POTENSI PERIKANAN SUMATERA (Bagian 1)


cropped-10941_1600x1200-wallpaper-cb1267713152.jpgPotensi Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus berupaya menggerakan roda industrialisasi kelautan dan perikanan di Indonesia. Strategi industrialisasi perikanan ditempuh untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing usaha perikanan, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat. Selain itu, industrialisasi diharapkan mampu memperkokoh struktur usaha perikanan yang memberi multiflier effect terhadap roda perekonomian nasional.

Industrialisasi di sektor kelautan dan perikanan dapat tumbuh sebagai salah satu penggerak utama perekonomian nasional. Hal ini didasarkan pada lima alasan yaitu: Pertama, meningkatnya permintaan pasar yang diikuti oleh kemampuan dan kapasitas suplai produksi yang terbilang sangat besar. Kedua, output yang dihasilkan dari komoditas ini dapat diekspor, sedangkan faktor produksi berasal dari sumber daya lokal. Ketiga, industri yang dibangkitkan baik di hulu maupun di hilir dapat menyerap banyak tenaga kerja. Keempat, kegiatan usaha kelautan dan perikanan pada umumnya berlangsung di daerah-daerah. Apabila dikembangkan dengan serius dapat menjadi pusat pertumbuhan ekonomi di daerah. Kelima, berkembangnya industri perikanan yang selaras dengan blue economy, termasuk bioteknologi dan pariwisata bahari bersifat yang dapat diperbaharui, sehingga mendukung adanya pembangunan yang berkelanjutan.

Sebagai wujud nyata pemerintah dalam melaksanakan industrialisasi perikanan, KKP akan mengembangkan potensi kelautan dan perikanan di seluruh provinsi di Indonesia. KKP telah memberikan dukungan anggaran dan kegiatan baik melalui dana dekonsentrasi, tugas pembantuan, maupun dana alokasi khusus yang langsung diberikan kepada Provinsi dan Kabupaten/Kota. Terkait dengan program pemberdayaan dan kewirausahaan bagi masyarakat serta pengentasan kemiskinan di Indonesia, KKP telah mengalokasikan anggaran dan kegiatan, antara lain untuk program Pengembangan Usaha Mina Perdesaan (PUMP), Pengembangan Usaha Garam Rakyat (Pugar), Sertifikat Hak atas Tanah Nelayan, dan Pembangunan Kapal 10-30 GT dan lebih dari 30 GT. Sedangkan untuk pengembangan prasarana, dilakukan melalui pembangunan pelabuhan perikanan, pengembangan sistem perbenihan ikan, pemantauan mutu benih, pengadaan sarana dan prasarana pendukung pemasaran, serta dukungan sarana dan prasarana untuk mendukung penerapan sistem rantai dingin.

Upaya dalam mendukung industrialisasi perikanan, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kelautan dan Perikanan memiliki kebijakan untuk menempatkan tenaga Penyuluh Perikanan Pusat ke enam wilayah regional. Kebijakan tersebut ditegaskan dengan Keputusan Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan Nomor KEP.20/BPSDMKP/2012 tentang Koordinator Penyuluh Perikanan Pusat dan dan Liaisson Officer (LO) Pusat di Wilayah Regional Antar provinsi. Wilayah regional yang menjadi sasaran penempatan penyuluh perikanan pusat antara lain; 1) wilayah regional Sumatera, 2) wilayah regional Banten, Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, 3) wilayah regional Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, 4) wilayah regional Sulawesi, 5) wilayah regional Kalimantan, dan 6) wilayah regional Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara.

Maksud dan tujuan penempatan penyuluh perikanan di masing-masing wilayah regional yaitu guna meningkatkan sinkronisasi pelaksanaan tugas pembinaan dan penyelenggaraan penyuluhan perikanan di tingkat pusat dan daerah.  Melalui penempatan penyuluh pusat di masing-masing regional diharapkan dapat melakukan percepatan dalam pengawalan dan pembinaan terhadap Penyuluh Perikanan serta menunjang penguatan baseline data di seluruh wilayah regional

Pulau Sumatera terletak di bagian barat gugusan kepulauan Nusantara dengan luas sekitar 443.065,8 km2. Di sebelah utara berbatasan dengan Teluk Benggala, di timur dengan Selat Malaka, di sebelah selatan dengan Selat Sunda, dan di sebelah barat dengan Samudra Hindia. Di sebelah timur pulau, banyak dijumpai rawa yang dialiri oleh sungai-sungai besar yang bermuara di sana, antara lain Asahan (Sumatera Utara), Sungai Siak (Riau), Kampar, Inderagiri (Sumatera Barat, Riau), Batang Hari (Sumatera Barat, Jambi), Musi, Ogan, Lematang, Komering (Sumatera Selatan), dan Way Sekampung (Lampung). Sementara beberapa sungai yang bermuara ke pesisir barat pulau Sumatera diantaranya Batang Tarusan (Sumatera Barat), dan Ketahun (Bengkulu).

Di bagian barat pulau, terbentang pegunungan Bukit Barisan yang membujur dari utara hingga selatan. Sepanjang bukit barisan terdapat gunung-gunung berapi yang masih aktif, seperti Geureudong (Aceh), Sinabung (Sumatera Utara), Marapi, Talang (Sumatera Barat), Gunung Kaba (Bengkulu), dan Kerinci (Sumatera Barat, Jambi). Di pulau Sumatera juga terdapat beberapa danau, di antaranya Danau Laut Tawar (Aceh), Danau Toba (Sumatera Utara), Danau Singkarak, Danau Maninjau, Danau Diatas, Danau Dibawah, Danau Talang (Sumatera Barat), Danau Kerinci (Jambi) dan Danau Ranau (Lampung dan Sumatera Selatan).

Secara umum, pulau Sumatera didiami oleh bangsa Melayu, yang terbagi ke dalam beberapa suku. Suku-suku besar ialah Aceh, Batak, Melayu, Minangkabau,Besemah, Suku Rejang, Ogan, Komering, dan Lampung. Di wilayah pesisir timur Sumatera dan di beberapa kota-kota besar seperti Medan, Palembang, dan Pekanbaru, banyak bermukim etnis Tionghoa. Penduduk pulau Sumatera hanya terkonsentrasi di wilayah Sumatera Timur dan dataran tinggi Minangkabau. Mata pencaharian penduduk Sumatera sebagian besar sebagai petani, nelayan, dan pedagang.

Penduduk Sumatera mayoritas beragama Islam dan sebagian kecil merupakan penganut ajaran Kristen Protestan, terutama di wilayah Tapanuli dan Toba-Samosir, Sumatera Utara. Di wilayah perkotaan, seperti Medan, Pekanbaru, Batam, Pangkal Pinang dan Palembang, dijumpai beberapa orang penganut Buddha. Pulau Sumatera menyumbang 21 % terhadap jumlah penduduk Indonesia dan berada pada urutan kedua pulau yang memiliki jumlah penduduk terbanyak setelah Pulau Jawa. Jumlah nelayan yang ada di Pulau Sumatera berdasarkan data statistik pada tahun 2010 adalah 722.102 orang sedangkan pembudidaya ikan adalah sebanyak 870.210 orang.

Dari sisi Index Pembangunan Manusia atau Human Development Index (HDI)  menurut data statistik pada Tahun 2009, provinsi-provinsi yang ada di Pulau Sumatera secara umum memiliki ranking/peringkat yang baik. Dari 10 provinsi yang ada ranking HDI tertinggi dimiliki oleh Provinsi Riau dengan nilai HDI 75,60 (peringkat 3 nasional) sedangkan terendah pada Provinsi Lampung dengan nilai HDI 70,93 (peringkat 21 nasional).

Lokasi industrialisasi di Regional Sumatera berada di Provinsi Riau, Provinsi Jambi, dan Provinsi Sumatera Selatan. Adapun kabupaten/kota yang termasuk ke dalam wilayah industrialisasi dapat dilihat pada tabel berikut.

 Tabel  Kabupaten/Kota Wilayah Industrialisasi di Regional Sumatera

NO

PROVINSI

KABUPATEN/KOTA

KOMODITAS

1 RIAU –          KAMPAR PATIN
–          KUANTAN SINGINGI PATIN
–          PELALAWAN PATIN
2 JAMBI –          MUARO JAMBI PATIN
–          BATANGHARI PATIN
–          KOTA JAMBI
3 SUMATERA SELATAN –          OKU TIMUR PATIN
–          OGAN KOMERING ILIR PATIN
–          OGAN ILIR PATIN
–          OKU SELATAN PATIN
–          BANYUASIN PATIN
–          KOTA PALEMBANG PATIN

 

PROVINSI RIAU

Provinsi Riau terdiri dari daerah daratan dan perairan, dengan luas lebih kurang 8.915.016 Ha (89.150 Km2), Keberadaannya membentang dari lereng Bukit Barisan sampai dengan Selat Malaka terletak antara 01° 05’ 00” Lintang Selatan – 02° 25’ 00” Lintang Utara atau antara 100° 00’ 00” – 105° 05’ 00” Bujur Timur. Disamping itu sesuai Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 terdapat wilayah lautan sejauh 12 mil dari garis pantai.

Di daratan terdapat 15 sungai, diantaranya ada 4 sungai besar yang mempunyai arti penting sebagai sarana perhubungan seperti Sungai Siak (300 Km) dengan kedalaman 8 -12 m, Sungai Rokan (400 Km) dengan kedalaman 6-8 m, Sungai Kampar (400 Km) dengan kedalaman lebih kurang 6 m dan Sungai Indragiri (500 Km) dengan kedalaman  6-8 m. Ke 4 sungai yang membelah dari pegunungan daratan tinggi Bukit Barisan Bermuara di Selat Malaka dan Laut Cina Selatan itu dipengaruhi pasang surut laut.

Berdasarkan data statistik tahun 2009, potensi lahan budidaya ikan di Provinsi Riau cukup besar yaitu : Tambak : 180.990 ha, Kolam Ari Tawar :8.200 ha, Perairan umum : 38.548 ha, Sawah : 49.110 ha, Budidaya Laut : 178.326 ha sehingga total potensi lahan perikanan budidaya di provinsi riau mencapai 455.174 ha. Namun demikian dari total potensi lahan yang ada, baru 1,5% atau sekitar 6.846 ha yang dapat dimanfaatkan.

Jumlah produksi Perikanan Budidaya di Provinsi Riau pada Tahun 2010 mencapai 44.383 ton dengan jenis komoditas udang, kerapu, nila, mas, bandeng, kakap, patin, lele, gurame, kepiting, rumput laut, dan lainnya dengan jumlah pelaku utama pembudidaya ikan sebanyak 236.937 orang. Komoditas penyumbang terbanyak produksi Perikanan Budidaya di Provinsi Riau adalah ikan patin yaitu sebesar 44.383 ton atau sekitar 45,41 % dari total produksi.

 

PROVINSI JAMBI

Secara geografis Provinsi Jambi terletak antara 0º 45¹ 2º 45¹ LS dan 101º 0¹ – 104º 55 BT dengan wilayah keseluruhan seluas 53.435.72 KM² dengan luas daratan 51.000 Km2 , luas lautan 425,5 Km2 dan panjang pantai 185 Km. Batas-batas Wilayah Provinsi Jambi adalah sebagai berikut :

  • Sebelah Utara dengan Provinsi Riau
  • Sebelah Selatan dengan Provinsi Sumatera Selatan
  • Sebelah Barat dengan Provinsi Sumatera Barat
  • Sebelah Timur dengan Laut Cina Selatan

Provinsi Jambi termasuk dalam kawasan segi tiga pertumbuhan Indonesia-Malaysia-Singapore (IMS-GT) dan Indonesia-Malaysia-Thailand (IMT-GT). Jarak tempuh Jambi ke Singapura jalur laut melalui Batam dengan menggunakan kapal cepat (jet-foil) ditempuh ± 5 jam. Dengan adanya pemekaran Wilayah Kabupaten seperti UU No. 25 Tahun 2008 kini Provinsi Jambi terbagi menjadi 9 Kabupaten dan 2 Kota yaitu :

  1. Prov. Jambi ke Kabupaten Kerinci, (Ibukota Sungai Penuh) 419 Km.
  2. Prov. Jambi ke Kabupaten Sarolangun, (Ibukota Sarolangun) 179 Km
  3. Prov. Jambi ke Kabupaten Merangin, (Ibukota Bangko) 190 Km
  4. Prov. Jambi ke Kabupaten Bungo, (Ibukota Muara Bungo) 252 Km.
  5. Prov.Jambi ke Kabupaten Tebo, (Ibukota Muara Tebo) 206 Km
  6. Prov.Jambi ke Kabupaten Batanghari, (Ibukota Muara Bulian) 60 Km
  7. Prov.Jambi ke Kabupaten Muara Jambi, (Ibukota Sengeti) 27 Km
  8. Prov.Jambi ke Kabupaten Tanjung Jabung Barat, (Ibukota Kuala Tungkal) 131 Km
  9. Prov.Jambi ke Kabupaten Tanjung Jabung Timur, (Ibukota Muara Sabak) 129 Km
  10. Prov.Jambi ke Kota Jambi yang juga merupakan (Ibukota Provinsi Jambi) 3 Km
  11. Prov.Jambi ke Kota Sungai Penuh (Ibukota Kerinci) 420 Km                                                                                                                                                    Perairan laut Jambi lebih kurang 44.496 km dengan panjang pantai kurang lebih 210 Potensi perikanan tangkap yang terkandung di dalamnya sekitar 114.036 ton/ tahun, dengan potensi lestari (MSY) sekitar 71.820 ton/tahun, terdiri atas jenis-jenis ikan ekonomis penting seperti ikan Tenggiri, Bawal, Senangin, Kembung, Udang Ketak, berbagai jenis Udang lain, dan lain-lain.  Produksi perikanan tangkap di laut di Provinsi Jambi pada tahun 2010 mencapai 44.524 ton.

 Perikanan Tangkap di Perairan Umum

Perairan umum di Provinsi Jambi berupa sungai, danau, rawa dan genangan air lainnya, luasnya sekitar 115.000 ha dengan potensi perikanan lestari yang terkandung di dalamnya sekitar 35.500 ton. Pada tahun 2010 produksi perikanan tangkap di perairan umum di Provinsi Jambi mencapai 6.425 ton.

Potensi Perikanan Budidaya

Budidaya Laut

Perairan laut Jambi selain dapat dimanfaatkan untuk usaha penangkapan ikan, juga dapat dikembangkan untuk usaha budidaya laut, terutama di perairan Pulau Berhala. Berdasarakan data statistik tahun 2009 Potensi untuk budidaya laut di Provinsi Jambi sekitar 393.153  Ha.

 Budidaya Tambak/Air Payau

Potensi lahan untuk usaha budidaya tambak kurang lebih 54.559 ha. Pada Tahun 2009 telah dimanfaatkan seluas 1.624 ha.

 Budidaya Keramba/ Jaring Apung

Potensi areal perairan umum yang cocok untuk budidaya keramba dan jaring apung di sepanjang aliran Sungai Batanghari dan anak sungai serta danau-danau sepanjang DAS Batanghari cukup untuk 97.350 unit, pada tahun 2006 dimanfaatkan untuk 10.300 unit, tingkat pemanfaatannya baru mencapai 10,1 % berarti potensi yang masih bisa dikembangkan sebesar 89,9 %.

 Budidaya Kolam

Potensi lahan untuk budidaya kolam kurang lebih 5.035 ha. Pada tahun 2006 telah dimanfaatkan seluas 1.344,6 ha (26,7 %), sehingga peluang pengembangannya 73,3 %.

Budidaya Mina Padi

Potensi lahan untuk usaha mina padi kurang lebih 350 ha, terdapat pada sawah yang telah beririgasi teknis seperti di Merangin. Pada tahun 2006 telah dimanfaatkan seluas 18,2 ha (5,2%).

PROVINSI SUMATERA SELATAN

Provinsi Sumatera Selatan secara geografis terletak antara 1 derajat sampai 4 derajat Lintang Selatan dan 102 derajat sampai 106 derajat Bujur Timur dengan luas daerah seluruhnya 87.017.41 km2. Batas batas wilayah Provinsi Sumatera Selatan sebagai berikut : sebelah utara berbatasan dengan Provinsi Jambi, sebelah Selatan berbatasan dengan Provinsi Lampung, sebelah Timur berbatasan dengan Provinsi Bangka Belitung, sebelah Barat berbatasan dengan Provinsi Bengkulu.

Secara topografi, wilayah Provinsi Sumatera Selatan di pantai Timur tanahnya terdiri dari rawa-rawa dan payau yang dipengaruhi oleh pasang surut. Vegetasinya berupa tumbuhan palmase dan kayu rawa (bakau). Sedikit makin ke barat merupakan dataran rendah yang luas. Lebih masuk kedalam wilayahnya semakin bergunung-gunung. Disana terdapat bukti barisan yang membelah Sumatera Selatan dan merupakan daerah pegunungan dengan ketinggian 900 – 1.200 meter dari permukaan laut. Bukit barisan terdiri atas puncak Gunung Seminung (1.964 m), Gunung Dempo (3.159 m), Gunung Patah (1.107 m) dan Gunung Bengkuk (2.125m). Disebelah Barat Bukit Barisan merupakan lereng.

Provinsi Sumatera Selatan mempunyai beberapa sungai besar. Kebanyakan sungai-sungai itu bermata air dari Bukit Barisan, kecuali Sungai Mesuji, Sungai Lalan dan Sungai Banyuasin. Sungai yang bermata air dari Bukit Barisan dan bermuara ke Selat Bangka adalah Sungai Musi, sedangkan Sungai Ogan, Sungai Komering, Sungai Lematang, Sungai Kelingi, Sunga Lakitan, Sungai Rupit dan Sungai Rawas merupakan anak Sungai Musi.

Secara administratif Provinsi Sumatera Selatan terdiri dari 11 (sebelas) Pemerintah Kabupaten dan 4 (empat) Pemerintah Kota, dengan palembang sebagai ibukota provinsi. Pemerintah Kabupaten dan Kota membawahi Pemerintah Kecamatan dan Desa / Kelurahan, Provinsi Sumatera Selatan memiliki 11 Kabupaten, 4 Kotamadya, 212 Kecamatan, 354 Kelurahan, 2.589 Desa. Kabupaten Ogan Komering Ilir menjadi Kabupaten dengan luas wilayah terbesar dengan luas 16.905,32 Ha, diikuti oleh Kabupaten Musi Banyuasin dengan luas wilayah sebesar 14.477 Ha.

Perkembangan produksi perikanan budidaya di kolam pada 5 tahun terakhir dapat dilihat pada tabel berikut :

No

Tahun

Produksi (Ton)

1. 2010 100.160
2. 2009 68.207
3. 2008 60.308
4. 2007 51.059
5. 2006 43.932

 Jenis dan Jumlah Produksi Perikanan Budidaya Kolam Tahun 2010 :

  • Ikan Mas : 698 ton
  • Ikan Tawes : 1.426 ton
  • Ikan Nila : 48.086 ton
  • Ikan Gurami : 2.518 ton
  • Ikan Tambakan : 382 ton
  • Ikan Lele : 1.817 ton
  • Ikan Patin : 39.187 ton
  • Ikan Mujair : 2.128 ton
  • Ikan Sepat Siam : 144 ton
  • Lainnya : 3.774 ton

Perkembangan produksi perikanan budidaya di karamba pada 5 tahun terakhir dapat dilihat pada tabel berikut :

No

Tahun

Produksi (Ton)

1. 2010 27.053
2. 2009 24.029
3. 2008 21.246
4. 2007 18.325
5. 2006 20.393

 Jenis dan Jumlah Produksi Perikanan Budidaya Keramba Tahun 2010 :

  • Ikan Mas : 676 ton
  • Ikan Nila : 12.713 ton
  • Ikan Lele : 698 ton
  • Ikan Patin : 12.196 ton
  • Lainnya : 771 ton

  (Data Identifikasi Korwil Sumatera)

Iklan

4 Comments Add yours

  1. Mas,boleh nanya? Kapan ada diksar dr KKP Untuk penyuluh?

    Suka

    1. suksesmina berkata:

      Tahun ini ada beberapa kali, data yang blum pelatihan sdh ada dikami
      mohon sabar mengantri atau secara mandiri bisa mengajukan sendiri
      ke Balai Diklat Lingkup KKP.
      perlu di sampaikan juga bahwa Instansi Pembina LUH bukan hanya tugas
      Pemenrintah Pusat tapi merupakan Tugas Pemerintah Daerah.

      Trms atas responya

      Suka

  2. mas, mau nanya.. penyuluh perikanan di kecamatan minimal berapa orang menurut aturannya?

    Suka

    1. suksesmina berkata:

      Berdasarkan peraturan Kepala BPSDM KP jumlah penyuluh perkecamatan potensi perikanan minimal 3 orang pak. demikian p Hendri Terima Kasih

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s