Budidaya Lobster Air Tawar


Udang cherax atau biasa dikenal dengan lobster air tawar, semula dibudidayakan sebagai komoditi ikan hias, karena mempunyai warna dan bentuk yang khas dan menarik.

Di Indonesia komoditas udang cherax sebagai hiasan mulai dikenal sejak tahun 1991. Keberhasilan teknik budidaya udang cherax membuat pertumbuhannya cepat dan dapat mencapai ukuran yang besar, sehingga sejak tahun 2003 para pembudidaya mengembangkan jenis udang air tawar ini tidak hanya sebagai komoditas hias, tapi juga untuk komoditas konsumsi. Kebutuhan udang cherax konsumsi semakin meningkat, namun produksinya masih sangat rendah sehingga harganya sangat tinggi.

Pengembangan udang cherax  sebagai komoditas konsumsi dinilai lebih potensial, hal ini didasarkan pada beberapa alasan, antara lain adalah permintaan pasar yang masih belum terpenuhi, baik domestik maupun ekspor.

Di Indonesia, hidangan udang cherax masih sangat terbatas pada restaurant di kota-kota besar dan hotel berbintang dengan harga yang sangat tinggi. Kondisi tersebut menjadikan komoditas lobster air tawar atau udang cherax dapat menjadi peluang bisnis yang potensial. Selain itu, peningkatan jumlah penduduk dan tingkat pendapatan masyarakat menuntut dilakukannya upaya untuk menggali berbagai alternatif untuk meningkatkan produksi sebagai penunjang ketersediaan bahan pangan. Kondisi sumber daya alam di Indonesia secara umum juga sangat cocok untuk pengembangan budidaya udang cherax .

Secara teknis, budidaya udang cherax baik untuk pembenihan maupun pembesaran sangat mudah, tidak seperti udang windu atau udang galah yang relatif lebih sulit dan rumit. Orang awam pun bisa melakukannya sendiri, baik dalam skala usaha kecil maupun besar. Terlebih lagi iklim di Indonesia yang beriklim tropis sangat mendukung usaha budidaya udang cherax.

BIOLOGI UDANG CHERAX

Lobster air tawar atau biasa disebut udang cherax merupakan salah satu genus dari kelompok udang (Crustacea) yang hidupnya hanya di air tawar. Lobster air tawar banyak terdapat di danau, rawa dan sungai. Di habitat aslinya, jenis udang besar ini biasanya hidup di tempat yang memiliki tempat berlindung seperti celah-celah bebatuan dan akar pohon. Daerah penyebarannya meliputi Asia dan Australia, seperti Papua dan Quinsland.

Suhu ideal untuk pertumbuhan udang cherax atau lobster air tawar adalah 26-300C, meskipun demikian, ia juga tahan hidup pada suhu 80C. Beberapa daerah di Indonesia yang biasa dihuni lobster air tawar atau udang cherax adalah Danau Klarisifet dan Sungai Ayamoro di Kabupaten Wamena Papua.

Secara Iilmiah, klasifikasi udang cherax ini adalah sebagai berikut :

Filum : Arthropoda
Sub Filum : Crustacea
Kelas : Malacostrada
Famili : Parastacidae
Ordo : Decapoda
Genus : Cherax
Spesies : Cherax sp

Udang cherax mempunyai susunan tubuh yang terdiri dari 3 (tiga) bagian yaitu kepala (chepalotorax), badan (abdomen) dan ekor (telson).

Pada bagian kepala cherax terdiri dari : karapas atau cangkang penutup kepala, rostrum atau kelopak kepala bagian depan yang bergerigi dan meruncing, sepasang mata dengan tangkai pada ruas 1, sungut kecil atau antennula dan sungut besar atau antenna yang terdapat pada ruas 2 dan 3, serta lima pasang kaki, dimana bentuk dan fungsi dari kaki pertama, kedua dan ketiga berubah menjadi capit, sedangkan dua pasang kaki lain menjadi kaki jalan.

Abdomen pada udang cherax terdiri dari lima segmen yang tertutup kulit keras. Bagian bawah abdomen terdapat kaki renang yang pada cherax betina juga berfungsi sebagai pelekat telur.

Sedangkan pada bagian ekor terdiri dari satu helai telson dan empat helai yang fungsinya untuk berenang dan bergerak. Ciri spesifik udang cherax adalah mempunyai capit yang relatif besar atau lebar.

Udang cherax akan kawin jika telah menemukan pasangan yang cocok. Meskipun telah bertemu dan saling terangsang, mereka tidak akan melakukan perkawinan jika tidak cocok. Dihabitat aslinya, udang cherax mulai kawin saat berumur 1 tahun dan terjadi pada awal musim hujan. Perkawinan biasanya dilakukan pada malam hari. Sepuluh hari setelah kawin, telur yang telah dibuahi induk jantan akan terlihat melekat di bawah perut induk betina. Sedangkan karakteristik biologinya, secara umum adalah :

–       Umur pertama matang gonad 6-7 bulan dan fertilisasi atau pembuahan terjadi dalam tubuh induk betina, yang kemudian telur setelah dibuahi akan dierami di permukaan badan bagian bawah.

–       Jumlah fekunditas telur rata-rata 7-8 butir per gram bobot induk dengan diameter berkisar 0,8-1,4 mm

–       Pada awal pengeraman, warna telur kuning kecoklatan dan kemudian berubah menjadi ungu dengan lama pengeraman berkisar antara 35-40 hari.

–       Larva dari telur yang menetas pada awalnya akan tetap menempel pada permukaan tubuh induk dan benih akan berenang lepas dari induknya.

–       Mempunyai kebiasaan moulting, yaitu berganti kulit saat tumbuh menjadi besar. Untuk itu, supaya mendukung pertumbuhan optimum perlu kecukupan kalsium. Ketidaksempurnaan moulting (end moulting syndrom) merupakan fase kritis yang dapat menyebabkan kematian.

Moulting

–       Moulting mulai terjadi pada umur 1-2 minggu dan moulting akan terus terjadi hingga ukuran cherax mencapai 5 inchi. Ketika dewasa, cherax tetap mengalami moulting setelah 2-3 kali melakukan perkawinan.

–       Moulting merupakan tahap yang harus dilalui cherax dalam pertumbuhan ukuran serta dalam meregenerasi organ tubuh yang mungkin patah atau rusak, dan akan tumbuh kembali dengan cepat pada saat moulting. Dalam waktu 24 jam, kulit luar akan mulai mengeras kembali.

–       Mempunyai sifat kanibal, yaitu suka memangsa jenisnya sendiri, terutama pada saat moulting serta ketika terjadi kekurangan makanan.

–       Untuk itu cherax memerlukan shelter untuk berlindung, terutama pada saat moulting agar cherax yang sedang dalam tahap moulting dapat berlindung hingga tahap moulting berakhir.

–       Bersifat omnivore, yaitu dapat memanfaatkan sumber nutrien dari sumber hewani maupun nabati. Makanan alami antara lain cacing sutera, cacing darah dan juga akar selada air.

–       Relatif mudah beradaptasi pada lingkungan air budidaya pada suhu optimum 24-28 0C dan kandungan oksigen lebih dari 2 ppm dan pH 7-8

Sementara itu, udang cherax jantan dan betina dapat dibedakan dengan ciri sebagai berikut :

  1. Udang cherax jantan memiliki 2 buah tonjolan daging di pangkal kaki paling belakang. Tonjolan ini merupakan alat kelamin jantan. Sementara itu, alat kelamin pada udang cherax betina berupa bulatan yang berada di pangkal kaki ketiga dari belakang.
  2. Udang cherax jantan memiliki capit yang lebih besar dan panjang dibandingkan dengan udang cherax betina.
  3. Warna udang cherax jantan lebih cerah dibandingkan dengan yang betina,namun warna udang cherax juga dipengaruhi oleh warna air, pakan yang dikonsumsi, serta kandungan pigmen yang dikandung oleh setiap udang cherax.

 PERSIAPAN BUDIDAYA UDANG CHERAX

 Lokasi

Salah satu penentu keberhasilan budidaya udang cherax adalah ketepatan dalam pemilihan lokasi usaha. Jika penentuan lokasi tidak meleset, maka selama proses budidaya tidak akan menemui kendala yang berarti, sehingga sasaran akhir dapat dicapai sesuai dengan rencana.

Lokasi untuk budidaya udang cherax harus dipilih dengan memperhatikan beberapa persyaratan, antara lain :

–       Lokasi bebas dari sumber pencemaran seperti limbah rumah tangga dan limbah industri

–       Ketersediaan air harus mencukupi sepanjang tahun

–       Bebas banjir

–       Kemudahan dalam hal akses transportasi serta tersedianya sumber listrik

–       Lokasi sebaiknya merupakan daerah yang tenang serta aman dari gangguan predator.

Persiapan Wadah

Akuarium

Akuarium dapat dipilih jika tidak memiliki lahan yang luas untuk budidaya udang cherax. Karena ukurannya yang tidak terlalu besar, maka akuarium hanya cocok digunakan untuk tempat pembenihan udang cherax. Pemilihan ukuran akuarium sebaiknya disesuaikan dengan skala usaha serta ketersediaan ruangan serta ukuran yang dapat mendukung pertumbuhan cherax secara optimum. Beberapa ukuran (p x l x t) yang dapat digunakan adalah 1 x 0,4 x 0,4 m dan 0,6 x 0,4 x 0,4 m.

Selain itu diperlukan sarana pendukung lainnya seperti aerator dan sistem penyaring air.

Wadah untuk pembesaran udang cherax adalah berupa bak atau kolam. Untuk mencegah kebocoran dinding kolam dapat diplester dengan semen atau dipasangi karpet talang air, sedangkan sebagai pelindung ikan dari sinar matahari serta untuk memudahkan saat panen dapat dibuat kemalir dan kobakan. Kemalir dibuat dengan lebar 50-200 cm dan kedalaman 20-50 cm tergantung luas kolam. Pada bagian hilir, caren dibuat melebar yang berfungsi sebagai area penangkapan ikan saat panen. Adapun konstruksi kolam untuk budidaya udang cherax dapat dilihat pada gambar berikut :

Keterangan Gambar :

A. Panjang Kolam E. Kemalir
B. Lebar Kolam F. Kobakan
C. Dasar Kolam G. Outlet Kobakan
D. Pipa Pemasukan Air (Inlet Kolam) H. Outlet Kolam

Kolam perlu dipersiapkan dengan baik, dengan tahapan sebagai berikut :

–       Pengeringan kolam

–       Pengolahan dasar kolam, perbaikan pematang, perataan tanah.

–       Perbaikan saluran pembuangan, dapat menggunakan pipa PVC berdiameter 1-2 inci yang dipasangi kawat kasa.

–       Pemupukan guna menumbuhkan pakan alami dengan pemberian pupuk dengan dosis per hektar  sebagai berikut : pupuk kandang berupa kotoran ayam 3 ton, urea 50 kg dan SP 36 sebanyak 50 kg.

–       Pengisian air setinggi 80 – 100 cm; dibiarkan selama 5 hari bertujuan untuk menumbuhkan pakan alami.

 

Tempat Persembunyian/Shelter

Tempat persembunyian (pelindung) atau shelter diperlukan karena di habitat aslinya lobster air tawar atau udang cherax suka bersembunyi dan mencari tempat yang gelap. Ada beberapa fungsi dari keberadaaan tempat persembunyian, yaitu untuk tempat berlindung, untuk meminimalkan kanibalisme dan untuk menambah jumlah atau kapasitas udang cherax yang bisa ditampung dalam wadah budidaya.

Pelindung untuk tahap pendederan dapat dibuat dari pipa PVC 10 mm sepanjang 3 cm dan PVC 0,5 inchi sepanjang 5 cm. Sedangkan untuk tahap pembesaran serta pemeliharaan induk, dapat menggunakan pipa PVC 2 atau 3 inchi sepanjang 15 cm.

Alternatif shelter antara lain pelepah daun kelapa, sabut kelapa yang disusun bertingkat, rangkaian bambu dan sebagainya. Sebagian shelter dapat juga dipasang sedikit di atas permukaan air untuk sewaktu-waktu udang cherax naik sebagai indikator kualitas air menurun.

PEMBENIHAN UDANG CHERAX

 Seleksi Induk

Seleksi Induk udang cherax adalah kegiatan memilih atau memisahkan antara induk-induk yang sudah matang gonad, atau matang telur dengan yang belum matang gonad atau matang telur. Seleksi induk dilakukan tiga minggu dalam pematang gonad dan sebelum pemijahan.

Pada udang cherax yang berkelamin jantan umumnya mempunyai tanda merah pada bagian luar kedua ujung capitnya, tapi warna merah ini tidak terbentuk bila capitnya masih kecil. Yang bisa membuat kepastian adalah dilihat dari kakinya, kelamin jantan juga terlihat sepasang tonjolan dengan jelas pada kaki yang paling mendekati ekor, jika hanya satu maka disebut intersex.

Pada kelamin betina tidak ada tanda merah pada kedua capitnya, tanda kelamin betina ditandai dengan adanya dua bulatan pada kaki ke tiga baik dihitung dari atas maupun dari ekor. Sama halnya dengan jantan, kelamin betina juga harus sepasang.

Pemeliharaan Induk

Pemeliharaan induk sering pula disebut kegiatan pematangan gonad, karena tujuannya untuk mendapatkan induk-induk yang matang gonad. Usia matang gonad bagi udang cherax adalah 5-6 bulan. Induk dapat dipelihara dalam bak fibre glass atau akuarium serta dapat pula di kolam dengan perbandingan antara jantan dan betina    3 : 1. Sebelum udang dimasukkan dalam wadah, perlu dipasang aerator dan shelter (pelindung) dengan jumlah sesuai dengan induk yang akan dipelihara.

Gonad udang cherax harus berkembang dengan sempurna, agar didapat kualitas telur yang baik dan jumlah yang banyak, demikian pula dengan sperma harus berkualitas baik pula. Sehingga induk-induk harus diberi pakan tambahan, pakan yang diberikan dapat berupa pakan udang komersial dengan kandungan protein 32 % dengan dosis 4 %. Alternatif lain adalah dengan memberikan potongan daging udang segar sebanyak 2 %, ubi jalar/ wortel yang dipotong-potong serta daun/kecambah untuk membantu matang gonad.

Seekor induk betina akan mampu menghasilkan anakan sebanyak 100-200 ekor setelah dierami selama 45 hari. Setelah telur terlihat menempel pada bagian bawah tubuh induk betina, maka induk tersebut dipindahkan ke dalam wadah inkubasi.

 Pendederan Benih

Pendederan benih dapat dilakukan di akuarium dan bak permanen dengan pemasangan shelter. Shelter yang dipasang saat pendederan adalah pipa PVC berukuran diameter 10 mm dengan panjang 3 cm sebanyak jumlah udang serta 0,5 inci dengan panjang 5 cm sebanyak separuh jumlah udang. Udang cherax bersifat kanibal pada ukuran 1-2 cm.

Pemeliharaan yang dilakukan selama pendederan adalah penyiponan setiap 3-4 hari sekali dan pemberian pakan. Pakan yang diberikan adalah pelet komersial dengan dosis 2 % per hari dan frekuensi pemberian 3 kali.

Pada tahap pendederan udang cherax betina yang sedang bertelur memeluk erat, karena telur itu belum menempel dengan baik di kaki renangnya, sehingga jika lipatan ekornya terbuka dikhawatirkan telur akan rontok dari ekornya tersebut. Setelah minggu ke-2 atau ke-3 telur dapat menempel dengan baik.

Adapun proses pematang telur sehingga menjadi benih adalah sebagai berikut :

  1. Minggu kedua bentuk telur masih bulat.
  2. Minggu ketiga mulai terlihat 2 bintik hitam pada telur. Bintik hitam tersebut merupakan embrio.
  3. Minggu keempat, capit, sungut dan kakinya mulai tumbuh. Namun embrio tersebut masih mengandung kuning telur. Pada tahap ini, udang cherax masih belum bisa mandiri, jika telur rontok dari induknya kemungkinan besar embrio tersebut akan mati, karena pada tahap ini embrio masih mendapat suplai nutrisi dan gizi dari induknya.
  4. Minggu kelima hampir seluruh kuning telur sudah habis, dengan demikian cadangan makan untuk embrio sudah habis. Ketika itu embrio mulai lepas satu persatu dari induknya untuk mencari makanan sendiri. Setelah bersih, induk betina dipindahkan ke akuarium lain untuk istirahat selama dua minggu sampai satu bulan, lebih baik lagi sampai berganti kulit.

 

 

PEMBESARAN UDANG CHERAX

Tujuan pembesaran udang cherax adalah untuk mendapatkan udang cherax dewasa yang siap konsumsi dan untuk mendapatkan calon indukan. Udang cherax untuk dikonsumsi diharapkan memiliki daging yang banyak, karena itu pertumbuhan udang harus diperhatikan jangan sampai dihasilkan udang yang kecil-kecil walaupun sudah dipelihara dalam waktu yang lama. Faktor utama yang mempengaruhi pertumbuhan udang cherax adalah kualitas air kolam dan pemberian pakan. Kualitas air kolam yang harus diperhatikan adalah keberadaan oksigen terlarut dalam air, oksigen dibutuhkan dalam jumlah besar agar lobster bisa mengolah makanan menjadi daging. Jika jumlah oksigen sedikit, makanan yang diolah akan sedikit pula sehingga daging udang cherax tidak bertambah. Selain itu diperlukan pakan yang berprotein tinggi yang berguna sebagai zat-zat untuk membentuk daging.

 Wadah Pembesaran

Wadah pembesaran dapat berupa kolam semen, bak fiber, bisa juga kolam tanah, yang terpenting adalah wadah tersebut bisa menampung air dan tidak mudah dirusak oleh lobster. Sebaiknya tinggi air dalam wadah pembesaran minimum 60 cm, sehingga wadah tidak perlu diberi penutup. Wadah pembesaran juga bisa dipilih yang tingginya 40 cm dan tinggi airnya 30 cm tetapi wadah harus diberi penutup. Jenis penutup yang digunakan bisa berupa asbes.

Jika wadah pembesaran berupa kolam semen, bagian atas kolam tersebut sebaiknya diaci atau dikeramik, atau paling tidak 10-20 cm bagian paling atas dari wadah pembesaran harus dibuat licin. Untuk kolam tanah, bagian pinggirnya harus diberi pagar dari karpet talang air.

Penebaran Benih

Benih lobster yang dipelihara untuk dibesarkan adalah benih berukuran sekitar 5 cm. Penebaran benih sebaiknya tidak terlalu padat ataupun terlalu jarang. Jika terlalu jarang, dari segi ekonomi kurang efisien. Sementara itu, jika terlalu padat dikhawatirkan persaingan lobster terlalu tinggi sehingga perkembangannya akan terganggu.Idealnya, untuk kolam pembesaran seluas 1 x 1 x 1 m, benih yang ditebarkan sebanyak 20-30 ekor.

Perawatan Udang Cherax dalam Masa Pembesaran

Pemberian pakan

Udang cherax adalah jenis hewan omnivora atau pemakan segala. Di habitat aslinya, hewan bercapit ini makan apa saja yang ada di dasar kolam, danau atau sungai. Makanannya meliputi akar, daun, daging, ikan dan cacing. Udang cherax juga dapat diberi makanan berupa tauge, wortel, kangkung, bayam, buncis, kol dan semua jenis sayuran. Umbi-umbian seperti singkong, ubi merah dan ubi putih. Selain itu dapat juga berupa daging, seperti daging bekicot, keong mas, ikan, ayam dan cacing.

Pakan merupakan faktor paling penting dalam masa pembesaran, karena pertumbuhan udang cherax sangat dipengaruhi oleh pakan. Dengan pemberian pakan yang benar, diharapkan udang cherax dapat cepat besar dan berdaging banyak. Udang cherax makan di dasar kolam, karena itu pilih makanan yang dapat tenggelam.

Benih udang cherax yang dibesarkan juga dapat diberi pakan berupa pelet, asal pelet tersebut kaya akan karbohidrat, serat, protein dan kalsium.

Banyaknya pakan yang diberikan disesuaikan dengan nafsu makan benih. Usahakan jangan sampai ada pakan yang tersisa. Jika terlihat ada pakan yang tersisa, pakan yang diberikan harus dikurangi dari jumlah sebelumnya. Contohnya, untuk setiap 100 ekor udang cherax, pakan yang diberikan 3 gram/hari. Pakan diberikan 2 kali sehari dengan komposisi 25 % pagi hari dan 75 % malam hari.

Pengendalian hama dan penyakit

Meskipun udang cherax termasuk tahan terhadap serangan hama dan penyakit karena kulitnya yang keras dan tebal, tetapi kewaspadaan tetap diperlukan.

Dalam proses pembesaran udang cherax, hama yang sering menjadi pemangsa adalah tikus dan kucing. Karena itu kolam pembesaran harus bebas dari jangkauan kedua binatang tersebut. Untuk membasmi tikus yang mungkin menyerang, dapat digunakan racun tikus yang banyak tersedia di pasaran.

Beberapa penyakit yang sering menyerang udang cherax dan menyebabkan kematian adalah sebagai berikut lengkap dengan gejala dan pengobatan serangan penyakit tersebut.

Penyebab Penyakit Gejala Pengobatan
Jamur Saprolegnia dan Achyla Jamur ini menyerang udang melalui bagian tubuh yang terluka. Mereka dapat menghambat  Udang cherax yang terserang ditandai dengan timbulnya sekumpulan benang halus seperti kapas di tubuhnya.udang juga menjadi malas makan sehingga dapat menyebabkan kematian. Rendam udang cherax yang sakit dalam larutan Malachite Green 2-3 ppm selama 30-60 menit. Cara lain adalah dengan mengolesi udang cherax menggunakan Kalium Permanganat atau biasa disebut PK sebanyak 10 ppm.
Cacing Jangkar Timbul cairan atau lendir yang memanjang di insang. Udang akan kekurangan darah, menjadi kurus dan akhirnya mati Rendam dalam larutan garam dengan konsentrasi 20 gram/liter air selama 10-20 menit.
Argulus foliceus Awalnya timbul bercak merah pada tubuh udang. Parasit ini menyebabkan udang menderita anemia (kekurangan darah) dan akan kehilangan banyak darah sebelum akhirnya mati. Rendam dalam larutan lysol 1 ml yang dilarutkan dalam 5 liter air selama 15-60 detik. Setelah itu, rendam kembali udang dalam 1 gram kalium permanganat (PK) yang dilarutkan dalam 100 liter air selama 1,5 jam. Jika serangan sudah mencapai stadium puncak, bisa digunakan Neguven, Masoten, Lindane.


 PEMANENAN

Pemanenan udang cherax bisa dilakukan dengan dua teknik, yaitu tanpa menguras dan dengan menguras air kolam. Jika tanpa menguras kolam, harus disiapkan perangkap yang disebut dengan bubu. Bubu ini terbuat dari bambu dengan dua lubang di setiap ujungnya. Kedua ujung bubu lebih kecil ketimbang bagian tengahnya. Dengan bentuk seperti ini, kecil kemugkinan udang cherax yang masuk akan bisa keluar lagi. Cara pemakaiannya, bubu diturunkan ke kolam dengan meletakkannya dibeberapa tempat. Sebelumnya, di dalam bubu itu diisi umpan berupa ikan yang telah mati. Pemberian umpan tersebut akan menarik lobster masuk ke dalam bubu, karena umpan mengeluarkan bau amis. Letakkan bubu pada sore hari dan bisa diambil pada pagi harinya.

Pemanenan dengan cara menguras kolam bisa menggunakan dua teknik. Pertama, kolam didesain dengan membuat kamalir (kubangan/parit/got air di tengah kolam) sehingga ketika kolam dikuras, air hanya tersisa di kamalir sehingga lobster mudah ditangkap. Kedua, memanfaatkan aliran air. Siapkan kotak di tempat masuknya air sehingga ketika iar masuk ke dalam kotak, udang cherax akan mengikuti arah aliran air sehingga udang juga ikut masuk ke dalam kotak,.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s