Bidang PUA, PENAS XIV


cropped-happy2075th20birthday-2-nr.jpgPekan Nasional (PENAS) merupakan acara pertemuan Kontak Tani Nelayan yag digagas oleh tokoh tani nelayan sejak tahun 1971. Kegiatan ini merupakan wahana bagi petani nelayan seluruh indonesia untuk melakukan konsolidasi, pengembangan diri, tukar menukar informasi, apresiasi, kemitraan dan promosi hasil pertanian, perikanan dan kehutanan yang diselenggarakan secara teratur dan berkelanjutan. Dalam rangka mendukung kegiatan PENAS XIV di Kepanjen, Kabupaten Malang Provinsi Jawa Timur, Pusat Penyuluhan KP salah satunya mendukung kegiatan Peragaan, Unjuk Tangkas dan Asah Terampil. Melalui PENAS XIV ini petani nelayan berkesempatan untuk saling mengisi dalam upaya memperkuat kepemimpinan agribisnis di tingkat petani nelayan, sekaligus mengawal pemerintahan agar mampu mengubah petani nelayan menjadi lebih bergairah terhadap pembangunan pertanian, sehingga berpengaruh terhadap usaha agribisnisnya. Seperti pada PENAS tahun-tahun sebelumnya, pada PENAS XIV Petani Nelayan 2014 kali ini terdapat kegiatan peragaan, unjuk tangkas dan asah terampil yang diikuti oleh para petani-nelayan wakil dari seluruh provinsi di Indonesia. Kegiatan ini dikoordinir oleh Seksi Peragaan, Unjuk Tangkas dan Asah Terampil (PUA) yang berada dibawah Bidang Pengembangan Teknologi dan Kualitas Produksi Agribisnis (Bidang IV) PENAS XIV Petani Nelayan Tahun 2014.

            Tujuan dari kegiatan Peragaan, Unjuk Tangkas dan Asah Terampil adalah:

  1. Memberi kesempatan kepada peserta untuk memahami secara utuh terhadap suatu teknologi baru dalam bidang pertanian, perikanan dan kehutanan.
  2. Meningkatkan kemampuan peserta dalam memperagakan keterampilan dibidang teknologi pertanian, perikanan dan kehutanan.
  3. Menggali teknologi spesifik lokalita sebagai salah satu upaya untuk mengetahui kemampuan dan prakarsa petani nelayan dalam pengembangan teknologi.
  4. Memberi peluang untuk mempromosikan dan memasarkan produk dan sarana produksi yang menguntungkan konsumen.
  5. Memupuk dan menambah rasa kekeluargaan dan keakraban diantara sesama peserta PENAS XIV Petani Nelayan 2014.
  6. Memberi kesempatan seluas-luasnya kepada peserta PENAS XIII Petani Nelayan 2011 untuk melihat lebih dekat, merasakan dan mencoba suatu teknologi baru dibidang pengembangan agribisnis.

Panitia pelaksana kegiatan Seksi Peragaan, Unjuk Tangkas dan Asah Terampil pada PENAS XIV Petani Nelayan Tahun 2014 terdiri dari Panitia Pusat dan Panitia Daerah. Anggota panitia baik di tingkat pusat maupun daerah terdiri dari KTNA, pegawai Dinas tingkat Kabupaten/Provinsi dan pegawai lingkup Kementerian Pertanian.

Berikut ini adalah susunan Panitia Pelaksana Tingkat Pusat dan Daerah :

KETUA I                         :   Ir. Ali Ashari

KETUA II                        :   Ir. Sriwijayanti Yusuf, MAgr.Sc

KETUA PANITIA DAERAH   :   Kepala Plt Badan Penanggulangan Bencana Daerah

                                        Kab Malang

SEKRETARIS I                 :   Supardi A. Kadir,S.Pd,S.IP

SEKRETARIS II                :   Ir. Pitriansyah Kosim,MSi

­­

  1. SUB SEKSI PERAGAAN

Koordinator :Ir. Saptiati, MM (Ditjen Hortikultura)

Anggota      :     Ir. Wiwi Sutiwi (Ditjen Hortikultura)

                       Ir. Dwi Purnomo (STPP Malang)

                       Suparman (KTNA Malang)

                       Ir Mamik Sri Utami (BKP3 Malang)

                       Ir Evi Paulin, MS ( BPTP Jawa Timur)

                       Dwi Wijayanti (Dinas Kelautan dan Perikanan Malang)

                       Reni Kusumawati,M.Agr (Dinas Pertanian, Perkebunan Malang)

                       Endang Eni Purbandari (Dinas Kehutanan Malang)

                       Rosadi,S.St.Pi (Kementerian Kelautan dan Perikanan)

                       Doddy Hardyoko (Dinas Pemuda dan Olahraga Malang)

  1. SUB SEKSI UNJUK TANGKAS

Koordinator: Ir. Sri Esti Haryanti,MM (Ditjen Hortikultura)

Anggota      : Lince Sipayung, SP,MP (Ditjen Hortikultura)

                   Ruslia Atmaja, SP (Badan SDM Pertanian)

                   Ir Budianto,MP (STPP Malang)

                   Tatang, S.St,Pi (Kementerian Kelautan dan Perikanan)

Dr. Ir. Demitria Dewi H. MM (Ditjen Perkebunan)

Jamalrizal, S.Pt (Ditjen Nak dan Keswan)

M. Adityo Pradana, SH (Ditjen Tanaman Pangan)

Fahrudin, STP, MSc (Ditjen Horti)

Dr. Ir. Siswoyo, MP (STPP Malang)

Ir. Tini Seniati,MSi (BPTP Jatim)

Hardianto Tri A.P (Dinkel dan Perikanan Kab. Malang)

Miming Merina, S.Sos, MM (HKTI Jatim)

Joko (Badan Diklat Kab. Malang)

  1. SUBSEKSI ASAH TERAMPIL :

Koordinator: Ir Pitriansyah Kosim,MSi (Ditjen Hortikultura)

Anggota      : Dr. Ir Sunarto,MP (STPP Malang)

                   Heru Sudaryanto,SP (Ditjen Hortikultura)

                   Ahmad Sobari (S.St.Pi (Kementerian Kelautan dan Perikanan)

Ir. Arifah Sri Hananingsing (Ditjen Perkebunan)

Zenaida Soemedi, SE (Ditjen Tanaman Pangan)

Drh. Herwinarni (Ditjen Nak dan Keswan)

Ir Wigati Istuti (BPTP Jawa Timur)

Ir Mamik Sri Utami (BKP3 Malang)

Lingkup Kegiatan:

  1. Peragaan

 

          Kegiatan peragaan di laksanakan di Gedung Sekolah tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Kepanjen. Total peserta yang hadir pada rangkaian acara peragaan adalah 540 orang dari berbagai propinsi/KTNA. Adapun rangkaian kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut :

  1. Pembuatan Hidroponik Sederhana

          Pembuatan hidroponik sederhana yang disampaikan oleh Tim Trubus yaitu Ibu Suci Puji Suryani dan Bapak Argohartono Arie Raharjo. Acara ini dihadiri kurang lebih 100 peserta. Materi yang disampaikan antara lain tentang pengertian hidroponik, macam hidroponik dan teknik pembuatan hidroponik sederhana. Hidroponik berarti budidayatanamanyang memanfaatkan airdan tanpa menggunakantanahsebagaimedia tanamatausoilless. Teknik hidroponik banyak dilakukan dalam skala kecil sebagai hobi di kalangan masyarakat Indonesia. Pemilihan jenis tanaman yang akan dibudidayakan untuk skala usaha komersial harus diperhatikan, karena tidak semua hasil pertanian bernilai ekonomis Pemeraga dari Trubus memeragakan cara pembuatan hidroponik sederhana dengan peralatan yang telah mereka siapkan yaitu pipa PVC, besi, talang, keni, dop, tee, lem PVC, pompa aquarium, aerator, plastik UV, dan tanaman. Para peserta sangat antusias dengan peragaan tersebut. Ada peserta dari Kab.Merangin yang juga memeragakan teknik hidroponik sederhana untuk menambah informasi dan pengetahuan bagi peserta yang lain.

 

  1. Pembuatan Jamu Ternak dan Pembuatan Biopestisida

          Peragaan Pembuatan Jamu Ternak dan Pembuatan Biopestisida. Pemeraga dalam kegiatan ini adalah Ir. Dwi Purnomo, MM, dosen dari STPP Malang. Pada peragaan pembuatan jamu ternak ini dibahas tentang berbagai macam tanaman yang dapat digunakan sebagai jamu untuk ternak antara lain :

üJahe              = Cosidiosis, Kekebalan Tubuh

üBawang Putih = Aflaktoksikosis

üKunyit = Nafsu Makan, Pencernaan, Anti Bakteri

üLengkuas       = Nafsu Makan, Stamina, Tonikum

Temulawak      = Nafsu Makan

Temuireng       = Mencegah Cacingan

Lidah Buaya     = Mortalitas Rendah, Efesiensi Pakan

Lempuyang     = Batuk, Diare, Perbaikan Sel, Nafsu Makan

Sambiloto       = Menekan Aflatoksis, Snot/Flu,mencegah Cocsidioses

Mengkudu       = Efesiensi Makan,warna Kuning Telur, Stamina,

Pepaya           = Daya Tahan Tubuh,menurunkan Lemak Karkas Itik Naik

Adas              = perut kembung, mencret

Azolla/kiambang= telur itik kemerah-merahan

          Biopestisida adalah pestisida yang bahan dasarnya berasal dari tanaman atau tumbuhan. Berbagai Macam bahan yang dapat digunakan sebagai Biopestida antara lain : Beluntas, Mentimun, Labu Besar, Serai Bumbu, Dahlia, TubaUrangt aring, Cengkeh, Gadung, Suren, Mindi, Kenikir, Dlingu, Bawang putih dan merah, Serai wangi, sirsak, Buah nona, delima, mimba, Kayu manis, Jeruk Purut, Kelapa, Jinten, Ketumbar, Kemalakian. Pada acara ini pemeraga memperagakan tentang pembuatan biopestisida untuk membasmi wereng coklat, wereng hijau, walang sangit, walang daun, dan ulat daun. Dalam kegiatan ini juga diberikan kesempatan bagi peserta untuk dapat memeragakan cara pembuatan biopestisida yaitu dari Jawa Barat. Peserta dari Jawa Barat ini memeragakan cara pembuatan biopestida dari ragi tape.

  1. Teknologi Budidaya Ikan Lele Sistem Bioflok

Budidaya lele bagi sebagian masyarakat dianggap mudah.  Walau demikian, tak sedikit keluhan pembudidaya lele bila menjalankan sistem budidaya intensif, terkait kiantingginya harga pakan. Intensifikasi budidaya melalui peningkatan padat tebar benih dan penggunaan pakan berprotein tinggi dilakukan guna meningkatkan produksi benih per satuan luas.  Kegiatan tersebut cukup berisiko jika kurang tepat dalam pengelolaannya, karena menghasilkan bahan organik dalam jumlah besar yang memacu peningkatan kadar senyawa toksik seperti amonia dan nitrit, serta perkembangan bakteri patogen. Limbah organik, baik dalam bentuk terlarut (dissolved) maupun padatan (suspended) tersebut juga berpotensi menurunkan daya dukung perairan bagi kehidupan organisme akuatik dan masyarakat jika tidak dikelola dengan baik.

Beberapa hal yang perlu dipahami mengenai konsep teknologi bioflok adalah sebagai berikut. 1) Pemberian pakan berprotein tinggi mengakibatkan peningkatan kadar nitrogen (N) organik, seperti amonia dan nitrit, karena hanya 20–25% protein pakan yang terkonversi menjadi protein ikan, 2) amonia dan nitrit toksik bagi ikan sehingga menghambat pertumbuhan dan menyebabkan kematian, 3) penambahan sumber karbon (C) organik, dalam bentuk molase (tetes tebu), tepung tapioka, tepung terigu, meningkatkan rasio C:N diatas 10 sehingga bakteri heterotrof berkembang, 4) bakteri heterotrof lebih efektif mengkonversi N di air media menjadi biomassa sel dibandingkan fitoplankton, 5) densitas bakteri heterotrof yang tinggi membentuk flok “bioflok” yang bisadimanfaatkan sejumlah spesies ikan sebagai sumber pakan tambahan, 6) agar sistem bioflok berjalan baik maka suplai oksigen (minimum 5 mg/L) dan pengadukan harus dilakukan.

Selain itu, pemilihan jenis bakteri sangat utama terhadap keberhasilan sistem bioflok, karena tidak semua bakteri mampu membentuk flok.  Bakteri positif—yangselama ini dikenal sebagai probiotik—merupakanpilihan tepat dalam penerapan budidaya sistem bioflok, satu di antaranya Bacillus subtillis. Mikroba dengan kemampuan remediasi tinggi merupakan kunci utama keberhasilan penerapan sistem bioflok.  Dengan waktu pembelahan diri yang cepat (generation time 10–12 jam) maka populasi bakteri heterotrof akan sangat cepat.

Selain pemilihan jenis pakan yang tepat, ada teknik tertentudalam pengolahan pakan sebelum digunakan. Yaitu melalui penerapan sistem fermentasi pakan sehingga nilai kecernaan pakan meningkat. Fermentasi dilakukan dengan menambahkan probiotik sebanyak 4 ml/Kg pakan, dibiarkan selama 2–7hari dalam tempat oksigen terbatas (an aerob).  Pada hari ke-3 fermentasi,ternyata pakan sudah ditumbuhi mikroba sehingga berwarna keputihan.

Berdasarkan pengalaman, pakan yang telah difermentasi tersebut memberikan hasil positif, berupa ikan yang sehat. Kebalikannya pemberian pakan tanpa difermentasi berakibat pada banyaknya ikan yang luka. Alhasilterciptalah sistem budidaya lele hemat pakan, karena FCR-nya 0,7 – 0,8.

Untuk menghemat biaya pakan dilakukan beberapa langkah khusus. Yaitu 1) penggunaan pakan dengan kadar protein tinggi (28–31) dihentikan dan diganti dengan pakan dengan kadar protein rendah, 22–24 setelah flok terbentuk dan 2) pemuasaan sehari tiap minggu setelah flok terbentuk (kandungan flok 150 mL/L media).

Sistem bioflok bukan berarti tanpa ganti air, karena jikadensitas flok terlalu tinggi berbahaya bagi keseimbangan sistem, khususnya kadar oksigen terlarut akan sangat rendah, sehingga ikan rawan stres dan kematian. Berdasarkan hasil pengukuran kualitas air pada beberapa bak pemeliharaan ikan lele, diketahui bahwa sistem tersebut cukup ideal, dengan level pH 8,0 – 8,1; oksigen terlarut 1,8 mg/L (bagian atas) dan 2,1 mg/L (bagian tengah); kadar nitrit 0 mg/L, dan kadar nitrat 0 mg/L.

  1. Penggunaan Antilin Kit (Anti Formalin)

Peragaan penggunaan antilin kit disampaikan oleh Tim dari Litbang Kementerian Kelautan dan Perikanan Jakarta. Pada peragaan tersebut pemateri menjelaskan bahaya dari formalin pada makanan. Formalin adalah formaldehida dalam pelarut air dengan kisaran jumlah 30 – 40 persen. Sedangkan formaldehid sebenarnya adalah gas yang tidak berwarna yang merupakan senyawa kimia golonganaldehid yang paling sederhana. Dalam air formaldehid dihidrasi dan ditemukan dalam bentukan metilen glikol dan oligomernya. Formaldehid bersifat sangat reaktif, mudah teroksidasi, artinya memiliki kemampuan reduktor yang kuat, kemudian dapat berubah menjadi asam format dan lebih lanjut akan teroksidasi menjadi karbondioksida air.

Saat ini banyak informasi yang tersebar melalui internet mengenai temuan penggunaan formalin pada ikan. Terdapat dua metode untuk menganalisa kandungna formalin pada makanan, antara lain:

  1. Metode kualitatif, yaitu dengan sekedar tahu ada atau tidaknya suatu senyawa (formalin/formaldehid) pada bahan yang diuji. Dapat dengan menggunakan uji: chromotopic acid, hahner-fulton, leachs, uji fenol, uji schiffs dengan menggunakan ANTILIN, dan lain-lain.
  2. Metode kuantitatif, dengan pengujian sampai tahap jumlah kandungan suatu senyawa (formalin/formaldehid) pada bahan yang diuji.
  1. Penyiapan Benih Tebu

Tebu merupakan komoditas unggulan perkebunan. Keberhasilan hasil rendeman tebu ditentukan oleh jenis varietas yang ditanam di perkebunan. Benih merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap produksi. Penggunaan benih unggul tebu bermutu akan berdampak positif terhadap produktivitas tebu, sepanjang factor-faktor lain yang berpengaruh terhadap produtivitas tebu terjamin. Sedangkan penggunaan benih yang tidak unggul dan tidak bermutu tidak akan menghasilkan produktivitas yang optimal meskipun faktor-faktor lain yang mempengaruhi produktivitas tebu terjamin. Oleh karena itu penggunaan benih unggul bermutu merupakan keharusan agar produktivitas tebu dapat optimal.

Untuk mendapatkan benih tebu unggul bermutu, diperlukan kebun benih tebu dengan menggunakan benih yang memenuhi syarat, sekurang-kurangnya memiliki empat kriteria yaitu: 1) Benih yang digunakan memiliki asal-usul yang jelas dan benar varietasnya; 2) Benih yang digunakan memiliki tingkat kemurnian yang tinggi (≥95%); 3) Benih yang digunakan adalah benih yang sehat; 4) Benih yang digunakan berasal dari tanaman yang tumbuh normal.

Benih yang baik yaitu benih yang berasal dari bagal (stek) mata dua maupun mata tiga. Namun demikian, untuk tujuan tertentu, benih dapat berupa bagal mata 1 atau lebih dari mata 3, bud chip dan bud sett, rayungan, dederan dan bibit dalam polibag.Benih yang bermutu yaitu benih yang memenuhi kriteria sebagai berikut: Daya kecambah ≥90 %, ukuran batang dengan panjang ruas normal (tidak ada gejala hambatan pertumbuhan), diameter batang lebih besar dari 2 cm kecuali benih bagal mikro G-2 asal kultur jaringan, mata tunas masih dorman, serta benih tebu tidak menunjukkan kekeringan (mengkerut).

Benih tebu yang digunakan berdasarkan SNI sebagai berikut: serangan hama penggerek batang < 2% dari jumlah ruas dan serangan hama penggerek pucuk < 5 % dari jumlah ruas, serangan hama lain < 5 %, benih harus diusahakan tidak terserang penyakit atau sekecil mungkin terserang penyakit yaitu bebas dari penyakit sistemik seperti pembuluh (Ratoon Stunting Disease/ RSD), mosaic dan blendok. Untuk mematikan penyakit dan hama ikutan pada bahan tanaman, benih diperlakukan dengan perawatan air panas (hot water treatment/HWT) pada suhu 500C selama 2 jam untuk pengendalian penyakit RSD, luka api, pengendalian spora jamur, serangga dan kutu-kutu). Materi disampaikan oleh Herman Hidayat, Karyani dan Maulana Indrawan.

  1. Demonstrasi Alat Pengupas Dan Pencuci Kentang

Demonstrasi kali ini dilakukan oleh PT. Royal Sultan Agung, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang alat proses pengolahan hasil pertanian. PT. Royal Sultan Agung mendemokan mengenai alat pengupas dan pencuci kentang. Kentang yang baru dipanen dalam keadaan utuh langsung dimasukkan ke dalam alat pengupas kemudian dalam waktu singkat kentang keluar dari alat tersebut dengan kondisi sudah bersih dari kulitnya dan kentang sudah siap diolah lebih lanjut lagi.

Alat tersebut dapat mencuci dan mengupas kentang sebanyak 10 kg dalam waktu 2 menit. Demonstrasi alat pengupas dan pencuci kentang disampaikan oleh Bapak Erwin Wijaja (Sales Manager Area Indonesia Timur), Bapak Stefanus (Technical Engineer Area Indonesia Timur), Bapak Gunawan (Sales Manager) beserta tim. Acara berjalan lancar dan peserta sangat antusias untuk mengikuti acara tersebut.

 

  1. Demonstrasi Olahan Mie Sawi

Demonstrasi mie sawi disampaikan oleh perwakilan dari BPTP Jawa Timur, yaitu Bapak Suhardi dan Ibu Lailatul Isnaini. Mie sawi merupakan salah satu bentuk diversifikasi pangan dari olahan tepung jagung dan sayuran sederhana. Pembuatan mie sawi sangat mudah dan bahan-bahannya pun dapat diperoleh dengan mudah di rumah. Proses pembuatan mie sawi juga cukup mudah dan singkat, hanya diperlukan kecermatan dalam mengolah tepungnya sebelum dicetak menjadi lembaran mie. Selain sawi, campuran tepung tersebut bisa dibuat dari selain sawi, misalnya buah naga, seledri, dan lain-lain. Peragaan mie sawi berjalan dengan lancar dan peserta juga antusias mengikuti proses demonstrasi tersebut. Di akhir peragaan, peserta diberikan kesempatan untuk mencicipi hasil olahan akhir dari mie sawi tersebut.

  1. Demonstrasi Pembuatan Minuman Sari Jagung

Jagung merupakan komoditas pangan yang memiliki karbohidrat yang cukup baik sebagai pengganti beras, oleh karena itu produksi dan konsumsi jagung di Indonesia masih sangat tinggi karean dapat dijadikan alternatif pilihan masyarakat untuk mengganti nasi sebagai bahan pangan pokok. Bahkan di beberapa propinsi di Indonesia, jagung menjadi makanan pokok penduduknya. Namun masyarakat pada umumnya masih mengkonsumsi jagung dengan cara direbus, dimasak tumis, dibuat cake dan lain-lain.

Pada kesempatan kali ini, BPTP Jawa Timur menyampaikan peragaan mengenai olahan jagung manis dalam bentuk minuman sari jagung. Proses pembuatannya cukup sederhana, jagung manis direbus beserta beberapa lembar kulitnya dalam waktu hanya 5 menit. Setelah itu jagung disisir, diambil sekitar 80 persen dari butir jagungnya. Setelah itu diblender bersamaan dengan air rebusan jagung tadi dan diberi gula secukupnya. Apabila telah halus, jagung yang telah diblender tersebut disaring untuk di ambil airnya. Minuman sari jagung siap dihidangkan.

Sari jagung ini dapat dinikmati selagi hangat. Kualitas minuman sari jagung dapat dipengaruhi oleh varietas jagung, proses perebusan, penyisiran, dan peyaringan. Peragaan pembuatan sari jagung ini disampaikan oleh Ibu Lailatul Isnaini. Pembuatan sari jagung ini sangat diminati oleh peserta yang antusias berinteraksi dengan narasumber/pemeraga sehingga acara berjalan dengan lancar dan tertib.

  1. Pembuatan Jamur Tiram

Pada peragaan kali ini, pemeraga dari STTP Malang, Bapak Sule dan Bapak Sarapudin, menyampaikan metode pembuatan jamur tiram dari mulai bagaimana menyiapkan dan memproduksi benih F1 melalui kultur jaringan sampai ke pembuatan log jamur. Budidaya jaringan tanaman secara in vitro tidak selalu membutuhkan peralatan yang canggih dan membutuhkan biaya mahal, tinggal tergantung ketepatan yang disyaratkan serta tujuan yang diinginkan.

Sebuah laboratorium yang terdiri dari sekat-sekat ruangan yang mempunyai kesatuan dan saling mendukung fungsi satu ruang dengan yang lainnya ditambah perlengkapannya sehingga aktivitasnya dapat mandiri. Laboratorium kultur jaringan biasanya terdiri dari ruang persiapan, ruang kantor/administrasi, ruang inokulasi/isolasi, ruang inkubasi, ruang sterilisasi, ruang inkubasi, gudang dan dapur. Semua ruangan ditata sedemikian rupa dan dilengkapi perlengkapan yang sesuai sehingga mendukung setiap tahapan pelaksanaan kultur jaringan.

  1. Unjuk Tangkas

Pendamping menentukan anggota tim yang akan mengikuti masing-masing kegiatan unjuk tangkas yang dipilih dari 6 (enam) orang tersebut. Provinsi yang mengikuti masing-masing kegiatan unjuk tangkas antara lain:

  1. Bongkar Pasang Traktor diikuti oleh 22 provinsi yaitu: Provinsi Riau, provinsi Sumsel, Provinsi Bengkulu, Provinsi Lampung, provinsi Jambi, provinsi Sumut, Provinsi DKI Jakarta, Provinsi Banten, Provinsi Jabar, provinsi Jateng, provinsi Jatim, provinsi Bali, provinsi NTB, provinsi Kalbar, provinsi Kaltim, provinsi Kalsel, provinsi Kalteng, provinsi Kaltara, provinsi Sulsel, provinsi Sulbar, provinsi Maluku Utara, dan provinsi Papua.
  2. Memasang Alat Tanam Padi Sistem Jajar Legowo diikuti oleh 19 provinsi yaitu: Provinsi Riau, Provinsi DKI Jakarta, Provinsi Bali, Provinsi Sumsel, Provinsi Jabar, Provinsi Kalbar, Provinsi Kalteng, Provinsi Sultra, Provinsi Kaltim, Provinsi Kaltara, Provinsi Sulbar, Provinsi Sulsel, Provinsi Papua, Provinsi Maluku Utara, Provinsi Jambi, Provinsi NTT, Provinsi Maluku, Provinsi Jateng dan Provinsi Sumut.
  3. Memilih Jenis Kelamin Anak Ayam (Sexing DOC) diikuti oleh 25 provinsi, yaitu: Provinsi Riau, Provinsi Bengkulu, Provinsi Lampung, Provinsi DKI Jakarta, Provinsi NTB, Provinsi Bali, Provinsi Sumsel, Provinsi Jabar, Provinsi Banten, Provinsi Kalsel, Provinsi Kalbar, Provinsi Kalteng, Provinsi Sultra, Provinsi Kaltim, Provinsi Kaltara, Provinsi Sulbar, Provinsi Sulut, Provinsi Sulsel, Provinsi Papua, Provinsi Maluku Utara, Provinsi Sulteng, Provinsi Jambi, Provinsi NTT, Provinsi Papua Barat, dan Provinsi Jateng.
  4. Pengemasan Benih Ikan Lele, diikuti oleh 24 provinsi, yaitu: Provinsi Gorontalo, Provinsi jambi, Provinsi sumut, Provinsi kalteng, Provinsi sumsel, Provinsi Jatim, Provinsi Sultra, Provinsi Kaltim, Provinsi Banten, Provinsi NTT, Provinsi Jabar, Provinsi Kalbar, Provinsi DKI Jakarta, Provinsi Jateng, Provinsi Papua, Provinsi Papua Barat, Provinsi Riau, Provinsi Bali, Provinsi Maluku Utara, Provinsi Kaltara, Provinsi Kalsel, Provinsi Bengkulu, Provinsi Lampung dan Provinsi Sulsel.
  5. Okulasi Benih Jeruk diikuti oleh 23 Provinsi yaitu: Provinsi Jatim, Provinsi Riau, Provinsi NTB, Provinsi Maluku Utara, Provinsi Lampung, Provinsi Kalteng, Provinsi Jambi, Provinsi Kalbar, Provinsi Banten, Provinsi Papua, Provinsi Kaltim, Provinsi Bengkulu, Provinsi Papua Barat, Provinsi Jabar, Provinsi DKI Jakarta, Provinsi Kaltara, Provinsi Sumsel, Provinsi Gorontalo, Provinsi Jateng, Provinsi Maluku, Provinsi Sulsel, Provinsi Kalsel, dan Provinsi Bali.
  6. Mengupas, Membelah dan Mencungkil Kelapa, diikuti oleh 28 Provinsi yaitu: Provinsi Papua Barat, Provinsi Maluku Utara, Provinsi Kalbar, Provinsi Jambi, Provinsi Sulbar, Provinsi Sulsel, Provinsi Kaltim, Provinsi Kaltara, Provinsi Kalteng, Provinsi NTT, Provinsi Sulut, Provinsi Bengkulu, Provinsi Bali, Provinsi NTB, Provinsi DKI Jakarta, Provinsi Sulteng, Provinsi Kalsel, Provinsi Maluku, Provinsi Sumsel, Provinsi Papua, Provinsi Gorontalo, Provinsi Riau, Provinsi Jateng, Provinsi Banten, Provinsi Jabar, Provinsi Jatim, Provinsi Sultra dan Provinsi Sumut.
  7. Memilih Varietas Tebu Sesuai Tingkat Kematangan diikuti oleh 11 provinsi, yaitu: Provinsi Sumut, Provinsi Riau, Provinsi Kalteng, Provinsi DKI Jakarta, Provinsi Jateng, Provinsi Jabar, Provinsi NTB, Provinsi Kaltim, Provinsi Papua, Provinsi Maluku Utara dan Provinsi Bali.

Mekanisme lomba Unjuk Tangkas Penas XIV adalah sebagai berikut:

No Kegiatan Durasi Peserta Juri
1 Bongkar Pasang Traktor (Menyetel Klep) 10 menit 2 orang Kasiono (Sekolah Tinggi Penyuluh Pertanian Malang)
2 Memasang Alat Tanam Padi Sistem Jajar Legowo 3 menit 1 orang Memed Jamlani (Direktorat Jenderal Tanaman Pangan)
3 Memilih Jenis Kelamin Anak Ayam (Sexing DOC) 10 menit 1 orang M. Tauhid Suryaningrat (Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan)
4 Mengemas Benih Ikan Lele 3 menit 2 orang Tatang,S.St.Pi (Kementerian Kelautan dan Perikanan)
5 Okulasi Benih Jeruk 5 menit 1 orang Setiono (Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Sub Tropika)
6 Mengupas, Membelah dan Mencungkil Kelapa 5 menit 2 orang Tri Endah (Direktorat Jenderal Perkebunan)
7 Memilih Varietas Tebu sesuai tingkat kematangan 3 menit 2 orang Ir Gede Wirasuta,MMA (Pabrik Gula Kebon Agung Malang)

Pemenang lomba unjuk tangkas pada setiap kegiatan adalah sebagai berikut :

  1. Bongkar Pasang Traktor

Juara I Provinsi Kalimantan Tengah

Juara 2 Provinsi Sulawesi Selatan

Juara 3 Provinsi Sumatera Utara

  1. Memasang Alat Tanam Padi Sistem Jajar Legowo

Juara 1 Provinsi Kalimantan Timur

Juara 2 Provinsi Riau

Juara 3 Provinsi Jawa Barat

  1. Memilih Jenis Kelamin Anak Ayam (Sexing DOC)

Juara 1 Provinsi Bengkulu

Juara 2 Provinsi Sulawesi Tenggara

Juara 3 Provinsi Jawa Tengah

  1. Mengemas Benih Ikan Lele

Juara 1 Provinsi Kalimantan Timur

Juara 2 Provinsi Kalimantan Barat

Juara 3 Provinsi Kalimantan Utara

  1. Okulasi Benih Jeruk

Juara 1 Provinsi Bali

Juara 2 Provinsi Bengkulu

Juara 3 Provinsi Jawa Timur

  1. Mengupas, Membelah Dan Mencungkil Kelapa

Juara 1 Provinsi Bali

Juara 2 Provinsi Papua

Juara 3 Provinsi Jawa Barat

  1. Memilih Varietas Tebu Sesuai Tingkat Kematangan

Juara 1 Provinsi Jawa Tengah

Juara 2 Provinsi Nusa Tenggara Barat

Juara 3 Provinsi Bali

 

Sedangkan juara umum untuk semua kegiatan lomba unjuk tangkas adalah :

Juara 1              : Provinsi Bali

Juara 2              : Provinsi Kalimantan Timur

Juara 3              : Provinsi Jawa Tengah

Juara Harapan 1 : Provinsi Jawa Barat

Juara Harapan 2 : Provinsi Papua

 

Juara 1, 2 dan 3 untuk setiap kategori kegiatan diberikan plakat dan sertifikat untuk juara 1, sedangkan juara 2 dan 3 hanya diberikan sertifikat. Untuk juara umum diberikan sertifikat dan hadiah sebagai berikut :

        Juara 1 umum: 40 gram emas murni dari Ditjen Hortikultura dan Rp 5.000.000,- dari Kementerian Kelautan dan Perikanan

        Juara 2 umum: 30 gram emas murni dari Ditjen Hortikultura dan Rp 3.000.000,- dari Kementerian Kelautan dan Perikanan

        Juara 3 umum: 15 gram emas murni dari Ditjen Hortikultura dan Rp 2.000.000,- dari Kementerian Kelautan dan Perikanan

        Juara Harapan 1                 : uang pembinaan Rp. 1.500.000,- dari Ditjen Hortikultura

        Juara Harapan 2                 : uang pembinaan Rp. 1.000.000,- dari Ditjen Hortikultura

 

  1. Asah Terampil

Para peserta/tim akan dibagi ke dalam 10 kelompok sebagai berikut :

Kelompok 1   : Prov. Aceh, DKI Jakarta, Kalsel, Maluku dan NTT II

Kelompok 2   : Prov. Sumut, Banten, Kalbar, Papua, Lampung II, Gorontalo II dan Jateng II

Kelompok 3   : Prov. Riau, Jabar, Kaltim, NTB II, Sumsel II, dan Sulteng II

Kelompok 4   : Prov. Jateng, Kalteng, Malut II, Bali II dan Sultra II

Kelompok 5   : Prov. Sumbar, Jatim, Sulsel, Kalteng II dan Papua Barat II

Kelompok 6   : Prov. Jambi, DI Yogyakarta, Sulut, Riau II, Jabar II dan Kaltim II

Kelompok 7   : Prov. Sumsel, NTB, Jambi II, DI Yogyakarta II, Sulut II, dan Maluku II

Kelompok 8   : Prov. Bengkulu, Bali, Sultra, DKI Jakarta II dan Sulsel II

Kelompok 9   : Prov. NTT, Sulbar, Sumut II, Banten II dan Kalbar II

Kelompok 10   :         Prov. Lampung, Malut, Gorontalo dan Kalsel II

Sampai batas akhir pendaftaran, peserta yang mengikuti lomba asah terampil sebanyak 54 tim dari 32 propinsi. Propinsi yang tidak mengirimkan peserta pada lomba ini adalah Propinsi Kepulauan Riau dan Bangka Belitung.

Lomba Asah Terampil dilaksanakan dalam 3 (tiga) babak lomba yaitu :

  1. Babak Penyisihan   diikuti 10 kelompok peserta, yang terdiri dari 6 – 7 Tim peserta. Juara I dan II setiap kelompok maju ke Babak Semi Final.
  2. Babak Semi Final terdiri dari peserta yang lolos babak penyisihan yang dibagi dalam 5 kelompok peserta, terdiri dari masing-masing 4 Tim peserta. Juara I maju ke babak final
  3. Babak Final diikuti oleh 5 Tim peserta, untuk dipilih menjadi Juara I, II, dan III serta Harapan I dan Harapan II

Teknis pelaksanaan lomba asah terampil adalah sebagai berikut :

  1. Soal terdiri dari soal benar/salah (BS), soal pilihan ganda (PG), soal rebutan dan soal peragaan/ketrampilan. Kepada setiap Tim akan diberikan masing 5 soal BS dan PG, 5 soal rebutan dan 2 soal peragaan/keterampilan.
  2. Masing-masing jenis soal telah disiapkan di dalam amplop tertutup. Untuk soal BS dan PG (dalam 1 amplop) dipilih oleh perwakilan dari masing-masing Tim/Propinsi, untuk soal rebutan dipilih oleh perwakilan dari Tim yang memiliki nilai paling tinggi dan untuk soal peragaan/keterampilan akan ditentukan langsung oleh Tim Juri
  1. Nilai untuk masing-nasing soal adalah sbb :
  2. Untuk soal BS dan PG, jika benar akan mendapat nilai 5 jika salah 0
  3. Untuk soal rebutan, jika benar diberi nilai 10 jika salah nilai minus 5
  4. Untuk soal peragaan, jika benar diberi nilai 10 jika salah 0

   Jadi bagi setiap Tim yang bisa menjawab seluruh soal dengan benar akan mendapat nilai sempurna , yaitu sebesar 120

  1. Pada setiap sesi lomba, Juri/Pembawa Acara akan menanyakan 5 soal BS kepada satu Tim sampai selesai, baru pertanyaan selanjutnya diberikan kepada Tim berikutnya. Setelah semua Tim mendapat soal BS baru dilanjutkan dengan soal PG. Untuk soal rebutan dan peragaan/keterampilan diberikan langsung kepada semua Tim.
  2. Khusus untuk soal rebutan, pembawa acara akan membacakan soal sampai selesai. Jika ada peserta yang menekan bel sebelum soal selesai, pembacaan soal dihentikan dan peserta diminta langsung menjawab soal tersebut. Jika jawaban salah (peserta tersebut tidak diperkenankan ikut lagi pada soal tersebut), pembacaan soal dilanjutkan dan diberikan kepada peserta lainnya.
  3. Pada soal-soal peragaan setiap Tim diberi batas waktu 30 detik untuk menjawabnya, bagi Tim yang terlambat menyampaikan jawaban tidak akan diberi nilai.
  4. Pemenang pada masing-masing sesi sejak babak penyisihan – final adalah yang mendapat nilai tertinggi. Bila terjadi nilai yang sama, maka akan diberikan pertanyaan tambahan berupa soal rebutan. Pemenang lomba asah terampil pada babak final adalah Juara I, II dan III serta Juara Harapan I dan Harapan II

Juri lomba asah terampil terdiri dari 5 instansi yaitu :

  1. Zenaida Soemedi,SE (Direktorat Jenderal tanaman pangan)
  2. Ir. Muning Ekowati, MSi dan Dra Novianti (Direktorat Jenderal Hortikultura)
  3. Drh. Herwinarni (Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan hewan)
  4. Ir Arifah Sri Hananingsih (Direktorat Jenderal Perkebunan)
  5. Ahmad Sobari, S.St.Pi (Kementerian Kelautan dan Perikanan)

Adapun pemenang Lomba Asah Terampil adalah sebagai berikut :

  1. Juara 1 umum      : Propinsi Bali
  2. Juara 2 umum      : Propinsi Banten
  3. Juara 3 umum      : Propinsi DKI Jakarta
  4. Juara Harapan 1   :Propinsi Kalimantan Tengah
  5. Juara Harapan 2   : Propinsi Gorontalo

Pemenang Lomba asah terampil masing – masing mendapatkan plakat, sertifikat dan hadiah sebagai berikut :

  1. Juara 1 umum      : 40 gram emas murni + Rp. 5.000.000’- dari KKP
  2. Juara 2 umum      : 30 gram emas murni + Rp. 3.000.000’- dari KKP
  3. Juara 3 umum      : 15 gram emas murni + Rp. 2.000.000’- dari KKP
  4. Juara Harapan 1   : Uang pembinaan Rp. 1.500.000,-
  5. Juara Harapan 2   : Uang pembinaan Rp. 1.000.000,-Po
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s