yang masing-masingnya terdiri-dari 20 atau 25 ikan diuji di dalam kurungan yang digantung di dalam air. Selama siang hari ikan menggerombol dan sangat menghindari nada yang putus-putus pada frekeunsi 110 dan 125 kHz dengan kebisingan 175 dB atau lebih, nada yang kontinyu pada 125 kHz dan 172 dB, dan suara “broadband” (jalur lebar) yang putus-putus antara 117 dan 133 kHz atau di atas 157 dB. Walaupun ikan dibiasakan dengan nada-nada ini, mereka makin menghindari suara broadband putus-putus pada 163 dB. Respon yang makin mantap dalam menghindari suara broadband mungkin disebabkan kisaran frekuensi sinyal ini. Pada malam hari, ikan Alosatidak menggerombol, tidak berenang aktif dan tidak bereaksi dengan kuat terhadap suara broaband. Melemahnya respon penghindaran pada malam hari mungkin disebabkan tidak terbentuknya gerombolan ikan dan berkurangnya aktivitas renang.

Kerusakan Pada Tubuh Ikan Akibat Suara
Hastings (1991) melaporkan bahwa suara yang mengganggu organisme air sering timbul di perairan; akibatnya, kebanyakan energi suara dari sumber bawah-air akan memasuki dan berinteraksi dengan tubuh organisme air tersebut. Suara yang sangat kuat bisa membuat tuli atau bahkan membunuh ikan. Hasil-hasil beberapa penelitian menunjukkan adanya kerusakan yang nyata seperti tuli dan organ dalam pecah yang disebabkan oleh suara bawah-air. Data yang tersedia menunjukkan, bagaimanapun, bahwa ikan menderita kerusakan organ-dalam dan gangguan fisiologi serta kerusakan fisik bila terkena tekanan suara yang cukup kuat selama periode yang relatif singkat. Hasil-hasil percobaan membuktikan adanya keterkaitan antara tekanan suara bawah-air yang berfrekuensi 100 sampai 500 Hz dengan berbagai bentuk kerusakan pada tiga spesies ikan air tawar. Disimpulkan bahwa ikan bisa menderita kerusakan morfologis internal (misal kerusakan pada bagian sel-sel rambut yang ada di telinga-dalam) meskipun tidak mengalami kerusakan fisik pada tubuh bagian luar atau gangguan tingkah laku. Jadi, tingkat tekanan suara yang berbahaya bagi organisme air mungkin sebenarnya jauh lebih rendah daripada yang biasanya dilaporkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s