Monitoring Hutan Mangrove


Screenshot_45Hutan mangrove merupakan hutan tumbuhan tingkat tinggi yang beradaptasi dengan sangat baik di wilayah intertidal maupun pada wilayah dengan tinggi permukaan pasangsurut rata-rata sampai pada wilayah dengan pasang tertinggi (Alongi, 2009). Komunitas tumbuhan mangrove tumbuh baik pada wilayah tropis dan mampu beradaptasi pada kondisi lingkungan yang ekstrem, seperti: suhu tinggi, salinitas tinggi, pasang surut ekstrem, sedimentasi tinggi, serta kondisi substrat tumbuh yang miskin oksigen dan atau tanpa oksigen.

Indonesia memiliki luas mangrove yang paling tinggi, yaitu 3,112,989 ha atau 22.6% total luas mangrove dunia bahkan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Australia (7.1%) dan Brazil (7.0%) (Giri et al., 2011). Namun sangat disayangkan yang lebih dari 30% luasan mangrove di Indonesia telah hilang dalam kurun waktu tahun 1980 – 2005 (FAO, 2007). Degradasi hutan mangrove di Indonesia disebabkan oleh berbagai faktor, yaitu: alihfungsi hutan mangrove menjadi berbagai kegiatan pembangunan, antara lain sebagai daerah pertumbuhan pemukiman, bangunan dermaga dan talud; sebagai areal pertanian dan perkebunan; serta untuk kegiatan eksplorasi minyak dan gas bumi. Myers & Patz (2009) menyatakan kebutuhan dan ketergantungan akan sumber daya alam di kawasan pesisir yang semakin tinggi menjadi tekanan untuk kelestarian ekosistem pesisir.

Penurunan kualitas dan kuantitas hutan mangrove dapat mempengaruhi kehidupan ekonomi masyarakat pesisir, seperti penurunan hasil tangkapan ikan dan berkurangnya pendapatan nelayan (Mumby et al., 2004). Selain itu,  juga dapat merusak keseimbangan ekosistem dan habitat serta kepunahan spesies ikan, dan biota laut yang hidup di dalamnya, serta abrasi pantai (Polidoro et al., 2010). Degradasi mangrove diperparah dengan tidak tegasnya penegakan hukum di Indonesia (Kathiresan & Bingham, 2001). 1BAB PENDAHULUAN

2 Panduan Monitoring Status Ekosistem Mangrove

Kondisi kesehatan ekosistem mangrove secara keseluruhan, dapat mempengaruhi kondisi dua ekosistem lainnya di kawasan pesisir, yaitu lamun dan terumbu karang. Secara fi sik, sistem perakaran mangrove yang khas memberikan perlindungan bagi lamun dan terumbu karang dari bahaya sedimentasi. Akar mangrove berfungsi menyaring materimateri berukuran besar yang terbawa oleh aliran sungai dan masuk ke laut. Upaya ini mencegah perairan menjadi keruh sehingga tidak terjadi penumpukan dan penimbunan pada permukaan lamun dan karang. Secara ekologi, hutan mangrove merupakan sebuah habitat bagi pertumbuhan biota-biota karang pada fase tertentu kehidupannya. Pada saat ekosistem mangrove terjaga, maka semakin banyak pilihan bagi masyarakat pesisir dalam memenuhi kebutuhan ekonomi pada suatu area. Namun ketika mangrove sudah rusak, maka tekanan antropogenik akan semakin tinggi dirasakan oleh ekosistem terumbu karang. Untuk itu, diperlukan sebuah upaya pengelolaan yang mencakup didalamnya usaha pemantauan ekologi terhadap kondisi komunitas mangrove di suatu kawasan.

Metode fotografi  sudah banyak digunakan untuk penelitian ekologi kawasan khususnya kehutanan (Jenning et al., 1999; Rich, 1990; Ishida, 2004; Korhonen et al., 2006; Schwalbe et al., 2009; Cristin et al., 2014; Nolke et al., 2014; Chianucci et al., 2014). Namun demikian penelitian yang menggunakan teknik fotografi  belum banyak dikembangkan dan digunakan untuk melakukan pendekatan ekologi pada penentuan kondisi kesehatan komunitas mangrove. Keuntungan dari penggunaan metode fotografi  adalah hasil penelitian yang diperoleh bersifat lebih akurat, memiliki bukti yang lebih kuat dan bisa dilakukan analisis untuk penelitian lainnya. Oleh karena itu, pendekatan fotografi  dan analisisnya dapat digunakan dengan baik mengukur status degradasi dan kesehatan hutan mangrove di suatu kawasan.

TUJUAN PEMANTAUAN Kegiatan pemantauan atau yang lebih dikenal dengan istilah monitoring, merupakan kegiatan pengamatan/pengukuran yang dilakukan dalam rentang waktu tertentu secara berkelanjutan untuk mengetahui perkembangan dan perubahan dari objek yang diamati dari waktu ke waktu. Pada komunitas mangrove, pemantauan bertujuan untuk menghitung persentase tutupan mangrove, dan kemudian menentukan status kondisi hutan mangrove di suatu wilayah kajian.

SASARAN Target yang ingin dicapai dari penulisan buku ini adalah agar masyarakat lokal mampu melakukan kegiatan pengamatan dan pemantauan secara mandiri mulai dari persiapan lapangan, pengambilan data, analisis data sampai penyusunan laporan. Selain itu, metode yang disusun untuk kegiatan pemantauan mangrove ini diharapkan juga dapat dimanfaatkan oleh peneliti, akademisi, LSM dan berbagai pemangku kepentingan lainnya di bidang mangrove.

Sumber: I Wayan Eka Dharmawan & Pramudji, Monitoring Hutan Mangrove, CTI 2014

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s