MENGENAL ALAT TANGKAP PURSE SEINE (PUKAT CINCIN)


Pukat cincin adalah alat penangkapan ikan berbentuk empat persegi panjang (tipe selendang) atau gabungan antara bentuk empat persegi panjang yang terletak di tengah dengan bentuk trapesium yang terletak disisi-sisinya (tipe gunungan). Pembentukan kantong (bunt) dapat di bagian ujung jaring atau di tengah jaring. Bagian atas jaring dipasang pelampung dan bagian bawahnya dipasang pemberat, serta sejumlah cincin penjepit (Purse ring) yang terbuat dari kuningan atau besi.

Berdasarkan penggolongannya jaring lingkar dibedakan berdasarkan bentuk kontruksi, cara operasi dan dimensi ukurannya.

Penggolongan berdasarkan bentuknya meliputi:

  1. Berbentuk persegi panjang yang dioperasikan dengan satu kapal.
  2. Berbentuk satu lengkungan (trapezium terbalik) yang dioperasikan dengan satu kapal.
  3. Berbentuk dua lengkungan simetris yang dioperasikan dengan dua kapal.

Berdasarkan dimensinya pukat cincin diklasifikasikan sebagai berikut:

  1. Pukat cincin mini: panjang kurang dari 300 m, berkembang di laut dangkal (Laut Jawa, Selat Malaka, Perairan Timur Aceh) atau di sepanjang perairan pantai pada umumnya (coastal fisheries). Sasaran utamanya adalah ikan pelagis kecil, seperti :ikan layang, ikan tembang, lemuru dan kembung.
  2. Pukat cincin berukuran sedang: panjang dari 300 – 600 m yang dioperasikan di perairan yang lebih jauh atau di perairan lepas pantai (off shore fisheries). Sasaran utamanya adalah ikan tongkol dan kembung.
  3. Pukat cincin berukuran besar: panjang lebih dari 600 – 1000 m, yang dioperasikan di perairan laut-dalam di dalam Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (Deep sea fisheries). Sasaran utama : ikan cakalang dan ikan tuna.
  4. Pukat cincin super: panjang lebih dari 1000 m, berkembang di perairan laut bebas (High sea fisheries).

Pukat cincin dioperasikan dengan cara melingkarkan jaring terhadap gerombolan ikan. Pelingkaran dilakukan dengan cepat, kemudian secepatnya menarik purse line di antara cincin-cincin yang ada, sehingga jaring akan membentuk seperti mangkuk. Kecepatan tinggi diperlukan agar ikan tidak dapat meloloskan diri. Setelah ikan berada di dalam mangkuk jaring, lalu dilakukan pengambilan hasil tangkapan menggunakan serok atau penciduk.

AA12

AA13

Gambar 1. Kapal dan Cara Pengoperasiannya

Pukat cincin dapat dioperasikan siang atau malam hari. Pengoperasian pada siang hari sering menggunakan rumpon atau payaos sebagai alat bantu pengumpul ikan. Sedangkan alat bantu pengumpul yang sering digunakan di malam hari adalah lampu, umumnya menggunakan lampu petromaks.Keberhasilan pengoperasian pukat cincin dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu ketepatan melingkari gerombolan ikan, kecepatan tenggelam pemberat dan kecepatan penarikan tali kolor. Pengaturan jaring harus tepat dan cepat sehingga gerombolan atau kawanan ikan tidak punya kesempatan untuk keluar dari lingkaran jaring.

Hasil tangkapan utama adalah ikan pelagis antara lain: ikan kembung, tembang, japuh, lemuru, julung-julung layur, tetengkek, talang-talang, siro, selar kuning, parang-parang, layang, senuk, tongkol, cucut, tenggiri papan dan kenyar.

Penyuluh dapat memilih alat tangkap apa yang sesuai dengan kondisi perairannya. Alat tangkap ini dapat dimodifikasi dan disesuaikan dengan daerah penangkapan. Referensi ini diambil dari jurnal penelitian dan Pusat Riset Perikanan Tangkap, BRKP dan makalah Direktorat Jendral Perikanan Tangkap.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s