“Baung” Komoditas Perikanan Prospektif


37--ikan-baungPenyuluh Peikanan memerlukan inovasi yang terus tumbuh dan berkembang seiring  dengan kemajuan lingkungan stategis dan kebutuhan pasar yang semakin tidak terkendali. Komoditas ikan lokal yang mulai punah keberadaannya menjadi tantangan tersendiri bagi penyuluh perikanan untuk mulai mencoba mengembangakan komoditas ini dan salah satunya berasal dari ikan golongan cat fish yaitu ikan baung (Mystus nemurus). Ikan ini banyak memiliki nama daerah dan merupakan salah satu komoditas budidaya air tawar yang tergolong belum banyak dikembangkan secara luas oleh masyarakat. 

Di Jawa Barat ikan baung dikenal dengan nama tagih, sengal atau singgah,di Jawa Tengah, tageh, di Jakarta dan Malaysia, bawon,di Serawak disebut baon, di Kalimantan Tengah, niken, siken, tiken, bato, baung putih,kendinya dan di Sumatera, baong. Tekstur dari ikan ini sangat lembut dengan warna daging putih (ada juga yang merah muda) pada bagian daging tidak ada duri-duri kecil (halus) karakter daging seperti ini yang manjadikan ikan baung semakin digemari oleh masyarakat.

Untuk di Sumatera yang merupakan Wilayah Kerja Penyuluhan (KORWIL I) terdapat beberapa wilayah penghasil ikan baung lokal (sungai, perairan umum) seperti Sumatera Selatan, Jambi, Riau, Bengkulu, Sumatera Utara, Aceh dan Bangka Belitung. Sebelumnya produksi ikan baung mengandalkan hasil tangkapan dialam (sungai). Semakin banyaknya perubahan lingkungan perairan umum menyebabkan terjadinya penurunan jumlah dan ukuran ikan yang berhasil ditangkap, hal ini juga yang mengkhawatirkan terjadinya penurunan populasi ikan secara sigifikan bahkan menurut informasi di beberapa sungai di Jawa Barat Ikan ini sudah mulai punah.

Sejak Tahun 1998 Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar  (BBPBAT) Sukabumi telah berhasil melakukan pemijahan buatan untuk komoditas ikan baung. Penguasaan teknologi perbenihan ini mendorong upaya budidaya pembesaran yang lebih berkembang dan diharapkan secara bertahap dapat memenuhi kebutuhan dan minat masyarakat. Ikan baung memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi, sebagai contoh di Pekanbaru harga baung konsumsi berkisar antara  Rp. 40.000-60.000/kg dengan berat 500 gram/ekor.

 Berdasarkan stastistika ikan baung dapat dikelompokan berdasarkan:

 Phylum        : Chordata

Class           : Pisces

Sub Class     : Teleostei

Ordo            : Ostariophysi

Sub Ordo      : Siluridae

Family          : Bagridae

Genus           : Mystus

Species         : Mystus nemurus

Ciri fisik secara umum memiliki kumis atau sungut yang panjangnya dapat mencapai bagian organ mata. Badan tidak memiliki sisik, memiliki sirip dada dan sirip lemak yang besar dengan mulut melengkung. Warna tubuh coklat kehijauan dengan karakter (sifat) omnivora yang memiliki kebiasaan hidup didasar periran. Untuk ikan jantan memiliki tubuh yang lebih pendek dengan dua buah lubang kelamin yang mebulan, sedangkan pada baung jantan ukuran tubuh relatif lebih memanjang dengan satu buah organ kelamin yang bentuknya memanjang.

PEMBENIHAN

Pematangan Gonad

Pematangan gonad dilakukan di kolam beraliran air yang kontinyu dengan kepadatan 0,2–0,5 kg/m², diberi pakan berupa pelet sebanyak 3-4% per hari dari bobot tubuhnya.

Seleksi Induk

Seleksi bertujuan untuk mengetahui tingkat kematangan induk yang akan dipijahkan. Induk betina ditandai dengan perutnya yang buncit dan lembut, bila diurut telur yang keluar bentuknya bulat utuh berwarna kecoklatan. Induk jantan ditandai dengan warna tubuh dan alat kelaminnya agak kemerahan.

 Penyuntikan

Induk betina disuntik Ovaprim™ dengan dosis sebanyak 0,6 ml/kg dan jantan 0,2 ml/kg. Penyuntikan dilakukan dua kali dengan selang waktu 8–10 jam. Setiap penyuntikan sebanyak 1/2 dosis total. Penyuntikan dilakukan pada bagian punggung.

 Pemijahan/Pengurutan

Apabila dipijahkan secara alami, induk jantan dan betina yang sudah disuntik disatukan dalm bak yang sudah diberikan ijuk dan biarkan memijah sendiri. Apabika akan diurut, maka pengurutan dilakukan 6–8 jam setelah penyuntikan II. Langkah pertama adalah menyiapkan sperma : ambil kantong sperma dari induk dengan membedah sperma perutnya, gunting kantong sperma dan keluarkan. Cairan sperma ditampung dalam gelas yang sudah diisi NaCl 0,9% sebanyak 1/2bagiannya. Aduk hingga rata. Bila terlalu pekat, tambahkan NaCl sampai larutan berwarna putih susu agak encer. Ambil induk betina yang akan dikeluarkan telurnya. Pijit bagian perut ke arah lubang kelamin sampai telurnya keluar. Telur ditampung dalam mangkuk yang bersih dan kering. Masukan larutan sperma sedikit demi sedikit dan aduk sampai merata.

Agar menjadi pembuahan tambahkan air bersih dan aduklah sampai merata sehingga pembuahan dapat berlangsung dengan baik, untuk mencuci telur dari darah dan kotoran lainnya, tambahkan lagi air bersih kemudian dibuang. Lakukan pembilasan 2–3 kali agar bersih. Telur yang sudah bersih dimasukkan kedalam akuarium penetesan yang sudah diisi air. Cara memasukkan, telur diambil dengan bulu ayam, lalu sebarkan ke seluruh permukaan akuarium sampai merata. Dalam 36 jam telur akan menetes dan larva yang dihasilkan dipindahkan ke akuarium pemeliharaan larva. Setelah berumur dua hari, larva diberi makan kutu air (Moina sp atau Daphnia sp) atau

cacing sutra (Tubifex sp) yang telah dicincang. Setelah berumur empat hari larva diberi makan cacing sutra hingga berumur tujuh hari.

 Pendederan

Persiapan kolam pendederan dilakukan seminggu sebelum penebaran larva, yang meliputi pengeringan, perbaikan pematang, pengolahan tanah dasar dan pembuatan kemalir. Pengapuran dilakukan dengan melarutkan kapur tohor ke dalam tong, kemudian disebarkan ke seluruh pematang dan dasar kolam. Dosisnya 50gr/m². Pemupukan menggunakan kotoran ayam yang sudah dikeringkan dengan dosis 500 – 1.000 gr/m². Kolam diisi air setinggi 40 cm dan setelah 3 hari disemprot dengan insektisida organophosphat 4 ppm dan dibiarkan selama 4 hari. Benih ditebar pada pagi hari dengan kepadatan 100 ekor/m². Pendederan 1 dilakukan selama 14 hari, pendederan II selam 30 hari. Pakan diberikan setiap hari berupa tepung pelet sebanyak 0,75 gr/1.000 ekor.

PENCEGAHAN PENYAKIT

Penyakit yang sering menyerang ikan baung adalah Ichthyopthirius multifiliis atau lebih dikenal dengan white spot (bintik putih). Pencegahan, dapat dilakukan dengan persiapan kolam yang baik, terutama pengeringan dan pengapuran. Pengobatan dilakukan dengan menebarkan garam dapur sebanyak 200 gr/m³ setiap 10 hari selama pemeliharaan atau merendam ikan yang sakit ke dalam larutan Oxytetracyclin 2 mg/liter. Penyakit juga bisa diatasi dengan pencegahan melalui menajemen budidaya yang baik. Pengaturan kualitas air seperti pH, DO dan Suhu mutlak harus dilakukan untuk menjamin kesuksesan budidaya.

 PENGEMBANGAN USAHA

Sebagai innovator, penyuluh perikanan harus segera merespon terhadap kebutuhan teknologi selain dari pertimbangan unsur kebutuhan pasar. Untuk wiayah tertentu dengan kebutuhan pasar yang tinggi dan harga yang cukup menjanjikan (diatas rata-rata harga komoditas air tawar) sangat disarankan untuk mendorong pelaku utama/pelaku usaha mengembangkan komoditas ini. Ada skema yang bisa ditempuh oleh penyuluh perikanan seperti kerjasama budidaya (penyuluh investasi) dan penyuluh perikanan sendiri menjamin pasar. Strategi lain bisa di lakukan dengan mendatangkan investor untuk mendongkrak semangat budidaya, agar lebih mentap dan menyakinkan bisa dilakukan kontrak dengan pembeli (buyer) untuk menjamin serapan pasar dan harga jual.

Sumber : BBPBAT Sukabumi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s