Sentra Budidaya Patin di Kabupaten Muaro Jambi sebuah Tantangan


Luas wilayah Kabupaten Muaro Jambi adalah 5.246 Km2 terdiri dari: 11 kecamatan, 145 desa dan 5 kelurahan. Batas di sebelah selatan oleh Provinsi Sumatera Selatan, sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Batang Hari, sebelah timur dengan Kabupaten Tanjung Jabung Timur, di sebelah utara dengan Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Kabupaten Muaro Jambi dibagi menjadi 7 wilayah kecamatan. Kabupaten Muaro Jambi terletak di antara 1° 15′ LS-2 °20 Lintang Selatan dan diantara 103° 10′ – 104° 20′ Bujur Timur.

Kabupaten Muaro Jambi beriklim tropis dan dengan ketinggian dari permukaan laut bervariasi antara 0-10 meter = 11,8 persen, 11-1000 meter = 83,7 persen, dan 1001-500 meter = 4,5 persen, sehingga wilayahnya sebagian besar merupakan dataran rendah. Rata-rata curah hujan bulanan sebesar 192 mm dengan 16 hari hujan, suhu udara rata-rata per hari sebesar 26,2 °C. Jarak ibukota Kabupaten Muaro Jambi (Sangeti) ke Kota Jambi sejauh 38 km.

Kegiatan ekonomi sektor perikanan di kabupaten ini telah meningkat pesat pada awal tahun 2010 hingga saat ini. Sesuai dengan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Kepmen 32/Men/2010 14 Mei 2010 Tentang Penetapan Kawasan Minapolitan, kabupaten muaro Jambi di tetapkan menjadi kawasan minapolitan (minapolisnya berada di desa pudak) kecamatan kumpeh Ulu dengan produk unggulan ikan patin. Kabupaten Muaro Jambi termasuk sentra produksi perikanan yang cukup potensial, hal ini tidak terlepas dari kondisi geografis wilayah yang dialiri sungai Batang hari yang sangat baik untuk budidaya ikan perairan umum serta geografis wilayah yang mempunyai cukup banyak lahan basah/rawa. Pengembangan budidaya perikanan utama dibagi atas dua kelompok, yaitu:

  • Perairan umum, dilakukan disepanjang sungai Batang Hari, dengan sistem kerambah jaring apung (KJA) ini terpusat di Kecamatan Jambi Luar Kota, Sekernan, Maro sebo dan Kumpeh Ilir.
  • Budidaya kolam, dilakukan di daerah dataran rendah/ berawa yang banyak terdapat di kecamatan Sungai Gelam dan Kumpeh Ulu.

Produksi perikanan Kabupaten Muaro Jambi cukup besar mencapai 11.143.98 ton pertahun, terdiri dari perairan umum 859.18 ton dan budidaya 10.283.80 ton. Jenis komoditas sebagian besar didominasi oleh ikan jenis Patin, Nila dan Lele yang sebagian besar dijual untuk memenuhi pasar lokal dan Kota Jambi, Kab. Tebo, Sumatera Selatan dan Bengkulu serta kota lainnya. Selain itu saat ini pemerintah  pusat juga tengah berupaya mengoperasikan Unit Pengolahan Ikan yang bertempat di desa Kemingking, Kecamatan Taman Rajo. Produk Unit Pengolahan Ikan ini direncanakan berupa fillet ikan patin.

Kawasan Budidaya Ikan Desa Tangkit Baru Kecamatan Sungai Gelam salah satu lokasi pengembangan budidaya ikan patin yang cukup terkenal di Provinsi Jambi. Pelaku utama di Desa Tangkit Baru yang menjadi perintis dari usaha budidaya ikan patin sejak tahun 1998 yang bernama Baso Patolai, SP, S.Pt, MP (ketua Kelompok Mina Sukses). Kawasan budidaya ikan patin di tempat ini dikembangkan oleh 13 kelompok  pembudidaya dengan luas areal budidaya 125 Ha yang terdiri dari 2400 petak kolam dengan potensi pengembangan kawasan 125 Ha, produksi ikan yang dihasilkan sebanyak 6000-8000 kg/hari.  Saat kegiatan kunjungan lapangan dilaksanakan (tanggal 10 Juni 2012) harga patin di Provinsi Jambi (khususnya Kab.Muaro Jambi) sedang mengalami penurunan. Keluhan ini yang disampaikan oleh ketua kelompok Mina Sukses.

Kawasan Budidaya Patin lainya yang ada di Kabupaten Muaro Jambi adalah di Desa Pudak Kecamatan Kumpeh Ulu. Desa Pudak Kecamatan Kumpeh Ulu memiliki luas wilayah sekitar 12 Km2 dengan jumlah penduduk sekitar 4280 jiwa merupakan pelopor pengembangan kawasan budidaya ikan patin terbesar di  Provinsi Jambi setelah di Desa Tangkit Baru. Desa lain yang mengembangkan usaha budidaya ikan patin yakni Kota Karang, Lopak Alai dan Tarikan. Potensi pengembangan areal kawasan budidaya patin di Kecamatan Kumpeh Ulu seluas 700 Ha dengan potensi kolam efektif sebanyak 15.000 unit. Luas pemanfaatan lahan budidaya sebesar 49,2 Ha dengan 1.737 petak kolam. Rata-rata produksi per unit kolam 1.500-2.500 kg dengan jumlah kolam produktif sebanyak 805 unit.

Jumlah pelaku utama yang ada sebanyak 297 orang yang tergabung kedalam 20 kelompok pembudidaya ikan. Selain kegiatan budidaya di kecamatan ini tumbuh juga usaha pendukung budidaya berupa UPR sebanyak 4 UPR, 2 unit mesin pellet kapasitas 1 ton per hari, 27 unit mesin pellet kapasitas 200-500 kg/hari, 1 unit hatchery, 1 unit pengolahan abon ikan, 1 unit pengolahan kerupuk ikan.

 

      Kabupaten Batang Hari

Kabupaten Batang Hari terletak di bagian timur Provinsi Jambi dengan Luas Wilayah 5.180,35 Km2 dan berada diantara 1o 15’ Lintang Selatan sampai dengan 2o 2’ Lintang Selatan dan diantara 102o 30` Bujur Timur sampai dengan 104o 30` Bujur Timur, dengan batas wilayah sebagai berikut ;

      Sebelah Timur dengan kabupaten Muaro jambi

      Sebelah Utara dengan Kabupaten Muaro jambi dan Kabupaten Tebo

      Sebelah Barat dengan Kabupaten Tebo

      Sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Sorolangun, Kabupaten Muaro jambi, dan Kabupaten Musi Banyu Asin Provinsi Sumatera Selatan.

Secara topografis Kabupaten Batang Hari merupakan wilayah dataran rendah dan rawa yang dibelah Sungai Batanghari. Sungai ini sepanjang tahun tergenang air, dimana menurut elevasinya daerah ini terdiri dari 0-10 meter dari permukaan laut (11,80 %), 11-100 meter dari permukaan laut 83,70 %, dan 4,50 % wilayahnya berada pada ketinggian 101-500 meter dari permukaan laut. Batang Hari memiliki potensi perairan umum yang cukup luas yaitu sekitar 2.200 hektar, tetapi dalam pemanfaatan lahan sekitar 28,1 hektar dengan jumlah kolam 475 unit.

Budidaya ikan kerambah di Batang Hari merupakan kegiatan perikanan dengan prospek cerah, dimana terdapat sekitar 17.600 unit kerambah, tetapi yang termanfaatkan sekitar 180 unit. Jenis ikan yang dikembangkan adalah patin dan nila. Potensi lahan budidaya ikan kolam, terdapat cadangan lahan seluas 5.962 hektar termanfaatkan hanya sekitar 106,8 hektar dengan. Komoditas ikan yang diusahan adalah patin, nila, gurame dan mas. Pengolaha hasil perikanan di Kecamatan pemayung ada 2 unit pengolahan diantaranya adalah  pengolahan abon ikan patin dan salai ikan patin. Jenis olahan tersebut kebanyakan belum memanfaatkan secara maksimal seluruh bagian ikan serta kurangnya modal untuk pengembangan usaha tersebut.

             Sentra Produksi Perikanan Kabupaten Batang Hari berada di sentra Minapolitan Kecamatan Pemayung. Kawasan pengembangan terdiri 11 Desa yang terdiri dari Desa kubu kandang, kuap, senaning, lubuk ruso, teluk ketapang, ture, pulau betung, lopak aur, simpang kubu kandang, jembatan mas dan selat. Total wilayah tersebut memiliki potensi  seluas 95.750 Ha. Potensi perikanan yang ada terbesar berada di Desa Lubuk Ruso sebesar 119 Unit kolam yang terus bertambah. Jumlah kolam ini akan bertambah secara signifikan pada tahun 2012 sebagaiman usulan pembuatan kolam yang sudah masuk ke Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Batang Hari. Jumlah kolam yang akan dibuat (diusulkan) oleh 25 pelaku utama sebanyak 75 unit kolam.

Jumlah pelau utama yang aktif melaksanakan usaha budidaya sebnayak 121 orang yang tergabung dalam 13 kelompok. Komoditas yang dikembangkan dari jenis ikan patin dengan volume produksi sebnayk 2000 kg/hari dengan tujuan Kabupaten Batang Hari, Sorolangun dan Bengkulu. Harga komoditas ikan patin pada saat roadshow sedang mengalami penurunan yang cukup sinifikan yang merupakan harga pada titik terendah sejak 2 (dua) tahun. Harga rata-rata ikan patin pada tingkat pembudidaya (jual dikolam) sebesar 10.300/kg. Berdasarkan hasil dialog/tanya jawab dengan kontak pelaku utama, ada beberapa permasalahan yang dihadapi di Kawasan tersebut, antara lain:

  • Rendahnya harga jual ikan ditingkat pembudidaya menyebabkan berkurangnya tingkat keuntungan pelaku utama, hal ini diakibatkan oleh tingginya tingginya produksi patin serta serapan pasar yang relative stagnan. Biaya produksi ikan patin telah meningkat akibat kenaikan harga pakan, sehingga biaya produksi budidaya ikan patin menjadi 9.500/kg dengan harga jual pada saat kunjungan ini sebesar Rp. 10.000/kg.
  • Keterbatasan jumlah penyuluh perikanan PNS yang mendampingi pelaku utama dikawasan ini, dimana penyuluh perikanan yang ada hanya 1 (satu) orang PPTK  (M. Afrizal, S.Pi).
  • Mulai adanya serangan penyakit ikan yang dihadapi dikolam yang berasal dari bakteri maupun virus. Hasil uji laboraturium BBAT Jambi menunjukkan adanya beberapa pathogen yang menyerang.
  • Terbatasnya saluran irigasi dan saluran pembuangan yang mengakibatkan sulitnya mengatur air serta menyulitkan proses budidaya secara keseluruhan.
  • Jalan produksi yang masih berupa tanah (belum dilakukan pengaspalan), menyulitkan pengangkutan produksi apabila musim hujan.

Potensi pengembangan komoditas ikan patin yang tersebar secara luas di Kabupaten Muaro Jambi, Kabupaten Batanghari dan Kota Jambi sangat prospektif. Faktor pengembangan pasar yang kompetitif manjadi tuntutan pada tahun 2012 ini. Rendahnya daya saing produk patin konsumsi, menurunya permintaan pasar menambah keruh bisnis ikan golongan catfish ini mengalami goncangan sebagaiman permasalahan yang sudah disampaikan oleh pelaku utama menjadi pekerjaan tersendiri baik untuk pemerintah daerah, KKP, pengusaha, penyedia sarana produksi dan stakeholder lainnya. Padahal lahan pengembangan komoditas ikan patin hamper bisa dikatakan tidak terbatas. Bagaimana kita mengambil posisi untuk mendukung bisnis ikan patin di jambi agar berkembang go nasional bahkan internasional, sebagai penyuluh perikanan kita harus bisa berfikir untuk solusi permasalahan ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s