Pengelolaan Kesehatan Ikan Hias


I. PENCEGAHAN

A.    Mengatur Kepadatan Ikan

Padat tebar yang tinggi sering berakibat buruk pada kesehatan ikan hias. Untuk itu kepadatan ikan hias dalam suatu wadah pemeliharaan hendaknya diatur agar ikan hias tidak mudah terkena penyakit. Dengan demikian ikan hias dapat bertahan hidup lebih lama. Ukuran luas wadah pemeliharaan (akuarium/bak tembok) yang digunakan tidak ada patokan khusus. Akan tetapi hal penting yang hendaknya diperhatikan adalah volume air yang tertampung di dalam wadah pemeliharaan.

B.     Pemberian Pakan Harus Tepat

Pemberian pakan yang tidak dilakukan dengan tepat baik jumlah, mutu dan waktu dapat mengundang timbulnya penyakit. Untuk itu teknik pemberian pakan yang baik dan benar hendaknya harus betul-betul dipahami. Hal ini penting guna menunjang keberhasilan budi daya ikan hias. Teknik pemberian pakan yang baik dan benar idealnya meliputi ; tepat jumlah, tepat mutu, tepat waktu dan tepat ukuran.

Tepat Jumlah

Tepat jumlah artinya makanan yang diberikan tidak berlebihan dan tidak kurang., Pemberian pakan yang berlebihan akan mengakibatkan tersisanya pakan yang kemudian tenggelam dan busuk. Makanan yang membusuk akan mengakibatkan turunnya kualitas air. Sementara, bila pemberian pakan terlalu sedikit akan berdampak buruk bagi ikan. Ikan yang kekurangan makanan akan berubah agresif dan suka menyerang ikan lain. Selain itu, ikan yang menderita kekurangan makan maka pertumbuhannya akan terhambat.

Tepat Mutu

Tujuan pemberian pakan pada ikan hias adalah untuk mempertahankan hidup dan untuk pertumbuhan. Jika pemberian pakan hanya untuk mempertahankan hidup, kandungan gizi makanan dapat diabaikan. Sebalikya jika pemberian pakan adalah untuk pertumbuhan, maka jumlah dan kandungan nutrisinya harus tercukupi.

Ikan hias akan tumbuh dengan baik bila kandungan protein hewani yang diberikan sesuai dengan kebutuhannya. Kebutuhan protein pada ikan tergolong tinggi melebihi kebutuhan protein pada burung dan mamalia. Pakan atau ransum yang diberikan kepada ikan hias dengan kadar potein lebih dari 40% akan dapat memacu pertumuhan ikan hias.

Tepat Waktu

Waktu pemberian pakan hendaknya diperhatikan untuk tiap jenis ikan hias. Ada ikan hias yang bisa makan setiap saat, tapi ada jenis ikan hias terutama dari jenis ikan yang bersifat banyak melakukan aktifitasnya pada waktu malam (nocturnal) maka ikan tersebut hanya bisa makan pada waktu malam hari. Oleh karena itu porsi pakan terbanyak bagi ikan tersebut hendaknya diberikan pada waktu malam atau sore hari. Ikan-ikan bersifat demikian misalnya beberapa ikan hias yang tergolong pada jenis lele-lelean dan jenis sidat.

Tepat Ukuran

Ikan hias akan memakan pakan yang ukurannya sesuai dengan bukaan mulutnya. Dengan begitu, pemberian pakan pada ikan hias baik pakan buatan atau pun pakan alami hendaknya disesuaikan dengan ukuran bukaan mulut ikan hias. Misal, pada ikan koki sebaikya diberikan pakan buatan berupa pellet dengan diameter lebih kecil dari 3 mm. Sebab, ukuran bukaan mulut ikan koki berdiameter 3 mm. Pada ikan arwana pakan yang diberikan biasanya berupa mahluk hidup seperti jangkrik atau ikan-ikan kecil. Untuk itu., pakan yang diberikan hendaknya sesuai dengan selera dan ukuran bukaan mulut ikan arwana.

C. Sanitasi Media Pemeliharaan dan Peralatan

Sanitasi Wadah Pemeliharaan

Sanitasi wadah pemeliharaan dilakukan guna menunjang kondisi lingkungan yang ideal bagi kelangsungan hidup ikan hias. Karena, kualitas air yang baik tak lepas dari kondisi wadah pemeliharaan yang bersih dan terawat. Dengan lingkungan yang kondusif, ikan akan lebih betah tinggal di dalamnya.

Akuarium

Bila pemeliharaan ikan hias dilakukan dalam akuarium, maka untuk membersihkan dasar akuarium bisa dilakukan dengan cara menyifon kotoran tersebut tiap pagi dan sore. Penyifonan dilakukan untuk mengeluarkan kotoran hasil metabolisme ikan dan sisa-sisa pakan pellet yang mengendap pada dasar akuarium. Setelah dibersihkan, akuarium sebaiknya didesinfeksi. Desinfeksi dilakukan dengan merendam akuarium pada larutan potassium permanganat selama 12 jam. Tujuannya adalah untuk membunuh bibit penyakit yang masih tertinggal pada akuarium. Dosis potassium permanganat yang digunakan sebaiknya 20 – 40 mg/liter air. Selanjutnya akuarium dibilas dengan air bersih dan akuarium sudah dapat digunakan.

Kolam/Bak

Membersihkan kolam atau bak bisa dilakukan jika kolam sudah tampak ditumbuhi lumut, air terlihat keruh serta terdapat endapan lumpur di dasar perairan. Kolam yang akan dibersihkan dikuras airnya terlebih dulu dan sebaiknya dilakukan secara berkala. Untuk membersihkan lumut, dasar dan dinding kolam disikat hingga bersih. Lumut dibersihkan agar tidak menjadi sarang bagi patogen maupun jasad renik yang sering menjadi sumber penyakit ikan. Setelah itu kolam didisinfeksi dengan merendam kolam menggunakan kapur selama 1 – 2 hari. Kapur digunakan untuk membunuh bibit penyakit yang masih tersisa, terutama jika kondisi kolam sudah banyak terdapat endapan lumpur. Dosis kapur yang digunakan 120 – 150 gr/m2. Selesai perendaman, larutan kapur dibuang dan kolam dibilas dengan air bersih. Kemudian dilanjutkan dengan perendaman kembali menggunakan air bersih 1 – 2 hari untuk menghilangkan efek kapurnya.

Konstruksi bak atau kolam juga harus betul-betul diperhatikan. Letak saluran pemasukan dan pengeluaran harus diatur menurut kaidah yang benar. Saluran pemasukan hendaknya terletak tidak sejajar dengan saluran pengeluaran air sehingga air tidak langsung terbuang. Masalah kemiringan kolam juga harus diatur sedemikian rupa sehingga tidak memungkinkan tertimbunnya kotoran ataupun endapan di seluruh dasar bak/kolam. Kemiringan dasar kolam biasanya diatur sebesar 15o . Dengan kemiringan demikian maka kotoran akan tertimbun pada dasar terendah dan akan terbuang langsung melalui saluran pembuangan.

C.   Sterilisasi Peralatan

Sterilisasi peralatan dilakukan untuk mencegah terjadinya penularan penyakit akibat peralatan yang terinfeksi kuman penyakit. Peralatan seperti aerator, sifon, slang air dan serokan sebelum digunakan terlebih dahulu direndam dalam larutan potassium permanganat selama lebih kurang 12 jam. Dosis yang digunakan 20 – 40 mg/liter. Selanjutnya peralatan tersebut dibilas dengan air bersih baru kemudian dapat digunakan. Jenis desinfektan lain yang disarankan adalah lysol. Cara penggunaannya kurang lebih sama dengan potassium permanganat. Hanya, dosis yang digunakan sebanyak 250 mg/liter dengan lama perendaman 30 detik. Namun, lama perendaman dengan lysol bisa lebih singkat, 5 – 15 detik dengan dosis 2 cc/liter.

D.    Mengganti Air

Agar kualitas air dapat terjaga, penggantian air sebaiknya dilakukan secara kontinyu. Mengganti air secara total sebaiknya tidak dilakukan, mengingat kondisi air baru belum tentu memenuhi paramater kualitas air yang ideal bagi ikan hias. Dengan keadaan air yang baru, ikan harus beradaptasi lagi dengan lingkungannya. Untuk itu, penggantian air dapat dilakukan dengan teknik sedot tambah. Cara ini cukup efektif untuk menghindari ikan stress.

Penggantian air secara berkala dapat dilakukan 2 – 5 hari sekali setiap pagi atau sore hari. Waktu penggantian air ini jangan dilaksanakan pada keadaan suhu udara terlalu panas atau terlalu dingin. Suhu udara yang terlalu panas atau terlalu dingin akan menyebabkan ikan stress dan menderita.

E.   Merangsang Timbulnya Kekebalan Tubuh

Cara pencegahan terhadap infeksi penyakit pada ikan hias dapat juga dilakukan dengan cara merangsang timbulnya kekebalan tubuh.

Pada ikan hias koki (Carrasius auratus) misalnya sistem perkembangan kekebalan tubuhnya lebih maju apabila dibandingkan dengan ikan hias lainnya. Sehingga respon kebal dari ikan jenis ini akan lebih tinggi apabila dibandingkan dengan ikan hias lainnya.

Vaksin dan Imunostimulan

Cara aplikasi atau imunostimulan

Pemberian vaksin atau imunostimulan biasanya diberikan dengan dua tahapan yaitu sebagai vaksin awal (priming) dan vasin ulang (booster). Aplikasi atau cara pemberian baik vaksin maupun immunostimulan dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu:

Melalui perendaman, yaitu ikan direndamkan dalam larutan vaksin atau imunostimulan dengan konsentrasi tertentu untuk lama perendaman tertentu pula.

  • Melalui pakan, yaitu dengan jalan mencampur vaksin atau imunostimulan dengan jumlah tertentu pada pakan ikan. Untuk supaya bahan tersebut tidak larut waktu diberikan kepada ikan maka biasanya diberikan material pengikat. Misalnya bila vaksin tersebut telah dicampur dengan pakan ikan maka kemudian pakan tersebut dilapisi dengan minyak atau putih telur.
  • Cara yang lain aplikasi pemberian vaksin adalah melalui suntikan.

Astaxanhtine

Astaxanthine adalah bahan organic termasuk dalam golongan xanthophil pigmen berwarna merah kekuningan-kuningan secara umum dikenal dengan beta carotene.

Sumber astaxanthine: bisa ditemukan pada microalgae termasuk Haematococcus pulvialis. Astaxanthin juga ditemukan pada beberapa jenis yeast termasuk Xanthophyllomyces dendrorhous juga ditemukan pada udang-udangan, lobster,dan salmon.

Study pada beberapa binatang diketahui bahwa Astaxanthine memiliki fungsi memicu timbulnya antibody. Astaxanthine mempengaruhi T- sel dan T – helper dan memacu dalam peningkatan immunoglobulin. Fungsi lain dari astaxanthine adalah sebagai anti kangker.

Karantina Ikan.

Salah satu cara pencegahan penyakit ikan yang efisien adalah melalui tindak karantina. Tindak karantina dimaksudkan melaksanakan proses isolasi baik pada ikan yang akan dikirim maupun ikan yang baru didatangkan pada suatu tempat yang khusus dan terisolir. Tindak karantina ikan ini juga dimaksudkan untuk membatasi penyebaran penyakit, yaitu membatasi penyebaran atau lalu-lintas ikan hidup dari suatu tempat yang terinfeksi suatu penyakit ke daerah/tempat lain. Selama dilaksanakan proses karantina harus dilakukan pengamatan terhadap ada atau tidaknya gejala-gejala infeksi suatu penyakit yang timbul , baik terhadap kelainan tubuh maupun terhadap kelainan perilaku. Lama waktu karantina biasanya berkisar antara 1-2 minggu. Tindak karantina ini sangat diperlukan terutama bagi beberapa penyakit yang susah diobati.

 

 PENGOBATAN

 

Cara pengobatan

  • Oles : dengan mengoleskan obat secara langsung pada tempat luka
  • Perendaman : ikan direndam dalam larutan obat
  • Melalui pakan: obat dengan konsentrasi yang tepat dicampurkan dengan pakan
  • Suntikan

Penyakit bintik putih (White Spot)

Penyebabnya adalah Ichthyophthirius multifiliis. Penyakit ini sering disebut ich atau white spot, yakni sejenis binatang renik bersel satu. Kasus infeksinya lebih sering pada kondisi ikan dengan kepadatan tinggi dengan suhu air rendah (dibawah 25°C).

Pengobatan :

Perendaman dalam larutan garam dapur pada dosis 20.000 – 25.000 ppm selama 15-30 menit diulang beberapa hari bila perlu. Perendaman dalam larutan Acriflavin pada dosis 5-10 ppm selama 12 jam diulang beberapa kali bila perlu. Perendaman larutan Kupri Sulfat (CuSO4) pada dosis 0,5-1,0 ppm selama 24 jam atau lebih.

Penyakit Trichodiniasis

Organisme penyebab penyakitnya adalah Trichodina sp. Parasit ini banyak terjadi pada ikan ukuran benih, terutama apabila ikan berada dalam keadaan stress yang diakibatkan antara lain oleh kepadatan terlalu tinggi penanganan yang kurang sempurna, pemberian pakan yang kurang tepat baik mutu maupun jumlahnya. Terutama pada keadaan suhu air turun dari suhu optimum yang diperlukan oleh tiap jenis ikan hias.

Pengobatan:

Untuk pengobatan dapat dilakukan dengan cara perendaman Acriflavin dengan dosis 3 mg/l air selama 15 sampai 30 menit yang dilakukan dalam bak atau wadah penampung.

Penyakit “Gembil” (Myxoboliasis).

Jasad penyebab pebyakitnya adalah Myxobolus koi. Parasit ini biasanya menginfeksi ikan jenis koi dan ikan mas koki. Biasanya parasit ini merupakan bawaan dari kolam pendederan yang telah terinfeksi. Infeksinya banyak terjadi pada ikan ukuran kecil

Untuk menghindari infeksi parasit jenis ini, dapat dilakukan dengan menerapkan pengelolaan kesehatan ikan secara baik dan benar. Pengelolaan tersebut antara lain meliputi persiapan dan pengapuran kolam dengan kapur tohor (CaO) pada dosis 50 – 200 g/m2. Hindari penggunaan air dari kolam yang sedang terinfeksi parasit ini.

Pleistophorosis

Penyakit tersebut dapat menginfeksi ikan air tawar maupun ikan laut. Parasit yang sering terdapat terutama menginfeksi ikan dari jenis neon tetra. Penyebab penyakitnya adalah Pleistophora hypessobryconis. Parasit tersebut melakukan penetrasi serta menempatkan diri pada daging tubuh ikan. Pada tempat infeksinya, lambat laun akan timbul luka. Pola kematiannya biasanya bertahap mulai dari jumlah sedikit hingga akhirnya terus meningkat.

Penanggulangan

Ikan yang terinfeksi hendaknya segera diambil dari bak untuk kemudian dikubur atau dibakar. Upayakan untuk tidak membuang ikan yang terinfeksi secara sembarangan.Penyakit cacing (Helminthiasis)

Cacing tersebut berupa cacing kecil dari golongan Monogenea. Ukurannya sangat kecil, sehingga untuk dapat mengamatinya harus menggunakan mikroskop. Tempat infeksinya biasanya terdapat baik pada insang, kulit serta sirip ikan. Parasit yang menginfeksi insang ikan ini disebabkan oleh Dactylogyrus sp. Sementara parasit yang menginfeksi sirip dan kulit ikan disebabkan oleh Gyrodactylus spp. Sedangkan Quadriacanthus sp. adalah parasit yang khusus pada ikan hias jenis lele-lelean (Cat fish). Parasit ini tempat infeksinya pada bagian insang ikan.

Pengobatan dapat dilakukan dengan perendaman ikan dalam larutan formalin pada dosis 250 ppm selama 60 menit atau pada dosis 25 – 40 ppm selama 24 jam.

Penyakit Paser/ anak panah (Lernaeosis)

Penyakit ini disebut paser (anak panah) karena bentuk parasit ini sewaktu menginfeksi ikan menyerupai anak panah yang menancap pada tubuh ikan. Jasad penyebab penyakitnya adalah Lernaea cyprinaceae. Ikan yang terinfeksi biasanya dari golongan guppy, jenis-jenis koi dan koki. Bagian tubuh ikan yang biasanya terinfeksi adalah bagian tubuh, tutup insang dan pangkal sirip.

Pengobatan dapat dilakukan dengan perendaman dalam wadah penampung dengan Fenthion 0.25 mg/l air selama 24 jam atau insektisida yang peredarannya tidak dilarang. Bisa juga dengan penggunaan Formalin pada dosis 25 ppm dengan lama perendaman selama 12-24 jam.

Penyakit “kutu ikan” (Argulosis)

Parasit ini terkenal dengan nama penyakit kutu ikan (fish lice), karena menempel seperti kutu pada kulit, tubuh, sirip atau pada cornea mata. Ukuran parasit ini cukup besar sehingga dapat diamati dengan mata telanjang. Parasit ini tidak bisa hidup lama diluar tubuh inang. Pergerakannya sangat cepat karena didukung oleh alat pergerakan yang berbenduk seperti dayung.

Selain sebagai parasit, Argulus juga dapat menjadi penyebab timbulnya infeksi kedua. Yakni dari bekas gigitannya bisa mengakibatkan infeksi lain (infeksi sekunder/kedua) antara lain oleh bakteri, jamur maupun virus.

Pengobatan dapat dilakukan dengan merendam ikan yang terinfeksi dalam suatu wadah penampung dengan larutan garam dapur 1.25% selama 10-15 menit. Ammonium Chlorida (NH4Cl) pada dosis 1.5% dengan lama waktu perendaman 10-15 menit. Tindakan ini bertujuan hanya untuk merontokkan parasit dari tubuh inang yang terinfeksi.

Penyakit akibat infeksi Jamur

Penyakit akibat infeksi jamur dicirikan dengan adanya benang-benang halus menyerupai kapas yang menempel pada tubuh yang terluka.

Pengobatan dapat dilakukan dengan perendaman ikam dalam larutan Pottasium Permanganas (PK) pada dosis 1 gram/100 liter air selama 90 menit; Formalin 100 – 200 ml/m3 air selama 1 – 3 jam atau garam dapur 10.000 mg/l selama 20 menit atau Methylene blue 10 -20 mg/l selama 24 jam.

 

Penyakit akibat infeksi bakteri

1. Penyakit rontok insang dan ekor

Dicirikan dengan rusaknya insang dan ekor.

Pengobatan dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa antibiotika,

antara lain Oxytetracyclin hydrochlorid 5‑10 mg/l air dengan cara

perendaman selama 24 jam. Enrofloxacin (Baytril) juga dapat dipakai

dengan dosis 8‑10 ml/m3 air dengan cara perendaman ikan selama 24 jam,

dan dilakukan dalam wadah penampung.

2. Penyakit merah

Bakteri Aeromonas hydrophila dan Pseudomonas sp. merupakan bakteri

yang sering menginfeksi ikan hias air tawar

Pengobatan dengan melalui suntikan (untuk ikan induk yang ukurannya besar)dilakukan dengan menggunakan Oxytetracyclin HCl 25‑30 mg/kg ikan, yang diberikan sebanyak 3 kali, dilaksanakan tiap tiga hari sekali. Pemberian antibiotika dengan melalui pakan yaitu menggunakan obat yang sama dengan dosis 50 mg/kg ikan, diberikan selama 7‑10 hari berturut‑turut. Perendaman dapat juga dilakukan dengan Oxytetracyclin HCl dengan dosis 5‑10 mg/l air selama 24 jam, atau dengan menggunakan Enrofloxacin (Baytril) dosis 8‑10 ml/m3 air selama 24 jam.

Sumber: Ir. Hambali Supriyadi, M.Si (Pakar Hama Penyakit Ikan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s