PENGARUH NEOMICYN DAN GRISEOFULVIN TERHADAP INSIDENSI PENYAKIT BAKTERIAL DAN FUNGAL PADA IKAN GURAME (Osphronemus gouramy Lac.)


PENGARUH NEOMICYN DAN GRISEOFULVIN TERHADAP INSIDENSI PENYAKIT BAKTERIAL DAN FUNGAL PADA IKAN GURAME (Osphronemus gouramy Lac.)

Percobaan di laboratorium telah dilakukan untuk mengetahui efektivitas neomicyn dan griseofulvin terhadap penyakit bakterial yang disebabkan oleh A. hydrophila. Pengujian in vitro dilakukan dengan cara menginokulasikan Aeromonas hydrophila pada Tryptic Soy Broth (TSB) yang mengandung berbagai konsentrasi neomycin dan Saprolegnia pada Yeast extract Glucosa Broth (YGB) yang mengandung berbagai konsentrasi griseofulvin. Pengujian in vivo dilakukan dengan cara memberi perlakuan berbagai dosis/konsentrasi neomycin terhadap ikan gurame yang telah diinfeksi A. hydrophila dan griseofulvin terhadap ikan gurame yang telah diinfeksi Saprolegnia. Hasil percobaan menunjukkan bahwa neomycin 40 ppm yang diterapkan melalui teknik perendaman dengan selang waktu 9 hari atau neomycin dosis 125 mg/kg ikan per hari melalui pakan selama 8 hari berturut-turut, adalah efektif untuk menanggulangi infeksi A. hydrophila pada ikan gurame. Sedangkan griseofulvin secara ira vitro dan in vivo tidak efektif dalam menanggulangi infeksi Saprolegnia pada ikan gurame.

PENDAHULUAN

Menurut Taufik (1992) bakteri yang biasa menyerang pada ikan air tawar antara lain adalah Aeromonas hydrophila dan Pseudomonas spp. Kedua jenis bakteri ini dapat menyebabkan hydrophila, dengan tanda klinis luka infeksi pada sistemik yang menimbulkan kematian tubuh, sirip, insang membusuk dan kadang-kadang mata menonjol (exophtalmia). menyerang ikan gurame adalah Aeromonas. Sedangkan jamur yang dapat menyebabkan penyakit pada ikan air tawar adalah jenis Saprolegnia dan Achlya.

 Tanda klinis yang dapat dilihat akibat infeksi jamur ini adalah adanya benang-benang halus menyerupai kapas yang tumbuh pada luka infeksi. Penggunaan zat kimia dan antibiotik untuk menanggulangi penyakit bakterial dan fungal pada ikan telah dilakukan. Herwig (1979) menyatakan bahwa neomycin dengan konsentrasi 60 ppm dapat menanggulangi penyakit bakterial, seperti A. hydrophila, sedangkan Neish and Hughes (1980) menyatakan bahwa griseofulvin 10 ppm efektif untuk menanggulangi penyakit jamur pada ikan. Serangkaian percobaan di laboratorium untuk penanggulangan penyakit bacterial dan fungal, yaitu A. hydrophila dan Saprolegnia pada ikan gurame telah dilakukan dengan menggunakan neomycin dan griseofulvin. Tujuan percobaan adalah untuk mendapatkan informasi tentang dosis efektif obat-obat tersebut dalam penanggulangan penyakit.

BAHAN DAN METODE

Sebagai bahan pengujian dalam percobaan ini adalah Aeromonas hydrophila dan Saprolegnia hasil isolasi dari luka infeksi ikan gurame yang diperoleh dari Parung, Bogor. Neobiotik yang mengandung 250 mg neomycin sulfat per tablet dan grivin forte yang mengandung 500 mg griseofulvin per tablet digunakan sebagai preparat obat uji.

Uji Sensitivitas Bakteri dan Jamur terhadap Obat

Tabung-tabung reaksi yang berisi Trypdc Soy Broth (TSB) 2 mL yang mengandung serial konsentrasi neomycin 0,244; 0,488; 0,976; 1,953; 3,906; 7,812; 15,625; 31,250; 62,500; 125 ppm dan griseofulvin 0,488; 0,976; 1,953; 3,906; 7,812; 15,625; 31,250; 62,500; 125; 250 ppm, disiapkan untuk diuji dan proses pembuatannya menurut metode dari Barry (1976). Satu ose kultur A. hydrophila diinokuiasikan pada setiap tabung yang mengandung serial konsentrasi neomycin, dan satu ose kultur Saprolegnia diinokuiasikan pada setiap tabung yang mengandung serial konsentrasi griseofulvin. Tabung-tabung yang berisi A. hydrophila diinkubasikan pada suhu 30°C selama 24 jam, sedangkan yang berisi Saprolegnia diinkubasikan pada suhu kamar (25-30nC) selama 48 jam. Kadar hambat minimal (KHM) obat terhadap bakteri dan jamur didasarkan pada tidak adanya pertumbuhan pada konsentrasi terendah obat yang diuji yang ditunjukkan dengan warna bening.

Uji Efektivitas Obat terhadap Patogen Secara in Vivo Melalui perendaman

Ikan gurame berukuran 10-15 g berasal dari Parung, Bogor setelah diaklimatisasi dipelihara pada akuarium-akuarium kaca berisi air sumur 40 liter beraerasi; dengan kepadatan 10 ekor/akuarium. Melalui air akuarium bakteri A. hydrophila diinfeksikan dengan dosis 106 sel/ml selama lima jam, kemudian diberi perlakuan neomycin melalui perendaman dengan konsentrasi masing-masing 2,5; 5; 10; 20; dan 40 ppm selama 24 jam dengan tiga ulangan. Pengamatan atas gejala klinis dan kematian ikan uji dilakukan selama 21 hari. Dari percobaan tersebut dipilih konsentrasi neomycin yang paling efektif untuk pecobaan selanjutnya. Dalam percobaan berikutnya, perlakuan perendaman pada konsentrasi antibiotik yang terpilih dilakukan setiap selang waktu 3, 6 dan 9 hari selama 21 hari pengamatan. Dengan demikian pada perlakuan selang waktu 3 hari dilakukan 6 kali perendaman dalam anti biotik, untuk selang waktu 6 hari 3 kali perendaman, dan untuk selang waktu 9 hari perendaman hanya dilakukan 2 kali. Percobaan lainnya, yaitu jamur Saprolegnia dalam Yeast Extract Glucose Broth (YGB) umur 24 jam diinfeksikan melalui air akuarium dengan dosis 40 mL/akuarium selama 5 jam, kemudian diberi perlakuan griseofulvin, melalui perendaman dengan konsentrasi masing-masing 5, 10,

20, 40, dan 60 ppm selama 24 jam dengan tiga ulangan. Pengamatan terhadap gejala klinis dan kematian ikan uji dilakukan selama 9 hari.

Melalui pakan

Ikan gurame dari Parung berukuran rata-rata 31,72 g (28-35 g) diaklimatisasi dan dibiasakan makan cacing tubifex kering selama 5 hari, dengan kepadatan 5 ekor/akuarium. Setelah dianggap normal ikan diberi pakan cacing kering yang mengandung neomycin dengan dosis 0 mg/kg, 50 mg/kg ikan, 75 mg/kg ikan, 100 mg/kg ikan dan 125 mg/kg ikan per hari selama 8 hari. Masing-masing perlakuan diulang 3 kali. Pada hari ke-3 dan 9 ikan diinfeksi bakteri A. hydrophila melalui air dengan kepadatan 10e sel/ttiL. Pengamatan gejala klinis dan mortalitas ikan dilakukan selama 21 hari.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil uji sensitivitas bakteri Aeromonas hydrophila terhadap berbagai konsentrasi neomycin dapat dilihat pada Table 1. Neomycin dengan konsentrasi mulai dari 31,250 ppm efektif menghambat pertumbuhan A hydrophila. Konsentrasi ini lebih tinggi dari hasil yang dilaporkan oleh Fass and Barnisham (1981) bahwa kanamycin (satu grup dengan neomycin, yaitu amynoglycoside) pada konsentrasi 0,5-8 ppm dapat menghambat pertumbuhan 20 isolât (strain) A. hydrophila. Namun demikian, hal ini serupa dengan hasil yang dilaporkan oleh Taufik (1991) bahwa kanamycin 8-32 ppm dapat menghambat pertumbuhan 19 isolât A. hydrophila.

Perlakuan neomycin 40 ppm adalah yang paling efektif. Hal ini ditunjukkan dengan sintasan ikan uji, yaitu 86% dibandingkan kontrol, 2,5; 5; 10 dan 20 ppm adalah masing-masing 0%, 6%, 13%, 16% dan 36%. Hasil ini sesuai dengan hasil uji sensitivitas (Table l) bahwa neomycin mulai 31-250 ppm efektif menghambat pertumbuhan A. hydrophila. Konsentrasi ini adalah lebih rendah dibandingkan dengan yang disarankan oleh Herwig (1979), yaitu 60 ppm. Efektivitas neomycin 40 ppm terhadap infeksi A. hydrophila secara in vivo yang dilakukan dalam selang waktu 3, 6 dan 9 hari dapat dilihat pada Table 3. Pada akhir percobaan (hari ke-21) neomycin 40 ppm yang dilakukan selang waktu 3, 6 dan 9 hari efektif untuk menanggulangi infeksi A. hydrophila pada ikan gurame. Kelangsungan hidup ikan uji pada selang waktu 3, 6 dan 9 hari adalah masing-masing 100%, 96% dan 100% dibandingkan dengan kontrol yang 0%. Melihat perlakuan dengan 3 macam selang waktu ternyata tidak memberikan hasil yang berbeda, maka perlakuan perendaman dengan selang waktu 9 hari atau aplikasi 2 kali dianggap paling akhir percobaan (hari ke-21), neomycin dosis 125 efisien dalam percobaan ini. mg/kg ikan per hari selama 8 hari adalah yang paling efektif untuk menanggulangi infeksi A. Pengaruh dosis neomycin yang diberikan hydrophila pada ikan gurame dibandingkan melalui pakan terhadap infeksi A. hydrophila dengan dosis lainnya. Pada uji pada dosis lainnya berkisar antara 0-75%.

Griseofulvin dengan konsentrasi 0,488-250 ppm tidak dapat menghambat pertumbuhan Saprolegnia. Begitu pula secara in vivo Griseofulvin konsentrasi 5-60 ppm tidak efektif terhadap infeksi Saprolegnia pada ikan gurame. Hal ini sesuai dengan pernyataan Brander and Baywater (1982) bahwa griseofulvin efektif untuk menanggulangi penyakit jamur yang tergolong Dermathophites, sedang Saprolegnia tergolong Oomycetes.

 

KESIMPULAN

(1) Perendaman dalam larutan neomycin dosis 40 ppm dengan selang waktu 9 hari sebanyak 2 kali adalah efektif untuk menanggulangi infeksi Aeromonas hydrophila pada ikan gurame.

(2) Neomycin yang diberikan melalui pakan pada dosis 125 mg/kg ikan per hari selama 8 hari berturut-turut juga efektif untuk menanggulangi penyakit A. hydrophila pada ikan gurame.

(3) Griseofulvin secara in vitro dan in vivo tidak efektif untuk menanggulangi penyakit Saprolegnia pada ikan gurame.

http://www.perpustakaan-brkp.dkp.go.id

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s