Mengelola Usaha Perikanan skala Kecil yang menguntungkan ( Bagian Pertama)


animals_bluefin-tuna.317142832_largeUsaha perikanan tergolong usaha yang membutuhkan banyak modal, ada bisa membayangkan untuk budidaya ikan lele dengan jumlah 1000 ekor membutuhkan modal sekitar 1 juta rupiah. Besarnya modal yang dikeluarkan untuk usaha perikanan (khususnya) pada segmentasi usaha pembesaran telah mendorong pelaku utama perikanan mengembangkan pola produksi yang lebih efisien walaupun skala usaha tergolong usaha kecil. Program Pengembangan Usaha Mina Pedesaan (Program PUMP) telah mendorong bermunculan pengusaha pemula yang bergerak antara lain dibidang budidaya perikanan. Tumbuhnya usaha perikanan disatu sisi merupakan sebuah keberhasilan yang patut disyukuri dan kita berikan apresiasi kepada pada pendamping program, para penyuluh perikanan dan stakeholder yang terlibat program, akan tetapi ada beberapa hal yang justru menjadi “PR”bagi para petugas lapangan. Pekerjaan yang belum selesai dan coba akan kita diskusikan adalah seputar bagaimana pengusaha (pelaku utama Red) menjalankan usaha secara efisien sesuai dengan skala usaha. Bagian pertama yang menjadi focus pembicaraan kita adalah yang terkait dengan sakala usaha dan kapasitas produksi. Selama ini pendampingan kelembagaan pelaku utama sudah banyak mengasilkan kelompok-kelompok pembudidaya (serta sector lain) yang berhasil dalam mengembangkan ruh organisasi dan gairah dalam menjalankan usaha akan tetapi kita juga perlu lebih spesifik memberikan jalan dan solusi terhadap permasalahan pelaku utama yang sebenarnya solusi tersebut juga ada dalam diri pelaku utama. Kembali kepada bagian pertama pembicaraan tema ini, dalam proses pendampingan mari kita ajak pelaku utama untuk memahami betapa usaha itu “sulit dan penuh pengorbanan tapi bukan berarti tidak bisa sukses dan berhasil” mindset ini harus dibangun agar palaku utama bisa menyelami bagian demi bagian dari rangkaian usahanya. Secara bertahap pelaku utama juga harus diajarkan bagaiman usaha yang dikelola harus secara jelas memiliki sekala usaha khususnya dalam 2 hal yakni: kapasitas produksi dan pola produksi yang terukur.

Pengukuran kapasitas produksi akan menjadi ukuran dalam mengembangkan pasar dan melayani konsumen secara pasti dan terukur. Konsekuensi persaingan pasar yang semakin ketat mendorong setiap produsen untuk dapat menghitung dan merencanakan produksi secara matang, mengontrol distribusi sesuai dengan jadwal dan memahami tipikal konsumen secara keseluruhan. Sebagai penyuluh perikanan yang memiliki pekerjaan sangat menantang dalam meningkatkan pendapatan utama, sepertinya tidak berlebihan apabila pelaku utama dalam kelompok didorong untuk bekerja by jobdesk, by skedul, by target. Pelaku utama harus mulai disiplin dalam berusaha demi memenangkan persaingan. Pengukuran kapasitas produksi dan pola produksi yang terukur secara nyata dapat digunakan untuk merencanakan suplai produksi secara teratur sesuai dengan kemampuan kelompok. Kita sangat berharap kelompok sudah mulai mampu menjawab apabila ada pengusaha horeka (hotel, rumah makan dan catering) kapasitas produksi per minggu atau per bulan sehingga buyer akan yakin dengan kemampuan manajemen kelompok.

Untuk menyelamatkan pengusaha pemula penerima program kita tidak bisa melepaskan mereka dari pasar. Penjualan hasil produksi bagi pengusaha pemula merupakan hal yang ditunggu-tunggu sekaligus mencemaskan, mengapa? karena saat panen inilah akan diketahui apakah usaha itu menguntungkan atau sebaliknya, sekaligus berapa hitung-hitunganya. Bagi pengusaha pemula yang merugi akan muncul 2 opsi umum yang mereka akan ambil antara melanjutkan usaha atau stop dan kembali pada usaha sebelumnya. Bagi pengusaha pemula yang untuk saya yakin anda jawabannya tahu sendiri mereka akan melanjutkan usahanya bahkan tidak menutup kemungkinan langsung mengembangkan sekala usaha menjadi lebih besar. Kunci dari ini semua adalah secara teknis pembudidaya secara bertahap harus sudah mengembangkan budidaya yang efisien serta mampu menjual produk dengan harga terbaik.

Budidaya ikan yang umum dikerjalan oleh para pembudiaya pemula antara lain budidaya ikan lele. Ikan berkumis ini tergolong mudah dibudidayakan bahkan bisa dikembangkan pada budidaya dilahan sempit dan hemat air. Pada pengusaha pemula bisa dipastikan pengelolaan produksi yang umum dan hanya menggunakan pakan dan komponene lain yang standard, padahal kalau saja pembudidaya mampu mengelola produksi dengan PCR 1,3 : 1 akan berat rasanya untuk mencicipi keuntungan. Untuk permasalahan penyuluh harus mulai kretaif untuk menemukan dan sharing informasi seputar pakan lele anternatif yang tersedia ditingkat local dengan harga terjangkau, lebih baik kalau ketersdiaanya sepanjang musim. Pembudidaya juga mulai dikenalkan dengan budidaya hemat air dan penggunaan prbiotik atau bakteri pengontrol lingkungan. Alternative pakan yang disarankan kepada pembudidaya anatar lain: azzola, magot, apas tahu, osis bs yang difermentasi, bungkil kacang, ddl. (bersambung)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s