Belajar dari Mereka yang Berhasil


atlantic_bluefin_tuna_thunnus_thynnus__alexandre_dulaunoyGajah mati meninggalkan gading, macam mati meninggalkan belang, pengusaha mati? Mestinya meninggalkan nama besar dan sukses bisnis. Nah, berbeda dengan belajar di sekolah umumnya, mencontek itu dilarang dan ada hukuman bagi pelakunya. Tapi dalam sekolah menjadi pengusaha, mencontek bisnis orang lain boleh-boleh saja, tak jarang ide bisnis baru muncul dan improvisasi dari bisnis lain yang lebih dulu ada. Jadi, menjadi pengusaha dengan mencontek bisnis orang lain itu sah-sah saja!. Pada bagian ini ada beberapa sosok pengusaha atau model bisnis atau juga trik pemasaran yang menarik untuk dipertimbangkan sebagai bahan contekan dan mungkin bisa menginpirasi anda menciptakan bisnis baru yang cerdas dan lebih menarik dari yang sudah ada sebelumnya. Misalnya, gaya Tensia, dimana lewat perusahaan Tensia ide produk bisnis cemerlang, jangan berhenti tak bisa produksi karena belum punya pabriknya, kita bisa minta si Tensi membuatkan atas nama perusahaan kita. Akhirnya, ibarat tukang jahit, Tensia bisa membuat beragam kaos atau kemeja dengan banyak desain dari berbagai merek. Ini sekaligus menginpirasi saya, kalau kita bisa membuat bisnis dengan gaya BOPOL alias modal Berani Optimis Pabrik Orang Lain!

Bisa pula kita belajar pengalaman Hotel Marcopolo di Jakarta dalam membangun citra positifnya buat para konsumen dari hal hal sepele: seluruh karyawan di semua lini dilarang menerima tip dari tamu. Gahkan saya pernah member bellboy, sekedar bakpia oleh-oleh makanan khas Yogja, pun ditolak dengan halus. Bayangkan, tak hanya No Tipping tapi juga No Bakpia! Pelayanan yang bagus dan sikap bersih para karyawannya membuat citra Hotel Marcopolo di terima positif oleh para tamu, akibatnya, tingkat hunian hotel berbintang ini stabil , rata-rata 90%!

Memang tak semua pengusaha itu ingin bisnisnya besar dan banyak cabang. Pak Widadi (65) pemilik warung soto Kadipiro, salah satu ikon kuliner yang wajib dicicipi kalau Anda bertandang ke Yogya, malah menulis besar-besar di warung sotonya “Tidak buka cabang di Jakarta atau Kota lainnya”. Ini sosok pengusaha yang nrimo, tak heran karena dia punya filosofi hidup, “Kamulyaning urip iku, dumunung ono tentreming ati.”

Sumber: Dirangkum dari berbagai sumber

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s