APLIKASI HERBAL SGF BIOLIZER DAN SGB BIONUTREN PADA BUDIDAYA PATIN PASUPATI DI TULUNG AGUNG


  • Persiapan Kolam
  1. Pengeringan dan Sterilisasi Kolam

            Kegiatan pengeringan dan sterilisasi kolam dilakukan dengan cara membersihkan kotoran atau sisa-sisa bahan organik yang ada dipermukaan dasar dan dinding kolam dengan menggunakan sikat kawat dan dibilas sampai bersih, setelah bersih dari semua limbah kotoran dilakukan pengapuran dengan cara disaput merata diseluruh permukaan dasar dan dinding kolam dan dibiarkan sampai kering dalam waktu 5 hari. hal ini dilakukan untuk mensterilkan permukaan kolam dari virus, bakteri, jamur dan bahan berbahaya lain yang ada dilingkungan kolam

  1. Fermentasi Air Kolam

            Kegiatan fermentasi air kolam sebelum proses budidaya merupakan suatu keharusan dalam system budidaya ikan patin pasupati di ACIPTA Tulungagung. hal ini dilakukan untuk mengkondisikan media budidaya ikan patin Pasupati memiliki unsure kimia dan biologi yang seimbang dan stabil serta untuk penumbuhan pakan alami dengan system semi bioflog.

            Langkah kerja fermentasi kolam dengan ukuran 9 x 10 x 1,3 m3 adalah dengan mengisi air dengan kedalaman 20 cm kemudian ditambahkan pupuk NPK 9 kg, garam 90 kg, molasi 9 liter, probiotik Biolizer 90 ml, dolomit 45 kg lalu sambil diaduk sehari sekali dubuarkan selama 1 minggu atau menyesuaikan sambil diamati sampai muncul fitoplankton, zooplankton, bioflog dan kehidupan seperti moina, daphnia, jentik dan jasad renik lainnya. Setelah itu air dinaikkan hingga kedalaman 1 m sambil diberi penambahan SGB Biolizer sebanyak 90 ml dan siap ditebari bibit. Untuk lebih jelas bisa dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Persiapan Kolam

  1. Pengukuran Kualitas Air

            Pengukuran kualitas air harus dilakukan sebelum penebaran bibit ikan patin pasupati. adapun parameter kualitas air yang diukur adalah suhu, pH, salinitas, DO, H2S dan NH3. hal ini dimaksudkan kondisi air kolam betul-betul sesuai dengan kebutuhan yang diinginkan untuk kelangsungan hidup ikan patin Pasupati.

  • Penebaran Bibit

Penebaran benih ikan patin memerlukan langkah-langkah yang harus dipenuhi antara lain pemilihan benih yang sehat dan berkualitas, adapun ciri-ciri benih yang baik :

  1. Benih berenang secar teratur dan gesit melawan arus
  2. Nafsu makan tinggi dan rakus
  3. Ukuran seragam
  4. Tidak ada bibit ikan patin Pasupati yang menggantung dipermukaan
  5. Tidak terdapat luka atau kelainan fisik
  6. Permukaan kulit bersih bebas dari perasit atau jamur

Lebih jelasnya bisa dilihat Pada Gambar

Dalam budidaya patin Pasupati kali ini kolam ukuran 9 x 10 x 1,3 m3 ditebar benih patin sebanyak 1.200 ekor ukuran gelondongan dengan panjang 17-18 cm berat rata-rata 70 gram dengan kepadatan 13 ekor/m3 . Penebaran bibit dilakukan pada saat pagi hari dengan system aklimatisasi supaya benih patin Pasupati tidak mengalami stress diakibatkan perubahan ekosistem. Cara melakukan aklimatisasi adalah dengan meletakkan kantong packing ikan yang berisi benih ikan patin pasupati kedalam kolam didiamkan selama 10 menit sambil memasukkan air kolam kedalam kantong secara perlahan kemudian sedikit demi sedikit benih ikan patin akan keluar kantong dan masuk kedalam kolam dengan kondisi yang tidak stress.

  • Pengelolaan Pakan

Pakan yang digunakan dalam budidaya ikan patin pasupati menggunakan pakan pabrikan dengan kadar protein yang tidak terlalu tinggi hanya berkisar 15 % dengan tujuan harga pakan yang tidak terlalu tinggi tetapi hasil bisa maksimal.

Untuk memberikan pakan perlu adanya perlakuan proses fermentasi dengan menggunakan probiotik SGB Bionutren. kelebihan proses Fermentasi pada pakan adalah sebagai berikut:

  1. Menaikkan nilai nutrisi pada pakan ikan sehingga pertumbuhan ikan bisa lebih cepat
  2. Pakan yang telah difermentasi lebih mudah dicerna dan diserap sehingga kotoran yang dihasilkan oleh ikan lebih sedikit
  3. Pakan yang terfermentasi lebih menimbulkan efek kenyang kepada ikan, sehingga pemberian pakan lebih sedikit daripada kondisi normalnya.
  4. Sisa-sisa pakan yang tidak termakan oleh ikan lebih sedikit menimbulkan polusi pada air.

Adapun proses pembuatan pakan pabrikan (pellet) fermentasi seperti tampak pada Table berikut:

Table 1. Bahan Fermentasi Pakan Pabrikan (Pellet)

No. BAHAN-BAHAN TAKARAN
1. Pakan pabrikan (Pellet) 2.5 kg
2. Molase/tetes 10 ml
3. SGB Bionutren 10 ml
4. Air 500 ml

Cara Pembuatan

Semua bahan dicampur hingga merata dan difermentasi dalam kantong plastik selama 1 hari dan pakan siap diberikan. Sebaiknya pellet fermentasi yang dibuat harus bisa habis dalam waktu maksimal 2 hari. Dalam pengujian, pakan pabrikan (pellet) yang dilakukan fermentasi akan mengalami kenaikkan protein sebanyak 2-3% dan kenaikkan protein tertinggi terjadi pada fermentasi pakan pellet selama 3 hari dan setelah itu terjadi penurunan protein. Untuk lebih jelas mengenai fermentasi pakan pabrikan seperti tampak pada Gambar 3 .

Gambar 3. . Pellet Fermentasi

Pemberian pakan dengan menggunakan pellet fermetasi dilakukan sebanyak 2 kali sehari (pagi dan sore) diberikan secara adlibitum (secukupnya) dengan kisaran 5 % dari biomas, akan tetapi dalam budidaya patin Pasupati dengan metode ini pakan perhari tidak sampai 5% karena dengan proses fermentasi membuat efek cepat kenyang pada ikan patin Pasupati yang dibudidayakan, jadi ada efisiensi dalam tingkat penggunaan pakan.

  • Pengelolaan Kualitas Air

Untuk pengelolaan kualitas air adalah dengan penambahan probiotik SGF Biolizer secara berkala setiap 5 hari sekali, atau apabila terdapat indikasi adanya bau pada kolam maka bisa diberikan probiotik SGF Biolizer kembali. Agar penggunaan probiotik SGF Biolizer bisa lebih murah, maka bisa dilakukan perbanyakan probiotik SGF Biolizer secara manual, yaitu dengan cara menyiapkan drum plastik dengan kapasitas 100 liter, yang berwarna agak gelap. Kemudian drum tersebut disi dengan probiotik SGF Biolizer sebanyak 1 liter ditambah dengan tetes gula/molase sebanyak 5 liter, susu skim 1 kg, buah markisa/nanas/belimbing 3 kg yang sudah dihaluskan terlebih dahulu, lalu diisi dengan air bersih sampai penuh kemudian diaduk hingga merata, drun ditutup dengan rapat dan diletakkan ditempat yang teduh tidak terkena sinar matahari langsung. drum didiamkan selama 15 hari. Setelah 15 hari, probiotik di dalam drum bisa digunakan untuk pemeliharaan kualiatas air pada kolam pembesaran ikan patin Pasupati dengan dosis pemberian 20 ml/m3 dan waktu pemberian sebaiknya pada saat sore hari.

  • Hama dan Penyakit

Hama pada ikan Patin Pasupati adalah binatang tingkat tinggi yang langsung mengganggu kehidupan patin Pasupati. Di alam bebas dan di kolam terbuka, hama yang sering menyerang ikan patin antara lain: berang-berang, ular, katak, burung, musang air.

Di pekarangan, terutama yang ada di perkotaan, hama yang sering menyerang hanya katak dan kucing. Pemeliharaan ikan patin Pasupati secara intensif tidak banyak diserang hama.

            Penyakit yang menyerang pembesaran ikan patin Pasupati antara lain:

  1. Penyakit karena bakteri Aeromonas hydrophilla dan Pseudomonas hydrophylla, Gejala kulit kesat dan timbul pendarahan, bernafas megap-megap di permukaan air.
  2. Panyakit karena bakteri Mycobabacterium fortoitum, Gejala perut bengkak Posisi berdiri di permukaan air, berputar-putar atau miring-miring, bintik putih di sekitar mulut dan sirip
  3. Penyakit karena jamur/cendawan Saprolegnia, Gejala ikan ditumbuhi sekumpulan benang halus seperti kapas, pada daerah luka atau ikan yang sudah lemah, menyerang daerah kepala tutup insang, sirip, dan tubuh lainnya
  4. Penyakit karena parasit bintik putih dan gatal (Trichosiniasis dan ichthyophthirius multifilis ), Gejala ikan yang diserang sangat lemah dan selalu timbul dipermukaan air, terdapat bintik-bintik berwarna putih pada kulit, sirip dan insang, ikan sering menggosok-gosokkan tubuh pada dasar atau dinding kolam.
  5. Penyakit karena cacing Trematoda (Gyrodactilus dan Dactylogyrus), Gejala insang yang dirusak menjadi luka-luka, kemudian timbul pendarahan dan pembengkakan yang mengakibatkan akibatnya pernafasan ikan terganggu
  6. Penyakit karena parasit lintah Hirudinae, Gejala pertumbuhannya lambat, karena darah terhisap oleh parasit, sehingga menyebabkan anemia/kurang darah

Cara pengobatan ikan patin yang terserang penyakit :

  • Ikan dipuasakan selama 3-5 hari,
  • Tidak melakukan pergantian air secara sebagian atau total, pergantian air membuat ikan lebih stress dan mempercepat proses kematian.
  • Pemberian antibiotik alami seperti Mengkudu untuk mengobati ikan patin
  • Pemberian probiotik SGF Biolizer secara berkala pada kolam
  • Apabila dalam waktu 5 hari kondisi ikan belum membaik bisa menggunakan obat-obatan yang telah terdaftar atau sudah memiliki ijin dari Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP)
  • Pemanenan

Pemanenan ikan patin dilakukan saat usia patin 131 hari sejak dari penebaran jika pertumbuhannya normal, berat rata-rata setiap ekornya adalah 400 gr. Ukuran ini sangat ideal untuk dipasarkan. Sebagian besar konsumen dan rumah makan yang mengolah masakan ikan patin lebih menyukai ukuran patin yang tidak terlalu kecil ,tapi juga tidak terlalu besar. Proses pemanenan sebaiknya dilakukan pada pagi hari atau sore hari agar tidak terlalu panas. Seperti tampak pada Gambar 4

 

 

 

 

 

 

Gambar 4 . Panen Ikan Patin Pasupati

EVALUASI KEGIATAN

            Dari kegiatan budidaya ikan patin Pasupati dengan aplikasi probiotik SGF Biolizer dan SGF Bionutren menunjukkan hasil yang sangat signifikan dalam efisiensi penggunaan pakan dan tingkat kehidupan (SR) ikan patin pasupati yang dilakukan oleh APCITA (Asosiasi Pengusaha Catfish Indonesia)Tulungagung.

            Adapaun perbandingan yang sangat mencolok antara yang menggunakan aplikasi probiotik SGF Biolizer dan SGB Bionutren dengan yang tidak menggunakan (data tidak terlampir) bisa dilihat dalam Table berikut:

Tabel 2. Perbandingan Aplikasi probiotik SGF Biolizer dan SGB Bionutren Pada Budidaya Ikan Patin Pasupati

No. KETERANGAN APLIKASI SGF BIOLIZER & SGB BIONUTREN TANPA APLIKASI PROBIOTIK
1. Luas Kolam 9 x 10 x 1,3 m3 9 x 10 x 1,3 m3
2. Tebar Benih 1.200 ekor 1.200 ekor
3. Lama Pemeliharaan 131 hari 131 hari
4. Survival rate (SR) 90 % 85 %
5. Jumlah Pakan (15 %) 480 kg 540 kg
6. Berat Ikan 432 kg 357 kg
7. FCR 1: 1,1 1 : 1,5
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s