Berharap pada Kelembagaan Pelaku Utama


Berbicara tentang kelembagaan pelaku utama (kelompok), sebagian orang terkadang langsung alergi dan memberikan penilaian yang secara sepihak terkesan negatif. Pendapat ini harus dinilai secara proporsional dari beberapa sudut pandang, yang pada akhirnya dapat diambil kesimpulan akhir yang sesuai dengan kondisi sebenarnya. Kita harus jujur mengatakan bahwa disinyalir memang ada kesalahan yang cukup mendasar dalam upaya mengembangkan kelompok, dalam membingkai pola pikir dan pola tindak kelembangan yang dibangun. Kelompok yang seharusnya menjadi kebanggaan masyarakat sudah mulai pudar padahal hal ini tidak terjadi dimasa lalu. Pertanyaanya apakah prosesnya yang keliru atau lingkungan sosial nya yang sudah berubah?. Mari kita bahas dari sisi yang paling bisa dikontrol oleh penyuluh secara langsung, dan faktor ini yang akan mudah diukur oleh pemerintah.IMG-20151117-WA0021

Penguatan kelembagaan penyuluhan dalam bentuk kelembagaan masyarakat sesuai dengan Undang-Undang 16 Tahun 2006 Tentang SP3K jelas mengamanatkan agar pemerintah mengembangkan kelembagaan kelembagaan pelaku utama sebagai sasaran antara penyuluhan. Kelembagaan pelaku utama dan pelaku usaha akan mendorong terjadinya proses penyuluhan yang lebih efisien dan efektif kondisi ini cocok dengan kendala keterbatasan penyuluh perikanan yang menjadi masalah krusial dalam ketenagaan penyuluh.  Kelembagaan pelaku utama (kelompok) menjadi “sekolah” bagi pelaku utama serta menjadi bahan evaluasi bagai penyuluh. Sekolah setiap tahun akan mengadakan evaluasi apakah pembelajaran yang diterima pelaku utama sudah diterima dengan baik atau sebaliknya, analogi ini juga berkalu untuk menilai kelompok pelaku utama.

Penilain kelompok pelaku utama yang dilaksanakan setahun sekali bagi sebagaian penyuluh dianggap sebagai program yang terlalu dipaksanakan dan hanya doktrin pemerintah untuk menyelenggarakan, padahal kegiatan penilaian kelas kelompok merupakan kegiatan untuk mengukur unsur-unsur pembinaan yang selama ini dilaksanakan oleh penyuluh. Mekanisme ini akan membantu dan memandu penyuluh dalam memberikan penekanan pada aspek-aspek kelembagaan. Kalau saja dari hasil penilaian kenaikan kelas kelompok ditemuai ada kelompok yang belum saatnya naik kelas sudah 2-3 tahun misalnya, penyuluh bisa melihat aspek apa yang lemah dikelompok tersebut dan seceratnya bisa melakukan pembinaan pada aspek/unsur dimaksud.

Kalau kita berbicara dalam tataran yang ideal, maka kita harus berbicara waktu yang cukup untuk penggirim opini masyarakt perikanan bahwa kelembagaan itu penting, sumberdaya perikanan tersedia dan SDM pengelola mampu dan bisa dilatih. Munculnya kelompok abal-abal sebagai pada sisi lain merupakan tantangan terhadap idelaisme penyuluhan yang selama ini kita bangun bersama. Pelaku utama perlu penyadaran secara bertahap agar proses pembentukan kelompok tidak instan dan menghasilkan kelembagaan yang dinamis dan dapat mencapai tujuan kelompok. Tidaklah berlebihan kalau penumbuhan kelompok diawali dengan inisiasi selama 6-12 bulan, baru proses pembentukan atas inisiatif dari calon kelompok.

Klasifikasi kelompok menjadi 3 kelas/tingkatan mengisyaratkan sebuah keinginan bahwa kelompok pelaku utama pada kelas pemula memerlukan kualifikasi yang cukup berat untuk naik level menjadi Madya dengan nilai minimal 350 point (lihat Kepmen KP Nomor 14 Tahun 2012 Tentang Pedoman Umum Penumbuhan an Pengembangan Kelembagaan Pelaku Utama Perikanan). Ada harapan yang cukup besar untuk mendorong/melakukan pembinaan pada setiap jenjang kelas kelompok agar kelembagaan tersebut memberikan manfaat yang besar bagi organisasi maupun kegiatan usaha yang dikembangkan.

Sebagai penyuluh perikanan layaknya memahami secara utuh bagaimana peran dan fungsi kelompok bukan hanya teori yang mudah kita hafalkan tetapi tercermin dari langkah-langkah pembinaan dilapangan. Pengambilan keputusan dalam menentukan metoda atau materi penyuluhan yang disampaikan menjadi bagian tidak terpisahkan dari pembentukan opini bahawa kelompok merupakan organisasi yang berfungsi dengan baik dan menjadi tolak ukur kegiatan lain dalam penyuluhan. Apabila diilustrasikan kembali dengan proses belajar anak-anak sekolah dasar maka semua itu dilakukan dengan pertimbangan perkembangan anak. Anak yang tidak layak naik kelas, makan akan ditinggal dan harus mengulang fase sebelumnya. Maka menggiring opini bahwa kelompok merupakan media pemerintah dalam memberikan bantuan jangan lagi mengemuka apalagi keluar dari seorang penyuluh yang suaranya didengar pelaku utama. Sangat miris dengan kondisi seperti itu dan mari kita ubah mindset agar stigma negatif terhadap kelompok justru menjadikan semangat bagi penyuluh dalam mendapingi kelompok layaknya seorang guru mendampingi murid-muridnya pada pendidikan formal.

Catatan: tulisan ini merupakan pendapat pribadi dan bukan mengatasnamakan Instansi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s