Nasib Ikan Pari Sungai Musi


Ikan_Pari_xxx333Pencemaran dari limbah rumah tangga dan pabrik mengancam keberadaan dari ikan paris di Sungai Musi dan biota air tawar lainnya. Ikan pari tidak hanya hidup di laut, tetapi juga di Sungai Musi Sumatera Selatan. Masyarakat di Babattoman Sumatera Selatan melepaskan kembali jenis ikan pari yang masih hidup, karena dianggap sebagai penunggu desa. Hal ini menunjukan kearifan lokal masyarakat dengan lingkungannya. Kearifan lokal adalah pandangan hidup dan ilmu pengetahuan serta berbagai strategi kehidupan yang berwujud aktivitas yang dilakukan. Dalam hal ini kearifan lokal tersebut dilkukan oleh masyarakat Desa Mangunjaya Kecamatan Babattoman Kabupaten Musi Banyuasin Provinsi Sumatera Selatan, dengan mengelola Sungai Musi. Keberadaan ikan pari di air tawar masih ada di Sungai Musi. Ikan yang tertangkap warga masih dalam kondisi hidup. Keberadaan ikan pari air tawar tertangkap oleh warga dengan menggunakan alat pancing. Sebagian daerah di sepanjang Sungai Musi masyarakatnya masih menjaga kearifan lokal. Hal ini dibuktikan ketika tertangkap ikan pari yang berukuran besar, dianggap makhluk keramat sebagai penjaga desa, sehingga dilarang untuk diburu dan di tangkap.

Daerah ruaya ikan pari betina sering ditemukan di daerah hulu, sedangkan ikan pari jantan ditemukan di hulu Sungai Musi. Keberadaan ikan ini di daerah hulu dan hilir Sungai Musi, masih menjadi kajian penelitian apakah keberadaan ikan pari ini melakukan kawin pejantan dan betina di hilir sungai, lalu yang betina bergerak kedaerah hulu untuk beranak.

Kendati belum ditemukan fakta yang pasti tentang asumsi tersebut. Keberadaan ikan pari air tawar di sepanjang Sungai Musi telah diketahui sejak tahun yang lalu. Di Sungai Musi sudah teridentifikasi dua jenis ikan pari berukuran besar (Himantura chaopharaya) dan ikan pari berukuran kecil (Himantura signifer). Ikan pari ini panjang menjapai 3,9 meter, lebar 2,6 meter dan bobot mencapai 175 kg. Ikan yang tertangkap ini berjenis kelamin betina.

Mengenal Ikan Pari

Ikan pari (rays) termasuk dalam sub grup Elasmobranchii yaitu ikan yang bertulang rawan dan group Cartilanginous (Last and Stevens, 1994). Ikan ini mempunyai bentuk tubuh gepeng melebar, sepanjang sirip dada (Pectoral fins)-nya melebar dan menyatu dengan sisi kiri-kanan kepalanya, sehingga tampak atas dan tampak bawahnya terlihat bundar. Ikan ini umumnya mempunyai ekor yang panjang, menyerupai cemeti.

Pada beberapa spesies, ekor ikan ini dilengkapi dengan duri penyengat, sehingga disebut sting-rays, mata ikan umumnya terletak di kepala bagian samping. Posisi dan bentuk mulutnya adalah terminal (terminal mouth) dan umumnya bersifat predator, jenis ikan ini bernapas melalui celah insang (gill openings) yang berjumlah 5 – 6 pasang. Posisi celah insang berada di dekat mulut bagian bawah (ventra).

Ikan pari jantan dilengkapi dengan sepasang alat kelamin yang disebut clasper, letaknya di pangjkal ekor. Ikan pari betina umumnya berkembang biak secara melahirkan anak (vivipar) dengan jumlah anak 5 – 6 ekor.

 Sungai Musi

Sungai Musi disebut juga Batanghari Sembilan, yang berarti smbilan sungai besar. Pengertian sembilan sungai besar adalah Sungai Musi beserta delapan sungai besar yang bermuara di Sungai Musi. Sembilan sungai tersebut meliputi Sungai Komering, Sungai Rawas, Sungai Kelingi, Sungai Lematang, Sungai Semangus, Sungai Ogan, dan Sungai Musi. Sungai Musi adalah sungai ynang melintasi Provinsi Bengkulu, Jambi, dan Sumatera Selatan. Panjang sungai mencapai 750 km, sungai ini termasuk kategori terpanjang di pulau Sumatera dan membelah kota Palembang menjadi dua bagian. Jembatan ampera yang menjadi ikon kota Palembang pun melintas di sungai ini. Sejak zaman Kerajaan Sriwijaya hingga sekarang, sungai ini terkenal sebagai sarana transportasi dan mata pencaharian bagi warganya. Sumber mata air Sungai Musi berasal dari daerah Kepahiang Provinsi Bengkulu dan bermuara di Sungsang Provinsi Sumatera Selatan.

Pencemaran Sungai

Lahan daerah aliran Sungai Musi seluas 3 juta ha mulai mengalami pencemaran lingkungan. Menurut kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Sumatera Selatan Ahmad Najib, pencemaran di Sungai Musi masih terus berlangsung. Tingkat pencemaran fecalcoli di Sungai Musi cukup tinggi. Faktor utama yang menyebabkan adalahbanyaknya kotoran manusia atau hewan yang dibuang langsung ke sungai. Tidak kalah hebatnya ratusa pabrik industri membuang limbahnya ke Sungai Musi. Adapun limbah penyebab air sungai menjadi tercemar adalah adanya kadar fenol, yaitu zat kimia yang kerap dipakai dalam aktivitas industri.  Di Palembang, fenol digunakan untuk menghilangkan karat  pada kapal. Oleh karena itu hal ini harus menjadi perhatian smua pihak, bahwa kondisi ini tidak hanya mempengaruhi ekosistem di Sungai Musi, tetapi berdampak juga bagi keberadaan ikan di sungai dan masyarakat setempat.

Demikianlah cara yang dilakukan oleh warga yang tinggal di sepanjang Sungai Musi dalam melakukan kearifan lokal demi menjaga kelestarian ekosistem lingkungan perairan serta menjaga keberadaan jenis ikan ekonomis penting yang ada di perairan umum daratan.

Sumber: Badan Litbang KKP

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s